Sitemap

1610

2 min readNov 16, 2025

--

Ia muncul dalam hidupku dengan cara yang sederhana, namun sulit untuk kulupakan. Bukan karena ia melakukan hal-hal besar, bukan pula karena ia berusaha tampil menonjol. Justru sebaliknya, ia adalah tipe laki-laki yang keberadaannya tenang, dan mampu mencuri perhatian tanpa perlu mencoba.

Aku mengenalnya bukan dari perkenalan langsung, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil yang muncul begitu saja tanpa aba-aba. Awalnya hanya wajah asing yang lewat di lorong kampus, lalu menjadi seseorang yang tanpa sadar mulai kuperhatikan lebih lama. Dari caranya berjalan, caranya merapikan rambut, sampai caranya diam seolah dunia tidak sedang menuntut apa-apa darinya.

Kesederhanaannya yang anehnya membuat dia berbeda.

Ia bukan orang yang banyak bicara, tatapannya selalu tampak seperti seseorang yang memahami lebih dari yang ia tunjukkan. Ada kedewasaan yang tidak dibuat-buat, ketenangan yang seperti datang dari tempat yang jauh lebih dalam dibandingkan orang seusianya.

Mungkin itu yang membuatku tertarik dengannya, ia tidak berusaha menjadi siapa pun, ia hanya menjadi dirinya. Sederhana, dan memikat.

Setelah aku mengetahui bahwa ia adalah anak band, itu sudah menjelaskan banyak hal. Cara ia berjalan dengan menggunakan earphone kabelnya. Cara ia memejamkan mata sebentar saat mendengarkan musik pun menjadi potongan kecil yang semakin menambah gambaran tentang dirinya.

Ketika aku pertama kali melihatnya di atas panggung, semuanya berubah. Ada versi dari dirinya yang tidak pernah kulihat saat ia hanya berjalan melewatiku di kampus. Tubuhnya bergerak mengikuti dentuman musik, jemarinya luwes menari di atas senar bass, dan sorot matanya… ah, sorot itu berbeda. Seperti cahaya yang hanya muncul ketika seseorang sedang melakukan hal yang benar-benar ia cintai.

Ia tampak hidup.
Benar-benar hidup.

Get –☆celaeno’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Di bawah lampu panggung, ia tidak banyak tersenyum, tapi caranya menikmati musik adalah cara paling jujur yang pernah kulihat dari seorang laki-laki. Tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, hanya… asik. Tenang. Mengalir.

Itulah yang paling membuatku kagum dengan dia. Ia tidak perlu menjadi sorotan. Saat ia berada di sana, di tengah suara gitar dan sorak kecil penonton, aku hanya bisa melihatnya.

Alasan lain yang membuatnya semakin tak mudah kulupakan, ia mengingatkanku pada papa. Genre musik yang ia sukai, alat musik yang ia mainkan, sampai cara ia menunduk sedikit saat tertawa. Ada kemiripan yang tidak bisa kuabaikan, semacam gema kecil dari seseorang yang pernah mengisi hidupku dengan hangat.

Itu sebabnya ia terasa dekat, meski jarak antara kami sebenarnya jauh. Sesuatu dari dirinya yang membuatku merasa aman, seperti rumah yang tidak pernah benar-benar kutinggalkan.

Ia bukan laki-laki paling sempurna.
Tidak paling rupawan.
Tidak paling populer.

Tapi ia punya sesuatu yang jarang dimiliki orang lain, ketulusan yang muncul dari hal-hal kecil, kejujuran yang terlihat dari caranya menjalani hari, dan ketenangan yang membuatnya tampak bertahan meski dunia tidak selalu baik.

Kadang aku berpikir, mungkin dunia butuh lebih banyak laki-laki seperti dia.

Laki-laki yang tidak perlu berteriak untuk didengar.
Yang tidak perlu menonjol untuk diperhatikan.
Yang tidak perlu menjadi apa pun selain dirinya sendiri.

Entah sejak kapan, aku menyadari bahwa aku hanya ingin melihatnya hidup dengan caranya, di panggung kecil, di lorong kampus, atau bahkan hanya berjalan pelan dengan earphone di kedua telinganya.

Karena pada akhirnya, ia adalah cerita yang bisa ditulis panjang… bahkan tanpa perlu satu kata pun keluar dari mulutnya.

--

--

–☆celaeno
–☆celaeno

Written by –☆celaeno

in the right eyes, you'll be art.