3 Alasan Saya Kurang Setuju Pemimpin Tim HARUS Laki-laki, Kapok Dipimpin Seorang Individualis dan Inkompeten
Saya beberapa kali mendengar anggapan bahwa pemimpin tim sebaiknya laki-laki. Alasannya, laki-laki dianggap memiliki kodrat sebagai pemimpin karena suatu hari ia juga akan memimpin keluarganya.
Sementara itu perempuan dianggap kurang cocok memimpin karena dinilai lebih banyak perasaan dibandingkan logika. Bahkan, ada anggapan bahwa pemimpin perempuan akan kesulitan membawa timnya mencapai tujuan mereka karena dianggap emosional dalam mengambil keputusan.
Pemimpin Tim Harus Laki-laki?
Saya kurang setuju dengan statement itu. Menurut saya, kemampuan seseorang dalam memimpin tim tidak sesederhana ditentukan sesuai gender.
Sebab sebuah tim membutuhkan pemimpin yang mampu memimpin, bukan sekedar seseorang yang dianggap pantas memimpin sesuai gendernya
Saya memiliki pengalaman yang membuat saya kapok dipimpin oleh orang yang individualis dan inkompeten. Alasannya bukan karena dia laki-laki. Tetapi karena ketidakmampuannya dalam memimpin tim.
Dari pengalaman itu, saya jadi mempertanyakan satu hal, mengapa setiap kali memilih ketua tim, masih ada orang yang beranggapan bahwa pemimpin harus laki-laki dengan alasan kelak mereka akan memimpin keluarganya?
Apakah anggapan tersebut kemudian membuat seorang pemimpin merasa bahwa dirinya selalu lebih tahu, hingga keluhan dan masukan dari anggota tim dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dibicarakan?
Get Sonya Mawardani’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Saya jadi berpikir, mengapa hal tersebut selalu menjadi alasan, padahal antara pekerjaan atau organisasi dengan urusan rumah tangga berada di ranah dan tujuan yang berbeda.
Pemimpin Di Lingkup Keluarga Berbeda Dengan Pemimpin Di Lingkup Pekerjaan atau Organisasi
Begini, rumah tangga atau keluarga itu hubungannya personal dan bersifat jangka panjang yang mencakup ekonomi, pengasuhan, emosional dan tanggung jawab antar keluarga.
Sementara tim kerja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu seperti menyelesaikan proyek, mencapai target, menghasilkan produk, memberikan pelayanan, dan sebagainya.
Dalam sebuah tim, pemimpin berhadapan dengan orang yang memiliki karakter, keahlian, dan tanggung jawab yang berbeda. Ia harus bisa membagi pekerjaan, membangun komunikasi, menyelesaikan konflik, mengambil keputusan, serta menggerakkan anggotanya untuk mencapai tujuan bersama.
Dasar hubungannya pun juga berbeda. Anggota keluarga terikat oleh hubungan keluarga, sementara anggota tim kerja masuk dengan jabatan, keahlian, tanggung jawab dan kewenangan profesional masing-masing. Seorang pemimpin tim bahkan bisa memimpin orang yang lebih tua atau lebih ahli daripada dirinya. Ia perlu mendapat kepercayaan melalui kompetensi, komunikasi, dan perilakunya.
Saya tidak memperdebatkan bagaimana laki-laki dan perempuan tentang perannya dalam rumah tangga. Yang saya persoalkan adalah ketika konsep kepemimpinan dalam keluarga dibawa begitu saja ke dunia kerja atau organisasi, kemudian dijadikan alasan bahwa laki-laki harus menjadi pemimpin.
Saya tidak menanyakan dia perempuan atau laki-laki, tapi apakah dia mampu membawa orang-orang dalam timnya bergerak menuju tujuan bersama.
Saya tidak bilang bahwa perempuan lebih baik daripada laki-laki ataupun sebaliknya. Tetapi, yang saya tekankan adalah kepemimpinan ditentukan oleh seseorang yang dapat membangun tim, menggerakkan anggotanya, dan mengarahkan mereka menuju tujuan bersama.
Pada akhirnya, sebuah tim tidak membutuhkan pemimpin yang dipilih hanya karena dianggap sesuai dengan stereotip gender. Sebuah tim membutuhkan orang yang memang mampu memimpin.







