restless and anxious“Syalom”
Mark yang sedang memangku anak bungsunya menoleh ke asal suara dan mendapati Caca dan Mavi yang baru saja pulang
“Mamaaaaa!!!” girang Gavi berlari ke arah Caca
“Hai, Gavi udah mandi?”
Gavi mengangguk, “Udah mama cama papa cama Eavi” jawabnya
Caca mengangguk dengan senyum, “Mavi mandi sana, panggilkan abang” suruh wanita itu, Mavi mengangguk lalu pergi memanggil Kavi lalu ke kamarnya.
Caca duduk disebelah Mark, memandang Eavi yang terlihat lemas
“Kenapa anaknya? sakit?” tanya Caca menempelkan tangannya pada kening anak perempuannya itu
Mark menggeleng, “Abis nangis digangguin sama Kavi tadi” jawab Mark membuat sang istri berdecak
“Sini sama mama” ajak wanita itu pada Eavi namun anak itu menggeleng semakin memeluk leher sang papa erat. Ya Caca gak heran, Eavi sangat lengket dengan papanya.
“Kau udah jadi makan?” tanya Caca pada Mark sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tas
Mark mengangguk, “Udah”
“Makan apa?” tanya Caca menyalakan benda pipih ditangannya
“Tadi dipesenin ayam gepuk sama abang tapi gak enak, asin banget” jawab Mark
“Masih lapar?”
“Ya enggak tapi gak tau nanti, itu bawa apa?” tanya Mark memandang bawaan Caca yang diletak diatas meja
“Donat sama cake untuk abang, kau gak suka itu manis” ucap Caca
Tak lama Kavi datang.
“Itu donat sama cakenya bang” ucap Caca
Kavi langsung tersenyum, “Mauliate” ucapnya lalu membukanya, Gavi yang melihat itu langsung mendekat pada sang abang
“Apa itu abang?” tanya bocah itu
“Donat, adek mau?” tanya Kavi, Gavi mengangguk
“Iyyah!!”
“Okay, wait yah”
Caca memandang layar ponselnya, membaca deret pesan yang ditampilkan dilayar benda pipih itu, wanita itu mengalihkan pandangannya pada Kavi yang tengah sibuk dengan donatnya bersama Gavi
Caca berdecak lalu mematikan ponselnya, Mark disebelahnya mengernyit bingung melihat istrinya seperti itu
“Kanapa sayang?” tanya lelaki itu, Caca menggeleng.
“Mandi dulu lah, Eavi ayo mandi sama mama yuk” ajak Caca namun Eavi menggeleng, turun dari pangkuan Mark lalu beralih duduk kepangkuan Kavi yang duduk dikarpet bulu
“Adek mau?” tawar Kavi, Eavi mengangguk.
Caca meninggalkan ruang tengah, diikuti Mark yang juga ikut beranjak.
Get Tarshinwp’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
…
Mark menutup pintu kamar memandang istrinya yang kini berdiri membelakanginya sambil kembali memandang layar ponselnya
Mark mendekat lalu memeluk Caca membuat wanita itu langsung menoleh
“Kamu kenapa sayang?” tanya Mark
Caca mendengus kecil lalu menunjukkan layar ponselnya pada Mark, pesan yang Cia kirimkan padanya. Mark pun membacanya.
Lelaki itu mematikan ponsel istrinya lalu meletakkannya diatas meja rias
“Cia tanya doang yang” ucap lelaki itu
Caca menggeleng, “Aku gak suka dia nanya-nanya Kavi”
Mark menghela nafas lalu memeluk istrinya itu dari belakang
“Pikiran kamu justru akan membangun jarak bahkan tembok antara kamu sama Cia, gak boleh kayak gitu sayang, Cia juga udah janji kan sama kita? aku bilang apa? gak akan ada yang bisa ngambil apa yang udah jadi punya kamu, aku juga gak akan biarin itu terjadi” ucap Mark
Caca menarik nafas lalu menghembuskannya, wanita itu meraih ponselnya, kemudian membuka pesan dari saudara kembarnya itu dan mengetikkan pesan balasan perihal apa yang membuat Kavi merajuk.
“Udah” ucapnya setelah mengirim pesan itu, mematikan ponselnya dan kembali meletakkannya diatas meja rias
Mark tersenyum, “Good”
Untuk beberapa saat keduanya diam sampai Mark yang menyisihkan rambut Caca kesisi sebelahnya lalu menempelkan bibirnya dileher Caca yang terekspos. Caca tidak melayangkan protes sama sekali dan hanya membiarkan saja, pikirannya masih pada pesan yang Cia kirimkan padanya
“Masih marah sama aku sayang?” tanya lelaki itu menciumi leher jenjang istrinya itu, Caca menggeleng sebagai jawaban
“Kita baikan?” tanya Mark, Caca mengangguk
“Aku minta maaf yah sayang” pinta Mark, lagi Caca mengangguk, tangan wanita itu mengelus tangan Mark yang melingkar dipinggangnya
Akhirnya.. batin sang suami senang.
Mark merubah posisi Caca agar menghadap kepadanya
“Aku sedih banget ayang kalo kita berantem, anak-anaknya juga sekarang udah paham banget kalo papa sama mama nya lagi berantem, mereka ikutan sedih”
“Makanya kau jangan banyak tingkah” decak Caca
Mark mengangguk, tidak mau protes apalagi melawan, karena takut mereka akan ribut lagi.
“Iya, maafin papa yah mama” ucap lelaki itu, Caca mengangguk
Mark tersenyum senang, menarik Caca lebih dekat padanya lalu menempelkan bibir keduanya, untuk beberapa saat keduanya menikmati ciuman berbaikan itu, sampai-
“Omak! sorry ges sorry gak sengaja liat”
Ciuman keduanya langsung terlepas, keduanya langsung memandang kearah pintu kamar yang tidak Mark tutup tadi, disana Mavi menyengir salah tingkah
“Lanjutin aja ges, saya tadi mau minjem charger aja” ucapnya mengambil segera charger milik sang papah yang terletak diatas meja nakas
“Maaf yah ges, izin keluar yah, lanjutin aja ges” ucap Mavi lalu pergi dari sana
Mark terkekeh, “Day one kepergok anak sendiri yang” ucapnya
“Makanya tutup pintu” decak Caca



