The Hummingbirds
Pertemuan dapat terjadi melalui hal aneh yang sangat misterius, acak, begitu tidak terduga. Mereka bisa saja datang ketika kita paling tidak mengharapkan, bahkan jika kita sedang mencari. Pandangan sekilas ke seberang ruangan, pertemuan kebetulan orang asing, atau perkenalan yang tidak disengaja melalui seorang teman, lalu memicu percikan — menciptakan riam peristiwa yang memuncak pada dua orang yang saling jatuh hati.
Serumit jika dipikirkan namun sesederhana yang dibayangkan apabila benar terjadi.
— — -
Aroma khas eugenol dan alkohol pembersih menguar, bertarung dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Dhista berdiri di depan ruang konsulen, manarik napasnya panjang kemudian mengetuk pintu tanda dirinya siap melangkah masuk mengajukan indikasi kasus kerjanya pada shift pagi ini. Namun saat berada di pintu masuk, dirinya terpaku. Tangannya meremas papan board berisi lembar format kerja pasien dengan sangat erat, seolah-olah kertas tebal itu mampu menyerap keringat dingin yang mulai membanjiri telapak tangannya. Sementara layar ponselnya yang menyala menampilkan ruang obrolan WhatsApp dengan kontak bernama: drg. Nino (BM Residen).
Matanya kembali menyorot layar ponsel. Riwayat pesan malam sebelumnya (pukul 21.45) tertulis:
Dhista: Selamat malam Dokter, izin mengirimkan indikasi rencana kerja cabut reguler untuk besok pagi dengan pasien sebagai berikut…
Dhista: Anjir lah ini residen satu kenapa ga bales indikasi gw, kayak orang paling sibuk sedunia aja. (Pesan ini bertanda centang dua biru)
Dhista: Dihapus untuk semua orang
Dhista: Mohon maaf sebesar-besarnya Dokter, salah kirim. Maksud saya, berikut saya kirimkan foto klinis dan radiograf pasien.
Nino: oke.
Dhista memejamkan mata rapat-rapat, merutuki jemarinya yang bertindak lebih cepat daripada otaknya saat mengeluh pada temannya, yang berujung salah kirim ke nomor sang residen yang saat ini berada tepat di depannya.
‘Mati lo, Dhis. Tamat.’ Tiga setengah tahun kuliah teoretis, tumbang dalam satu detik karena jarinya yang bergerak lebih cepat dari otaknya. Kalimat ‘dihapus untuk semua orang’ itu justru seperti seruan bagi residen seperti drg. Nino untuk membaca lewat notification log. Dan sekarang Dhista harus menghadapi kebodohan yang telah dirinya perbuat semalam.
Get Adelia Tan’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Dhista menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah remah. Ia merapikan snelli-nya yang sedikit kusut, kembali mengetuk pintu kayu berlapis cat putih yang hampir mengelupas itu dengan buku jarinya — gemetar.
“Masuk.”
Di sudut meja konsul, drg. Nino sedang duduk tegak di meja kerjanya. Jemarinya menari tenang di atas keyboard laptopnya, sementara matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis fokus memindai gambaran panoramik foto rontgen pasien pada layar monitor. Wajahnya adalah perpaduan anatomi yang sempurna: garis rahang yang tegas dan alis tebal yang bertaut karena konsentrasi. Di samping laptopnya, sebuah ponsel tergeletak dengan layar yang sesekali berkedip.
Dhista berdiri dua langkah di depan kursi Nino. Tangannya meremas clip tablet berisi indikasi pasien seolah benda itu adalah pelampung darurat di tengah danau.
Nino tidak menoleh, namun gerak jemarinya berhenti. Atmosfer ruangan mendadak beralih, dipenuhi ketegangan yang pekat.
“Gimana dek?”
Dhista tersentak. Jantungnya serasa mencelos ke lambung. Konfirmasi tak terbantahkan: Nino membaca umpatannya.
Dengan lutut yang lemas Dhista melangkah maju, mengambil posisi di sebelah kiri kursi Nino. Langkah kakinya yang goyah memangkas jarak. Karena meja yang penuh dan posisi kursi Nino yang agak menyudut, Dhista terpaksa membungkuk sedikit untuk menyamakan pandangan dengan layar komputer. Ia condong ke depan, sedikit membungkuk untuk mendekatkan posisinya demi memperlihatkan lembar indikasi yang sedari tadi didekapnya.
Jarak mereka terpangkas habis. Hanya tersisa ruang fana sekitar lima sentimeter dari bibir Dhista ke daun telinga sebelah kiri sang residen.
Di tengah rasa takut yang mencekik, indra penciuman Dhista justru berkhianat. Alih-alih bau antiseptik klinik non aerosol yang terhirup, hidungnya justru disambut oleh perpaduan aroma maskulin yang begitu beradab. Dhista tau, sudah terlampau sering mengharum baunya. Tipikal semprotan bergamot mewah, berpadu dengan segarnya pendingin ruangan dan sedikit tautan aroma vanilla ambergris yang hangat — menguar dengan presisi yang mutlak. Namun kali ini sumpah berbeda. Ruangan kerja ini belum tercampur terik dan keringat di siang hari, membuat impresi segala bentuk wewangian itu terasa lebih hangat dan intens.
“I-izin, Dokter. Melaporkan pasien Nyonya Sumiati, usia empat puluh lima tahun, dengan… dengan…”
Dhista kehilangan kata-katanya. Dari jarak sedekat ini, rasa takutnya bertubrukan telak dengan visual di depannya. Ia bisa melihat garis rahang Nino yang tegas, bulu mata yang lentik tertimpa cahaya lampu ruangan, dan bagaimana seuntai rambut depannya jatuh dengan sangat tidak sopan namun estetis di dahinya.
Dadanya bergemuruh. Kombinasi rasa bersalah, panik, dan pesona visual di depannya membuat detak jantung Dhista mendadak melompat dari ritme sinus normal menjadi takikardia yang liar.
— — -








