Sitemap

Kunci yang Belum Waktunya

1 min readSep 25, 2026

--

pinterest

“Aku kasihan samamu,” katanya, pelan, seolah itu kebaikan.
“Kamu itu kurang beruntung.”

Aku benci dikasihani. Rasanya seperti dipeluk oleh orang yang sebenarnya sedang menjauh.

Tapi kalimat itu tidak pergi. Ia menginap di kepalaku semalaman, dan pagi harinya aku bangun dengan satu pengakuan yang berat:
mungkin, ia benar.

Get syatuan ᯓᡣ𐭩’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Aku tahu ada cahaya dalam diriku,
orang-orang bilang begitu, tentang wajah, tentang isi kepala, tentang gelar yang kubawa pulang dengan tangan gemetar karena bangga.

Tapi entah kenapa, dunia selalu punya cara untuk membuatku menunggu di luar pintu, sementara yang lain dipersilakan masuk.

Aku sudah berhenti menghitung berapa kali harap itu kutanam,
lalu kupanen sebagai luka.

Aku bertanya pada diriku sendiri, di malam-malam sepi,
Apa yang salah dariku? apa aku pernah menyakiti seseorang sampai semesta pun ikut menutup pintu untukku? atau memang belum waktuku?
bukan karena aku kurang, tapi karena jalanku sedang memutar, entah menuju ke mana.

Karena aku tahu, jauh di dalam, ada banyak hal baik yang kubawa.
Hanya saja, semua itu sering tenggelam di bawah reruntuhan percobaan yang gagal, satu demi satu, tanpa sempat kurayakan yang berhasil.

Jadi mungkin aku bukan kurang beruntung.
Mungkin aku hanya terlalu sering mengetuk pintu yang salah, sementara pintu yang benar untukku masih menyiapkan kuncinya, diam-diam, menungguku sampai di sana.

--

--