<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Booknotations - Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Kumpulan ulasan buku, reviu buku, dan pengalaman penulis ketika membaca buku. - Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/booknotations?source=rss----944c651f4db8---4</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/proxy/1*TGH72Nnw24QL3iV9IOm4VA.png</url>
            <title>Booknotations - Medium</title>
            <link>https://medium.com/booknotations?source=rss----944c651f4db8---4</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2026 17:25:34 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/feed/booknotations" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Dunia Hanya Panggung Sandiwara Bernama Permainan Status]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/dunia-hanya-panggung-sandiwara-bernama-permainan-status-cf23d4671eed?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cf23d4671eed</guid>
            <category><![CDATA[november]]></category>
            <category><![CDATA[ulasan-buku]]></category>
            <category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
            <category><![CDATA[review-buku]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Luthfiyyah Damayani]]></dc:creator>
            <pubDate>Wed, 04 Nov 2026 06:50:28 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-11-04T06:50:24.719Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Buku The Status Game karya Will Store</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*9jDu7DrGGvUocynV.jpg" /><figcaption>Credit: <a href="https://www.harpercollins.com/products/the-status-game-on-social-position-and-how-we-use-it-will-storr?variant=40160558514210">Harpercollins Publisher</a></figcaption></figure><p>“Beli panci ini, pasti tetangga bakal iri.”</p><p>“Daster ini bikin kamu secantik [artis A].”</p><p>“Wah, Pak, kalau beli mobil ini, pasti makin gagah dan cewek-cewek pada nempel.”</p><p>Familier dengan strategi marketing seperti ini? Kenapa ya cara seperti ini cukup efektif, meskipun sebenarnya hanya omong kosong? Kenapa kita menjadikan barang-barang sebagai penanda untuk meningkatkan status sosial? Kenapa kita ingin terlihat memiliki status sosial yang relatif lebih tinggi dari tetangga atau orang-orang di sekitar kita?</p><p>Itulah menariknya membaca buku <em>The Status Game</em> yang ditulis oleh Will Storr, seorang jurnalis sekaligus mantan fotografer. Buku ini dirilis pada 2021. Mengupas keinginan mendasar manusia, yaitu menjadi lebih unggul dari orang lain, yang didasarkan pada kecenderungan alamiah untuk selalu membandingkan posisi relatif kita terhadap orang-orang di sekitar.</p><p>Kita tidak sekadar ingin menjadi unggul, tapi LEBIH unggul. Tidak hanya menjadi kaya, tapi LEBIH kaya. Tidak cukup untuk terkenal, tapi LEBIH terkenal. Jadi, patokannya arbitrer, tergantung posisi dan kondisi orang lain di sekitar kita.</p><p>Will Storr membuka buku ini di bagian prolog dengan pertanyaan sangat mendasar, mengapa permainan status itu ada? Menurutnya, ini tidak terlepas dari warisan evolusi manusia. Sebagai makhluk hidup, kita memiliki tujuan biologis untuk bertahan hidup dan bereproduksi.</p><p>Semakin tinggi status sosial kita dibandingkan dengan orang-orang di sekitar, semakin besar pula peluang kita untuk mendapatkan pasangan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Status sosial yang tinggi juga memberi kita akses terhadap lebih banyak sumber daya, sekaligus meningkatkan keamanan dan peluang kita dan keturunan kita untuk bertahan hidup.</p><p>Lalu, mengapa kita tidak bisa begitu saja keluar dari permainan status ini? Karena otak kita terbentuk melalui proses evolusi yang membuat kita memiliki dorongan untuk diterima oleh kelompok. Penerimaan dari kelompok merupakan prasyarat minimum bagi kita untuk memainkan permainan status. Sementara penolakan dari kelompok dan ketiadaan koneksi melemahkan posisi dan peluang kita untuk bertahan hidup dan bereproduksi.</p><p>Permainan status bisa dikatakan sebagai <em>the game of life</em>. Permainan ini tidak akan pernah benar-benar berakhir selama masih ada orang lain di sekitar kita, atau sampai kita meninggalkan dunia ini.</p><p>Status secara tidak langsung membentuk identitas dan memengaruhi bagaimana kita menilai keberhargaan hidup kita. Hal ini membantu kita menjalani hidup dengan lebih optimistis. Namun, kita juga turut menciptakan narasi tentang diri sendiri dengan menyaring dan menyusun pengalaman hidup, lalu menonjolkan sisi-sisi yang membuat kita merasa heroik dan berharga.</p><p>Dari zaman batu hingga sekarang, permainan status terus menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun, kini bentuknya semakin beragam. Kita memainkan permainan status dengan cara yang lebih halus melalui interaksi sosial, kontribusi kita dalam pekerjaan, setiap unggahan di media sosial, gaya berpakaian, cara berbicara, hingga hal-hal yang kita gemari dan percayai.</p><p>Will Storr membagi permainan status menjadi tiga kategori, yaitu permainan dominasi (<em>the dominance game</em>) yang menggunakan kekuatan dan rasa takut (<em>force and fear</em>) sebagai instrumennya; permainan kebajikan (<em>the virtue game</em>) yang berlandaskan moralitas, kepatuhan, dan tanggung jawab; serta permainan kesuksesan (<em>the success game</em>) yang mengandalkan talenta, kemampuan, dan pengetahuan.</p><p>Ketiga kategori ini bisa berlangsung secara bersamaan, bahkan saling mendukung. Misalnya, pendiri Apple, Steve Jobs memainkan permainan kesuksesan melalui inovasi produk yang lahir dari keahliannya. Ia juga memainkan permainan kebajikan melalui cara ia memasarkan produk Apple. Selain itu, ia memainkan permainan dominasi dalam persaingannya dengan kompetitor. Kombinasi ketiganya turut menjadikan Apple salah satu produsen teknologi terkemuka di dunia.</p><p>Menurut Storr, begitulah permainan status yang lebih beradab. Persaingan semestinya didasarkan pada merit, yaitu talenta, kemampuan, dan pengetahuan. Dari sana, kita mengupayakan agar kesuksesan yang diraih juga memberikan manfaat bagi dunia dan orang lain. Tindakan dan komitmen untuk peduli terhadap kepentingan publik menunjukkan kebajikan kita. Pada akhirnya, semua itu dapat menciptakan dominasi yang lebih sehat, ketika reputasi baik menjadi sumber keunggulan.</p><p>Buku ini bukan buku pengembangan diri biasa. Meskipun pembahasan pada bab-bab terakhir lebih cenderung mengarah ke sana, yaitu tentang bagaimana kita dapat memainkan ‘permainan status’ untuk menunjang kesuksesan hidup. Buku ini juga menawarkan sudut pandang kritis tentang bagaimana manusia dikelabui oleh permainan status, mengapa hal tersebut bisa merugikan, dan bagaimana permainan ini bahkan bisa berkembang hingga mencapai tahap yang tidak lagi masuk akal.</p><p>Misalnya, Storr membahas fenomena <em>hikikomori</em> di Jepang dan sejumlah negara Asia lainnya, yaitu kondisi ketika seseorang menarik diri dari kehidupan sosial karena merasa kesulitan mengikuti standar dan aturan dalam masyarakat. Mereka merasa malu karena tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial, merasa tidak diperlakukan sebagaimana orang lain pada umumnya, dan menganggap diri mereka gagal menjalankan peran sosial.</p><p>Contoh lainnya adalah bentuk permainan status yang tidak sehat, yaitu fenomena <em>conspicuous consumption (</em>konsumsi mencolok). Fenomena ini berangkat dari kecenderungan kita untuk membaca isyarat sosial dan meniru perilaku orang-orang dengan status sosial tinggi yang kita kagumi. Dalam tahap yang lebih sehat, kita mungkin hanya meniru kebiasaan dan cara berpikir mereka, buku yang mereka baca, filosofi hidup, hingga cara berpakaian, makan, dan berbicara.</p><p>Namun, permainan status menjadi tidak sehat ketika kita hanya melihat permukaannya atau simbol statusnya, seperti meniru gaya hidup dan pola konsumsi orang-orang berstatus sosial tinggi untuk mendapat prestise yang sama. Misalnya, dengan membeli barang-barang mewah yang harganya fantastis.</p><p>Fenomena ini turut mendorong pasar barang dan jasa mewah global mencapai nilai US$1,2 triliun per tahun. Angka ini sebenarnya bisa digunakan untuk menutup kesenjangan pembiayaan perlindungan sosial dan layanan kesehatan esensial di 134 negara berkembang. Bahkan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 8,5–9 kali kesenjangan pembiayaan tahunan sektor air bersih dan sanitasi di negara berkembang. Sayangnya, sebagian besar potensi ekonomi tersebut justru terserap dalam permainan status yang kita ciptakan sendiri, dengan sekitar US$285 miliar per tahun dihabiskan untuk pembelian barang mewah saja.</p><p>Buku setebal 437 halaman ini memang menarik di awal. Namun, jumlah bab yang terlalu banyak, yaitu 29 bab, membuat pengalaman membaca terasa cukup melelahkan, terutama pada beberapa bab di bagian tengah hingga akhir. Banyaknya bab juga membuat penyampaian gagasan terasa kurang terorganisasi, padahal buku ini mungkin bisa disusun dengan kerangka yang lebih sederhana.</p><p>Meskipun begitu, buku ini tetap menarik karena bisa dibilang sebagai salah satu buku populer yang secara khusus membahas permainan status. Will Storr sebagai penulis juga tidak perlu diragukan lagi kepeduliannya dalam mengulik hasrat terpendam manusia. Buku-bukunya yang lain, seperti <em>The Heretics</em> (2013), <em>Selfie</em> (2017), dan <em>The Science of Storytelling</em> (2019), memiliki benang merah yang sama, yaitu bagaimana manusia mengemas dan memaknai diri serta kehidupannya.</p><p>Sayangnya, buku ini belum tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia, padahal pembahasannya menarik dan cukup relevan dengan konteks Indonesia. Daripada istilah ‘permainan status’, mungkin kita lebih familier dengan ungkapan ‘dunia adalah panggung sandiwara’. Nah, buku <em>The Status Game</em> bisa menjadi titik awal untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung tersebut.</p><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cf23d4671eed" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/dunia-hanya-panggung-sandiwara-bernama-permainan-status-cf23d4671eed">Dunia Hanya Panggung Sandiwara Bernama Permainan Status</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Mencerahkan Jalan, Mengurai Kabut]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/mencerahkan-jalan-mengurai-kabut-cc0503a0ca25?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cc0503a0ca25</guid>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[filosofi-teras]]></category>
            <category><![CDATA[november]]></category>
            <category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Bagus Aji]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 02 Nov 2026 01:49:47 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-11-02T01:49:45.800Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Filosofi Teras: Mengikis Kabut Kesombongan</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ZUea4dQtC5pQDvGOmAIjvQ.jpeg" /><figcaption>Dokumentasi pribadi (sengaja bukunya kufoto tampak samping, biar terpotret tebalnya, plus satu buku lagi di belakangnya)</figcaption></figure><p>Akhir-akhir ini, sulit sekali bagiku mencari waktu menulis. Aku lebih memprioritaskan membaca ketimbang menulis. Kalau tak membaca, bagaimana aku bisa menulis? Sehingga meski kesibukan pekerjaan dan urusan rumah tangga mendera, aku tetap meluangkan waktu untuk membaca. Menulis bisa kapan-kapan saja. Itu alasanku sudah lama tidak mempublikasikan tulisan di Medium.</p><p><strong><em>Bila belum punya akun Medium, silakan baca selengkapnya di sini.</em></strong></p><p>Membaca adalah amunisi untuk menulis di kemudian hari. Menabung kata-kata. Memperoleh kosakata baru. Membiasakan diri dengan pengungkapan ide lewat tulisan. Mengasah ketajaman berbahasa. Sehingga bila pada waktunya nanti pikiran telah penuh sesak, aku bisa menuangkan kemelut itu menjadi tulisan dengan lancar. Menggunakan perbendaharaan kata yang telah ditambang selama kegiatan membaca. Dan, mampu mengungkapkan apa yang aku rasakan melalui kata-kata.</p><p>Dalam kurun waktu empat-bulan-kurang-sepuluh-hari ini, aku menyelesaikan dua buku tebal tanpa sekalipun memosting tulisan di Medium. Kegiatan menulis seperti bikin jurnal atau catatan pribadi, tetap berjalan seperti biasa. Meski tak kulakukan setiap hari, tapi aku cukup sering menulisnya. Untuk tulisan yang “serius” (yang kuperhatikan betul penyajiannya) di Medium, aku tidak membuatnya sama sekali selama waktu tersebut.</p><p>Berhasil membaca dua buku dalam empat-bulan-kurang-sepuluh-hari itu kuanggap pencapaian yang bagus bagiku. Nggak jelek-jelek amat, kurasa. Mengingat ada masanya aku jarang membaca buku sampai khatam, antara lulus kuliah hingga beberapa tahun belakangan ini. Jadi saat aku mulai membaca buku lagi beberapa tahun belakangan ini, dan mulai bisa mengkhatamkan buku-buku tebal, kuanggap itu sebuah pencapaian pribadi.</p><p>Motivasi terbesar yang mendorongku cepat-cepat menyelesaikan dua buku terakhir ini adalah karena dua buku itu merupakan buku pinjaman dari <a href="https://medium.com/@bagus-aji/jalan-jalan-ke-perpuskot-0e443f24ced8">perpuskot</a>. Perpuskot punya aturan, bahwa peminjam yang terlambat mengembalikan buku, akan diskors dari kegiatan meminjam buku selama kurun waktu keterlambatannya.</p><p>Jadi misal peminjam terlambat satu hari saat mengembalikan buku, berarti pinaltinya diskors satu hari juga. Kemudian baru boleh pinjam buku lagi besoknya, setelah lewat 1 x 24 jam. Kalau telatnya seminggu, ya otomatis pinaltinya seminggu tidak boleh meminjam buku dulu. Setelah lewat dari seminggu, barulah pemustaka tersebut diperbolehkan untuk meminjam buku lagi.</p><p>Menurutku itu aturan yang adil. Aku sendiri sejauh ini tak pernah sampai telat mengembalikan buku. Meski sebenarnya buku yang kupinjam belum selesai kubaca, aku tetap mengembalikannya hanya demi bebas pinalti.</p><p>Agar bisa terus meminjam. Lalu aku menjedanya dengan meminjam buku lain lebih dulu. Biar nanti boleh pinjam lagi buku yang sama di kesempatan berikutnya. Buku yang sama hanya boleh diperpanjang selama satu kali masa peminjaman.</p><p>Namun, untuk peminjaman <em>Filosofi Teras</em> ini aku melanggar aturan itu. Aku sengaja ingin membaca bukunya hingga paripurna. Juga buku satunya lagi. Padahal aku sibuk, tapi aku kukuh ingin membacanya sampai selesai. Aku tahu ini egois, tapi ya gimana ya. Kuambil pinaltinya aja deh nanti. Jadi aku tak mengembalikannya tepat waktu, dan mundur hingga hampir empat bulan.</p><p>Awalnya aku merasa beruntung bisa membaca <em>Filosofi Teras</em> di iPusnas. Karena buku ini sering keluar terpinjam, aku senang saat bisa mulai membacanya. Ternyata bukunya menarik.</p><p>Saat membaca via iPusnas sering kali ada distraksi oleh aplikasi lain yang datang mengganggu dan membuyarkan fokus. Jadi ketika aku main ke Perpuskot dan mendapati buku cetaknya ada di rak, tanpa pikir panjang aku langsung meminjamnya. Aku pinjam beserta satu novel terjemahan Jepang. Karena sekali pinjam boleh dua buku.</p><p>Buku <em>Filosofi Teras</em> di perpuskot juga hampir selalu keluar kandang. Selalu laris terpinjam, tanpa pernah pulang. Jadi saat tersedia, itu berarti kesempatan emas.</p><p>Pada dasarnya aku suka buku genre pengembangan diri. <em>Filosofi Teras</em> kuanggap buku bergenre tersebut karena mengajak pembaca merombak paradigma dan mengajarinya melihat segala sesuatu melalui sudut pandang yang baru.</p><p>Sebelumnya aku tak pernah menyentuh ranah buku filsafat. Terlalu berat menurutku pembahasannya, dan sejujurnya aku takut sesat pikir bila mengonsumsi filsafat sembarangan. Aku sendiri menyadari bahwa diriku mudah terpengaruh. <em>Filosofi Teras</em> ini sepertinya pintu masuk yang bagus untuk mengenal filsafat. Henry, penulisnya mengolah kajian filsafat yang (mungkin) berat menjadi pembahasan yang renyah dan mudah dipahami awam.</p><p>Asal muasal <em>Filosofi Teras</em> berangkat dari seorang pedagang bernama Zeno, yang berlayar di lautan. Kemudian karena suatu sebab kapalnya karam. Zeno sendiri selamat dan terdampar di sebuah kota. Saat berjalan-jalan di kota, dia menemukan buku filsafat stoa lalu mengajarkannya di teras suatu tempat publik. Inilah asal-usul ajarannya dinamakan filosofi teras (stoa).</p><p>Hampir semua bagian buku ini pantas dijadikan kutipan (<em>quotes</em>) yang cakep dan menyentil. Tinggal diberi bingkai bunga atau pinggiran yang keren, lalu bisa dipajang di status medsos atau di dinding rumah (haha).</p><p>Serius, bagiku isinya daging banget. Sejalan dengan konsep ikhlas dan <a href="https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/legawa"><em>legawa</em></a>, dalam menjalani hidup. Pasrah menerima, tapi bukan berarti malas. Intinya, menjalankan fitrah kita sebagai manusia. Berguna untuk manusia lainnya. Hidup sebagai yang benar-benar manusia. Bukan batu yang cuma diam saja, tapi juga bukan sebotol soda yang tiap kena kocokan selalu tersembur. Itu sih, pendeknya.</p><p>Hal krusial yang kupetik dari filsafat stoa adalah konsep dikotomi kendali. Konsep tersebut mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam hidup terbagi menjadi dua kelompok besar. Yaitu hal-hal yang bisa dikontrol dan hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Ini kunci dari ajarannya.</p><p>Bagi muslim, kukira sebagian nilai-nilai filsafat ini sejalan dengan ajaran agama. Mengajarkan keikhlasan dan penerimaan (kepasrahan) bahwa tidak semua hal berada dalam kontrol manusia. Maksudnya, ada hal-hal yang seolah memang terlihat bisa dikontrol oleh manusia, tapi nyatanya, secara hakiki sebenarnya tidak berada dalam kendali kita sebagai manusia. Melainkan ketentuan Yang Maha Kuasa.</p><p>Implikasinya nanti pada sifat sombong, yang amat mudah muncul dalam hati kecil manusia. Sifat yang dihinakan oleh agama. Sifat sombong membuat hati manusia terhalang kabut. Merasa bisa melakukan ini dan itu. Merasa pantas mendapat puja-puji, melenggang sebagai pemancar cahaya. Padahal sebenarnya ia dicipta hanya sebagai khalifah di muka bumi.</p><p>Nilai-nilai positif dalam <em>Filosofi Teras</em> layak diambil sebagai pengiring kajian agama, ini menurutku ya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kepasrahan terhadap hal-hal di luar kendali yang diajarkan filsafat ini, bisa “diteruskan” sebagai kepasrahan terhadap ketentuan-ketentuan yang telah Allah gariskan. Dan seterusnya.</p><p>Menariknya, saat menjelang khatam membaca buku <em>Filosofi Teras</em>, aku sempat tanpa sengaja melihat <a href="https://youtu.be/jyI6Se210jw?si=boWuurwa8_J9SGTB">cuplikan filmnya</a>. Itu menambah daya dorong untuk menyelesaikan bukunya sebelum filmnya rilis.</p><p>Omong-omong soal stoisisme, aku sempat lihat Mbak <a href="https://medium.com/u/e69e19ac001c">Iyas Utomo</a> menyatakan ingin menulis cerita tentang hubungan antara stoisisme dengan kapitalisme. Jujur aku penasaran dengan pembahasannya. Itu karena aku baru saja rampung membaca Filosofi Teras.</p><p>Aku ingin tahu bagaimana korelasi dua hal tersebut menurut sudut pandang Mbak Iyas. Namun, sepertinya cerita itu belum ditulis olehnya. Coba kuingatkan dengan halus di sini, barangkali beliau jadi menuliskannya.</p><p>Kemudian satu lagi, belum lama ini aku, Mbak <a href="https://medium.com/u/e69e19ac001c">Iyas Utomo</a>, Mas <a href="https://medium.com/u/e52fc594bb8e">Ahmad Khoiron</a>, dan beberapa teman lain menginisiasi grup belajar bahasa Mandarin bersama. Tutornya Mas Khoiron.</p><p>Sebagai imbalan mengajar kami selama sebulan, Mas Khoiron meminta kami, para peserta kelas, bikin satu tulisan bertema bebas tentang buku. Tadinya aku memang sudah berencana memosting reviu <em>Filosofi Teras</em> ini. Namun karena ada imbauan tersebut, reviu ini kugunakan untuk memenuhi itu saja.</p><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=cc0503a0ca25" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/mencerahkan-jalan-mengurai-kabut-cc0503a0ca25">Mencerahkan Jalan, Mengurai Kabut</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Karena Menikah Tak Sebercanda Itu]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/karena-menikah-tak-sebercanda-itu-f82e8909f803?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/f82e8909f803</guid>
            <category><![CDATA[november]]></category>
            <category><![CDATA[book-review]]></category>
            <category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[pranikah]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[journals]]></dc:creator>
            <pubDate>Mon, 02 Nov 2026 01:32:29 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-11-02T01:32:27.894Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>#2 Ust. Amar Ar-Risalah</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*SdNuk2apLU6rskHLYi6PpA.jpeg" /><figcaption>Dokumen Pribadi</figcaption></figure><blockquote>Kisah-kisah kegagalan rumah tangga orang lain, sahabat, bukan alasan untukmu takut. Itu semua adalah peringatan sekaligus ilustrasi langsung dari Allah, bahwa kita, jangan pernah terlalu berharap pada manusia. Bahwa sumber kebahagiaanmu, mulai saat ini, hanyalah Allah saja. Hal: 12</blockquote><p>Dua bulan lalu, saya resmi meminang satu buku berjudul <em>Karena Menikah Tak Sebercanda Itu</em> karangan Ust. Amar Ar-Risalah. Berangkat dari judul, kita semua akan terbayang, untuk siapa karya ini sengaja Ust. Amar tulis. Buku ini terdiri dari lima bagian dengan total 200 halaman.</p><p>Kekuatan buku ini terletak pada kemampuan Ust. Amar merangkai dan membahasakan isinya. Dari buku-buku sejenis yang pernah saya baca, buku ini rasanya <em>relate</em>, mudah diterima dan nyambung untuk saya yang seorang Gen Z. Kalau tulisan bisa dikatakan <em>soft spoken</em>, saya rasa tulisan beliau salah satunya.</p><p>Pada Bagian I, menurut saya Ust. Amar sengaja masuk ke ranah personal yang paling dasar, menangkap rasa takut dan cemas, termasuk alasan-alasan logis kenapa sebagian orang belum memikirkan pernikahan padahal usianya sudah matang.</p><p>Beliau menyuguhkan satu bab berjudul <em>Sepertinya Aku Tidak Usah Menikah Saja</em>. Beliau sadar, ketakutan itu bersumber dari beberapa lini. Seperti pengalaman buruk masa kecil, peran ayah ibu yang kurang, lingkungan atau paparan sosial media yang belakangan bertajuk <em>Marriage Is Scary </em>atau yang terbaru<em> Stop The Wedding.</em></p><p>Sebelum beranjak lebih jauh, Ust. Amar mengajak pembaca untuk memaafkan luka-luka pengasuhan masa kecil, memaafkan ayah, dan memaafkan ibu. Seringkali, kita belum mau mempersiapkan pernikahan karena takut rumah tangga yang akan kita bina, merupakan <em>copy paste</em> dari yang sedang kita alami di rumah saat ini.</p><p>Di ujung Bagian I, Ust. Amar menyadarkan bahwa setelah kita menerima dan memaafkan masa lalu, maka insyaaAllah rumah tangga masa depan adalah rumah tangga baru dari dua manusia baru yang sudah selesai dengan diri dan keluarganya.</p><p>Lalu kita masuk ke Bagian II dengan judul <em>Sebelum Kisah Ini Benar-Benar Dimulai</em>, Ust. Amar mengajak pembaca untuk melakukan segala persiapan, di bagian ini Ust. Amar mengajak pembaca untuk mengenal dan menyayangi diri, bermula dari pemahaman bahwa dalam menjalani kehidupan, bisa aja seseorang melakukan kesalahan, kebingungan atau bahkan hilang arah.</p><p>Untuk meminimalisir itu, Ust. Amar menyarakan bahwa setiap orang hendaknya memiliki guru, ustaz, kiai atau murrabi yang mampu menjadi tempat bertanya, meminta nasihat, atau yang tidak segan menegur dan mengingatkan bila kita salah langkah. Mulai datangi kajian-kajian, mulai datangi masjid-masjid, dan temukan guru tersebut.</p><p>Kemudian beliau mengajak pembaca untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an. Yang paling berkesan saat saya membaca bagian ini, yaitu saat Ust. Amar menjelaskan bahwa salah satu bentuk keseriusan mempersiapkan pernikahan dan rumah tangga adalah dengan mulai memperbaiki bacaan Al Qur’an dan mengikuti kelas-kelas tahsin.</p><p>Hati saya terketuk oleh argumen yang beliau tulis bahwa anak-anak semestinya lahir dari keluarga yang gemar belajar. Dari ibu penghafal Al-Qur’an yang rutin <em>muraja’ah</em>, dari ayah yang menjaga shalat-shalat berjamaah di dalam rumah.</p><p>Lalu beliau juga mengisahkan beberapa sirrah rumah tangga para sahabat Rasulullah, bahwa sekelas rumah tangga para sahabat, juga ada cobaannya. Kemudian bahasan berlanjut ke selesaikan hutang dan riba sebelum menikah, jangan ada pernikahan yang dua orang di dalamnya masih bermudah-mudah dalam berhutang dan memakan riba. Terus berlanjut ke pembahasan nafkah, ini juga penting untuk dipahami kedua belah pihak, baik perempuan maupun laki-laki.</p><p>Di ujung bahasan, Ust. Amar mengajak untuk menjaga jarak dari segalanya. Maksudnya, bagi seseorang yang sedang dalam tahap mempersiapkan pernikahan, hendaknya mulai membatasi diri dari beberapa hal, yaitu pertemanan berbiaya mahal, orang yang gemar bermain tanpa menabung, si boros yang banyak makan, si lajang yang belum mau menikah, mereka yang waktunya sia-sia, dan dia yang terus berbalas pesan dengan kita sehingga kita lalai dari waktu salat, belajar, tilawah, bekerja, dan beramal baik lainnya.</p><p>Masuk ke Bagian III, Ust. Amar mulai menjelaskan calon yang baik beserta kriteria-kriteria minimalnya. Berlanjut ke 24 jam yang kita miliki, digunakan untuk apa saja. Ini berkaitan dengan kemampuan <em>management</em> diri, waktu, dan skala prioritas.</p><p>Menurut beliau, dalam sepekan seorang muslim yang baik minimal punya waktu untuk sekali aja silaturrahim, berolahraga, <em>murajaah</em> hafalan, mengaji dengan guru, membersihkan rumah atau merapikannya, berlatih atau belajar satu hal baru dan istirahat. Lalu terakhir kewajiban menjaga tubuh baik fisik maupun psikisnya.</p><p>Setelah jauh Ust. Amar menulis, kini kita sampai pada Bagian IV. Di sini, beliau menjelaskan bagaimana ikhtiar yang baik dalam memilih pasangan, yaitu dengan <em>ta’aruf</em>. Tentu aja, <em>ta’aruf</em> yang sesuai dengan syariat Islam.</p><p>Dan sebelum memulai proses tersebut, Ust. Amar lebih dulu memberikan penjelasan akan orang tua, guru agama,dan sahabat. Orang tua atau wali adalah pihak pertama yang harus mengetahui apabila kita ingin menikah atau mengajukan proses. Sebab keduanya adalah orang yang paling mengetahui baik dan buruk sang anak, termasuk siap atau belumnya ia menikah.</p><p>Kemudian masuk ke poin menyusun biodata <em>ta’aruf</em> yang di dalamnya terdapat CV, lengkap dengan visi misi rumah tangga yang akan dibangun. Iyaa benar, rumah tangga idealnya memiliki visi misi yang akan dicapai. Sebab menikah bukanlah tujuan, melainkan sarana atau cara untuk mencapai visi misi tersebut.</p><p>Lalu masuk ketika masa-masa genting dua orang yang sedang berproses. Di sini Ust. Amar menekankan beberapa hal, di antaranya meminta petunjuk kepada Allah dengan istikharah, berbicara pada orang tua, bertanya pada orang yang paham ilmu agama atau ahlinya, utus seseorang atau telitilah/<em>screening</em> pergaulan calon pasangan, batasi pergaulan yang sia-sia, dan beruzlah (menyepi dan menjaga kedekatan kepada Allah).</p><p>Panjang juga yaa ulasannya. Apa yang saya tulis belum merepresentasikan sepenuhnya isi buku tersebut dan hanya sebagian saja. Akhirnya saya cukupkan riviu buku ini sampai Bagian IV, karena pada Bagian V, masih ada hal yang perlu saya baca-baca ulang. Hehe. Oiya, dalam buku ini hampir di seluruh bagian, Ust Amar selalu memberikan nasihat untuk laki-laki dan perempuan. Jadi tidak hanya bahas dari satu <em>pov</em> saja.</p><p>Siapa pun yang sedang mencari buku-buku pranikah, saya rasa buku ini sangat cocok untuk santapan pertama. Terutama bagi teman-teman yang baru mau mempersiapkan pernikahan dan rumah tangga impian. Bukunya hangat, bahasannya mudah dipahami, dan pada saat saya menulis ini, saya sedang <em>re-read</em> ke dua kalinya karena menyenangkan untuk dibaca ulang.</p><p>Di tengah gempuran <em>marriage is scary</em> dan <em>stop the wedding</em>, buku ini jadi salah satu oase. Menikah tidak se-seram itu kalau kita mau belajar dari mana dulu untuk sampai ke sana. Jangan masuk ke medan laga tanpa persiapan.</p><p>Kadang yang bikin kita takut karena kita belum tahu ilmu-ilmunya. Semoga Allah mudahkan bagi siapa pun yang sedang berusaha memantaskan dan menjaga, perbanyak cari ilmunya dan ikhtiar dengan jalur yang baik dan benar. Mudah-mudahan dipertemukan juga dengan apa yang selama ini kita doakan atau yang lebih baik. Aamiin.</p><blockquote>Carilah calon pasangan yang benar-benar mau menyetujui cita-citamu dan engkau pun setuju dengan cita-citanya. Kau sepakatilah dulu dengan dirimu, bahwa apapun yang terjadi, cita-cita baikmu jangan sampai hilang karena pernikahan. Hal: 36</blockquote><p><em>Barakallahu fiikum.</em></p><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=f82e8909f803" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/karena-menikah-tak-sebercanda-itu-f82e8909f803">Karena Menikah Tak Sebercanda Itu</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Multiidentitas: Rekonstruksi Konsep Diri yang Adaptif]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/multiidentitas-rekonstruksi-konsep-diri-yang-adaptif-a0d8b811e344?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/a0d8b811e344</guid>
            <category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
            <category><![CDATA[ulasan-buku]]></category>
            <category><![CDATA[november]]></category>
            <category><![CDATA[self-improvement]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Amri Faizal M.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 01 Nov 2026 10:29:33 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-11-01T10:44:52.415Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Jadi, Aku Ini Aslinya Berapa “Orang”?</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*zknvexJ4O6e7kI9bIgoHXA.jpeg" /><figcaption>Segelas Matcha dan Buku Multiidentitas (Dok. Pribadi)</figcaption></figure><h3>Keresahan dalam Diri</h3><p>Dalam banyak kesempatan, aku mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh diriku sendiri dalam menjalani hidup ini. Aku hendak menjadi A, tapi mau juga untuk menekuni B. Aku gemar dengan dunia C, di sisi lain turut tertarik pada seluk-beluk D. Jadi, aku ini mau jadi manusia yang seperti apa?</p><p>Apakah aku mengalami kecenderungan pada kondisi kebingungan peran (<em>role confusion</em>) seperti dalam teori tahap perkembangan ala Erik Erikson? Meskipun konflik tersebut idealnya ada pada fase remaja, entah mengapa masih kutemui sebagai seorang yang berada pada usia dewasa awal ini.</p><p>Pada suatu obrolan, kawanku bilang bahwa Zahid Ibrahim baru saja merilis buku. Aku pun mengiyakan dan belum merasa tertarik mengingat buku swabantu (<em>self-help</em>) akhir-akhir ini sering dipandang tidak terlalu berdampak bagi pembaca alias omong kosong. Aku jadi terpengaruh akan opini tersebut.</p><p>Ketika sebuah postingan yang membahas bukunya yang berjudul <em>Multiidentas</em> itu muncul di beranda, aku merasa sedikit terhubung dengannya. Seolah keresahanku selama ini, ada pula orang yang menuliskannya. Aku pun dengan kesadaran penuh memasukkannya ke dalam <em>reading list</em> untuk nanti.</p><p>Saat aku menonton <em>live</em> Tiktok Gramedia, aku pun melihat-lihat buku yang ditawarkan di keranjang kuning. Beberapa promo diberlakukan, termasuk buku <em>Multiidentitas</em>-nya Zahid Ibrahim ini. Melihat potongan harganya yang melebihi setengahnya, aku pun langsung membelinya. Terlihat impulsif sekali memang, tetapi harga buku yang tidak bersahabat di negeri ini memang jadi tantangan tersendiri.</p><p>Akhirnya, aku pun tidak menyesal membeli bukunya. Aku menyelami buku ini sebagai bacaan yang relevan dengan apa yang kuhadapi saat ini. Gagasan yang diangkat mampu membuka dan memperluas perspektif tentang pilihan-pilihan dalam hidup. Maka dari itu, aku akan membuat sedikit anotasi dari buku <em>Multiidentitas</em> sebagai berikut.</p><h3>Memahami Multiidentitas</h3><p>Pada pembuka buku, Zahid memperkenalkan konsep multiidentitas sebagai bentuk nilai diri seseorang yang dihidupkan lewat beragam versi dan bidang yang ditekuni dengan memberikan apresiasi pada keunikan diri yang tidak tergantikan oleh siapa pun. Berbanding terbalik dengan itu, ada konsep monoidentitas, yaitu membangun identitas dirinya pada satu bidang tertentu saja.</p><p>Multiidentitas merupakan cara individu untuk memandang dan mendefinisikan konsep dirinya dalam beragam domain. Multiidentitas bertindak sebagai kacamata internal untuk menjawab pertanyaan “siapa” pada diri.</p><p>Multiidentitas yang mengembangkan berbagai dimensi ini dapat dijadikan sebagai konsep diri yang lebih sehat daripada monoidentitas. Sebagaimana Neill (2005) yang menjelaskan bahwa <a href="https://positivepsychology.com/self-concept/">konsep diri</a> adalah gagasan menyeluruh tentang siapa diri kita dalam berbagai aspek seperti fisik, emosional, sosial, hingga spiritual, bukan secara tunggal.</p><p>Mengingat banyaknya domain yang dihidupkan dalam multiidentitas, mungkin ada pikiran bahwa bukankah hal tersebut dapat menghilangkan fokus? Zahid menyatakan bahwa multiidentitas justru memperkuat fokus dengan memberi tambahan perspektif dan energi serta menopang ketika ada identitas yang goyah.</p><p>Multiidentitas juga tidak melulu soal beralih peran dan tidak menyempatkan diri untuk memperdalam suatu bidang. Multiidentitas justru menekankan perhatian penuh pada apa yang menjadi keragaman ketertarikan, peran, dan identitas. Artinya, seseorang perlu memberikan sekat yang jelas untuk masing-masing identitas tersebut agar tidak merasa kelelahan dalam pengambilan pilihan.</p><blockquote>Aku menyadari bahwa memiliki banyak identitas bukan kelemahan melainkan kekuatan. Tidak semua orang harus memilih satu jalur dan menutup kemungkinan jalur lain; ada cara untuk menggabungkan berbagai <em>passion</em> menjadi sesuatu yang bermakna dan bahkan bernilai. Aku mulai sadar aku bukan satu (mono) namun beragam (multi).</blockquote><blockquote>— Multiidentitas, hlm. 128.</blockquote><h3>Multiidentitas dalam Menghadapi Perbandingan Sosial</h3><p>Zahid turut menyoroti bagaimana kebiasaan yang sering ditanamkan di Indonesia seperti sistem ranking pada masa sekolah dapat terbawa ke usia dewasa dengan cukup destruktif. Perbandingan sosial kerap tertanam secara tidak sadar, di mana selalu ada bahan iri akan kesuksesan orang lain. Masalahnya, sebagian besar dari kita hanya memandang kesuksesannya saja, tanpa mau melihat pengorbanan hingga konsekuensi dari setiap pencapaian tersebut.</p><p>Terlebih lagi, manusia cenderung akan membandingkan dirinya dengan sosok-sosok yang ada di dekatnya seperti teman atau tetangga daripada figur yang jauh seperti artis tersohor. Padahal, perbandingan tersebut ada dalam kepalanya saja yang dibentuk melalui karakteristik latar belakang orang lain yang dianggap sama dan sesuai. Akhirnya, ambisi untuk meraih sesuatu berubah menjadi sekadar mendapatkan validasi orang lain sehingga menciptakan perjuangan yang lemah.</p><p>Nyatanya, banyak hal dalam kehidupan ini bukanlah <em>zero-sum game</em> di mana ketika orang lain lebih unggul, bukan berarti kita harus merasa terancam. Multiidentitas membentuk cara pandang bahwa hidup bukan tentang menang atau kalah. <em>Positive-sum game</em> dapat menjadi penawar bahwa keberhasilan orang lain dapat dijadikan sebagai nilai untuk bertumbuh, belajar, dan berkolaborasi.</p><p>Jika monoidentitas dapat menimbulkan perasaan berkompetisi terus-menerus dengan orang lain, maka multiidentitas akan mengembangkan perspektif diri yang unik dan autentik serta lebih tangguh. Dalam permainan monoidentitas, seseorang berkemungkinan besar akan kalah. Sementara dalam multiidentitas, justru konsep dirinya yang akan menjadi semakin kuat.</p><p>Multiidentitas akan menyadarkan bahwa walaupun individu tidak menjadi yang terbaik pada suatu bidang, ia tetap bisa menjadi yang terbaik dalam versi dirinya sendiri. Multiidentitas menimbulkan pandangan bahwa hasil yang ia dapatkan dibentuk oleh berbagai identitas yang bermakna. Dengan begitu, pandangan tersebutlah yang membuat seseorang tetap bisa merasa puas dan penuh.</p><blockquote>Multiidentitas membantuku memaknai kembali hubungan interpersonalku. Pada dasarnya, semua orang punya keunikan masing-masing yang tidak bisa dibandingkan. Ini menjadikan kita “setara”. Jika semua orang setara, apa yang membedakan mereka? Yang membedakan mereka adalah perspektif.</blockquote><blockquote>— Multiidentitas, hlm. 147.</blockquote><h3>Apakah Multiidentitas Realistis untuk Diterapkan?</h3><p>Setelah membahas bagaimana multiidentitas dapat membentuk pribadi yang lebih tangguh dalam tantangan zaman, Zahid turut menyoroti bahwa terdapat faktor-faktor tertentu yang dapat menyulitkan untuk menerapkannya. Ia memetik <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Hierarki_kebutuhan_Maslow">Hierarki Kebutuhan</a> dari Abraham Maslow berupa kebutuhan fisik, rasa aman, cinta dan kepercayaan, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Individu harus memenuhi tingkat kebutuhan sebelumnya untuk bisa naik ke tingkat di atasnya dengan optimal.</p><p>Individu yang masih berjuang kebutuhan fisiologis dan keamanan sehari-harinya akan lebih susah untuk menghidupi berbagai identitas ini. Individu yang berada pada tingkatan tersebut sampai kebutuhan akan cinta dari orang lain dan pengakuan eksternal cukup sesuai dengan monoidentitas. Sementara itu, multiidentitas memungkinkan individu untuk meraih aktualisasi diri pada keberagamaan tujuannya.</p><p>Selain itu, membangun multiidentitas seperti sukar untuk dilakukan oleh orang-orang yang memiliki waktu yang terbatas dan struktur akivitas yang <em>rigid</em>. Lalu, pada situasi tertentu, ada hambatan yang cukup besar untuk dihadapi, seperti kemiskinan struktural. Hambatan tersebut muncul karena sistem yang ada tidak menyediakan akses yang baik untuk bisa meraih berbagai peluang. Meskipun ada tantangan, seseorang tetap bisa mencoba untuk membuat strategi yang sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.</p><p>Ia menambahkan faktor budaya kolektivitas di Indonesia yang kerap mengarah pada hasil yang tak sehat. Pada budaya kolektivis, seseorang (dan komponen sosial di sekitarnya) cenderung menolak diri ketika ingin terlihat berbeda dengan yang lain. Budaya ini membuat seseorang menggunakan standar moral kelompok untuk mendefinisikan dirinya sendiri.</p><h3>Eksplorasi Diri dengan Multiidentitas</h3><p>Jadi, aku ini sebenarnya siapa? Bagaimana caranya aku mendefinisikan diriku sendiri? Dalam buku ini, Zahid membagi multiidentitas seseorang menjadi dua: <em>personal branding</em> dan <em>internal belief</em>. Lewat <em>personal branding</em>, ia dapat berubah menjadi monoidentitas yang diarahkan kepada orang lain untuk keperluan interpersonal atau profesional. Lewat <em>internal belief</em>, seseorang tetap bisa menghidupi keberagaman minatnya dengan multiidentitas yang disesuaikan dengan konteks tertentu.</p><p>Zahid juga menekankan bahwa multiidentitas tidak melulu soal aktivitas spesifik terkait identitas tertentu, tetapi juga dapat berbentuk nilai yang mewakilinya. Membangun multiidentitas yang berakar pada nilai artinya menjelajahi berbagai bentuk aktivitas yang memiliki manfaat yang serupa. Seseorang dengan identitas yang berakar pada nilai akan selalu punya fondasi kokoh sebagai tempat pulang.</p><p>Multiidentitas memang bersifat fleksibel untuk mengeksplorasi minat, tetapi ada kondisi yang membuat seseorang harus tetap memiliki prioritas utama. Seseorang harus bisa membedakan mana yang bersifat wajib, mana yang bersifat opsional. Maka dari itu, keseimbangan untuk menentukan identitas utama dan identitas pendukung menjadi penting.</p><p>Setiap orang memiliki waktu tersendiri untuk mengeksplorasi, mengenal, hingga menemukan kekuatan dari dalam berbagai bidang terkait pembentukan multiidentitas. Zahid menceritakan dinamika perjalanan dirinya dalam membentuk multiidentitas sebagai YouTuber pengembangan diri, pelari, pembelajar berbagai bahasa asing, hingga fans Arsenal. Mungkin ia juga lupa seorang pejoget Tia Monika. <em>(Bercanda, Bang. Hehe).</em></p><p>Setelah membaca buku ini, aku tergerak untuk kembali mengeksplorasi dan mengenali apa yang mendefinisikan diriku melalui berbagai identitas. Selama ini, aku merasa sudah cukup menerapkan multiidentitas melalui bidang keilmuan yang kupelajari secara formal dan minat tambahan yang kudapati secara otodidak, maupun melalui komunitas tertentu. PR selanjutnya adalah mengatur identitas-identitas tersebut agar berjalan dengan seimbang. Supaya muncul keselarasan yang mampu membantuku dalam aktualisasi diri yang terbaik.</p><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=a0d8b811e344" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/multiidentitas-rekonstruksi-konsep-diri-yang-adaptif-a0d8b811e344">Multiidentitas: Rekonstruksi Konsep Diri yang Adaptif</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Walden]]></title>
            <description><![CDATA[<div class="medium-feed-item"><p class="medium-feed-image"><a href="https://medium.com/booknotations/walden-cac639647e46?source=rss----944c651f4db8---4"><img src="https://cdn-images-1.medium.com/max/2600/1*tpHYdmvWWOqCIePwA6yeQQ@2x.jpeg" width="3880"></a></p><p class="medium-feed-snippet">Dan ruang-ruang kecil kita untuk berani dan leluasa mengambil jeda</p><p class="medium-feed-link"><a href="https://medium.com/booknotations/walden-cac639647e46?source=rss----944c651f4db8---4">Continue reading on Booknotations »</a></p></div>]]></description>
            <link>https://medium.com/booknotations/walden-cac639647e46?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/cac639647e46</guid>
            <category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
            <category><![CDATA[bahasa-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[november]]></category>
            <category><![CDATA[book-review]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Ringgo]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 01 Nov 2026 10:03:25 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-11-01T10:04:20.401Z</atom:updated>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Berkat untuk Saya di Antara Berkumpulnya Orang Baik]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/berkat-untuk-saya-di-antara-berkumpulnya-orang-baik-6fc1c7df8842?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/6fc1c7df8842</guid>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[editor]]></category>
            <category><![CDATA[november]]></category>
            <category><![CDATA[esai]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Harlow.]]></dc:creator>
            <pubDate>Sun, 01 Nov 2026 00:44:07 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-11-01T00:44:05.835Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Berbagi rasa menjadi editor di Booknotations.</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*RWB5nasoVZgZ4yb7" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@rishikeshs?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Rishikesh Sreehari</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Bagi saya, membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang sungkan untuk dipisahkan. Semudah saat duduk di bangku sekolah; menyalin catatan dari buku cetak atau papan tulis ke dalam buku. Rasanya memang dua kegiatan itu hadir bukan untuk ditekuni sendirian.</p><p>Booknotations, pada awalnya tampak sebagai lahan kosong sebelum diisi karya penulis-penulisnya. Semula hanya satu jenis bunga yang ditanam, yakni <a href="https://medium.com/u/9387ead00be3">Akhyatun Nisa</a>, berangsur-angsur indah karena wewangian dan warna-warni bunga yang lain mulai bermunculan.</p><p>Sama halnya dengan bunga-bunga di taman, tulisan perlu dirawat. Paling tidak, saat tumbuh dijauhkan dari semak belukar atau diberi nutrisi. Semak belukar itu akan tumbuh jika tulisan yang ditanam tidak diberi sedikit sentuhan, dalam hal ini editor.</p><p>Beberapa waktu setelah mendaftarkan diri menjadi seorang penulis di Booknotations, Kak Aya membuat pengumuman resmi bahwa ia akan merekrut beberapa anggota untuk membantunya mengedit tulisan. Saya, yang saat itu memang sedang bertransformasi menjadi mahasiswa ambisius mendaftarkan diri setelah membaca pengumuman tersebut.</p><p>Pertengahan tahun 2026, saya yang sedang sibuk bekerja saat itu tiba-tiba mendapat surat elektronik dari Booknotations. Bunyinya, kurang lebih ucapan “selamat” diikuti tutorial mengaktifkan fitur <em>chat</em> di Google Mail.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/847/1*Fg0cv0wHrqjTKVd9-G_C4w.jpeg" /><figcaption>Sumber: Pesan Masuk Pribadi</figcaption></figure><p>Obrolan pun berlanjut melalui fitur <em>chat</em> sampai Kak Aya mengundang saya ke sebuah <em>group chat</em> berisi para editor. Di situ, saya berkenalan dengan <a href="https://medium.com/u/e52fc594bb8e">Ahmad Khoiron</a> dan <a href="https://medium.com/u/973df389e3b">Fira Alani</a>, yang kemudian disusul <a href="https://medium.com/u/e69e19ac001c">Iyas Utomo</a> dan <a href="https://medium.com/u/2f2c87efeafc">Maulana M. Ibrahim</a></p><p>Secara personal, tidak ada yang betul-betul saya kenal. Obrolan kami hanya seputar aktivitas-aktivitas untuk Booknotations yang kemudian <em>group chat</em> pun bertambah dan saya sangat sering salah mengirim pesan. Sering kali, seharusnya mengirim ke Kak Aya, rupanya terkirim di grup editor. Kadang kala, seharusnya mengirim ke grup editor, jadi terkirim ke grup Bookversations.</p><p>Saya tidak banyak mengedit tulisan di Booknotations karena hanya bertahan selama 3 bulan. Tepatnya, setelah saya mendapatkan pekerjaan yang cukup berat (sialnya, hanya bertahan sebulan karena satu kondisi).</p><p>Mengedit tulisan karya <a href="https://medium.com/u/b2e967fefa18">Yohana Defrita</a> adalah salah satu pengalaman yang masih membekas. Selain karena buku bacaan yang “bikin kenyang”, sewaktu berjumpa secara daring di Bookversations, rupanya beliau adalah seseorang yang jauh dari hiruk-pikuk media sosial. Setelah itu, saya jadi sering <em>scroll</em> Booknotations untuk baca tulisan beliau.</p><p>Secara personal, pengalaman menjadi editor di Booknotations sebenarnya membuat saya merasa punya teman sebab dua semester terakhir di perkuliahan, saya sangat sering sendirian. Beberapa teman memang menjauh karena berbeda pandangan politik, hobi, hingga waktu yang sering kali tidak bisa dialokasikan untuk bersama.</p><p>Maka dari itu, bertemu Kak Aya, Kak Ahmad, Kak Fira, Kak Ibe, dan Kak Iyas, menjadi salah satu momen favorit saya. Bahkan, kalau boleh jujur, kegiatan mengedit tak selalu meninggalkan kesan karena banyaknya penulis dengan gaya yang saya pun sulit mengingat.</p><p>Belum lagi, kemudian ada segmen Bookversations yang membuat saya melihat beberapa wajah baru. Setelah bertemu secara daring, saya akan membaca beberapa tulisan yang muncul, kemudian merasa jadi lebih bersemangat untuk membaca tulisan yang akan datang.</p><p>Kegiatan membaca dan menulis tak semata-mata membuat saya hanya jatuh cinta pada gagasan, pola pikir, dan selera seseorang. Tetapi yang justru membuat saya sangat bahagia adalah dengan mengetahui bahwa di balik gagasan, pola pikir, dan selera tersebut, ada manusia yang menuliskannya.</p><p>Jatuh cinta dengan Booknotations berarti jatuh cinta dengan seisi penanamnya, tukang kebunnya, dan bunga-bunganya. Selain mendapat pengalaman mengedit, wadah berkarya, dan tentu saja <em>claps</em> sebagai penyemangat, saya sangat bersyukur bisa mendapat teman-teman baru. Walau tidak terlampau erat, relasi ini membuat saya percaya bahwa beberapa orang baik berkumpul, di situ ada berkat.</p><blockquote>Bagi saya, berkat itu berbentuk “kakak-kakak” dan “teman-teman” yang mampu berdialog, bukan hanya menyoal buku atau bacaan, tetapi juga hal-hal yang secara kebetulan kita abaikan.</blockquote><p><strong><em>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</em></strong></p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=6fc1c7df8842" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/berkat-untuk-saya-di-antara-berkumpulnya-orang-baik-6fc1c7df8842">Berkat untuk Saya di Antara Berkumpulnya Orang Baik</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Bibliopick Oktober Booknotations]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/bibliopick-oktober-booknotations-4a7087770a10?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/4a7087770a10</guid>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[october]]></category>
            <category><![CDATA[books]]></category>
            <category><![CDATA[newsletter]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Maulana M. Ibrahim]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 31 Oct 2026 13:03:58 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-10-31T22:06:56.078Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Editors’ Pick #6: <strong>Sentuhan Manusia yang Tak Tergantikan</strong></h4><p>Menjadi editor adalah salah satu pengalaman yang menyenangkan. Apalagi dapat menemukan tulisan-tulisan yang bagus untuk dibaca. Ada kesenangan tersendiri ketika mengedit sekaligus membaca tulisan itu. Namun, di sisi lain kadang ada hal-hal yang menyedihkan pula. Misalnya, ketika harus menolak tulisan yang tidak sesuai ketentuan dari Booknotations. Terkadang, rasanya tidak tega saja.</p><p>Bagi saya setiap tulisan punya pembacanya masing-masing. Bahkan setiap editor punya tulisan favorit mereka masing-masing. Selera inilah yang membuat penilaian pada setiap tulisan berbeda-beda.Walaupun begitu, setiap tulisan adalah sesuatu istimewa.</p><p>Di era kecerdasan buatan saat ini, menulis menjadi hal yang tidak mudah. Menentukan tema, menggali informasi untuk referensi dan lain-lain membutuhkan usaha. Maka tulisan sederhana pun jadi istimewa karena terdapat keunikan tersendiri dari setiap sudut pandang yang disajikan. Terutama hasil dari usaha itu juga melibatkan kegelisahan dari penulisnya soal apakah karyanya cukup layak khalayak atau tidak.</p><p>Bersaing dengan kecerdasan buatan, menurut saya bukan jadi perkara mudah. Karena mudah saja bagi teknologi untuk menghasilkan tulisan dengan cepat. Tulisan yang dikembangkan oleh kecerdasan buatan ini, agaknya juga membuat penulis yang meminta bantuan ke kecerdasan buatan tanpa mau mengembangkan tulisan-tulisan itu sendiri. Sehingga tidak ada perkembangan yang bagus bagi penulis yang tidak mau mengembangkan karyanya sendiri dan terlalu fokus pada hasil kecerdasan buatan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/0*y0y_CLl7uX6caTFH" /><figcaption>Photo by <a href="https://unsplash.com/@zachmmalin?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Zach M</a> on <a href="https://unsplash.com?utm_source=medium&amp;utm_medium=referral">Unsplash</a></figcaption></figure><p>Begitulah teknologi kalau sampai orang terlalu bergantung kepadanya. Maka dengan mudah teknologi mengeruk keuntungan dari ketergantungan terhadap penggunaan teknologi. Jika dulu awal-awal tidak terlalu bergantung, tapi kini dengan mudah orang-orang dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi karena teknologi itu sudah menjadi bagian dari hidup mereka dan sulit lepas.</p><p>Ketergantungan terhadap teknologi ini juga dibahas dalam salah satu tulisan yang terpilih <em>Editors’ Pick</em> bulan ini.</p><p><a href="https://medium.com/u/12cd2c05fb46">Luthfiyyah Damayani</a> menuliskan poin-poin menarik terkait <a href="https://medium.com/booknotations/ketika-internet-sengaja-dibuat-menyebalkan-fa663d6261b3">buku <em>Enshittification </em>karya Cory Doctorow dengan baik</a>. Di dalam tulisan tersebut, Luthfiyyah menjelaskan bagaimana isi buku tersebut. Tulisan ini jadi salah satu tulisan yang menyenangkan untuk dibaca. Walaupun buku ini non fiksi tapi penjelasannya sangat mengalir dan nyaman untuk diikuti. Bagaimana dia memberikan intisari yang bisa diperah oleh para pembaca. Sehingga para pembaca dengan mudah memahami isi dari tulisan tersebut dan konten dari bukunya.</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/ketika-internet-sengaja-dibuat-menyebalkan-fa663d6261b3">Ketika Internet Sengaja Dibuat Menyebalkan</a></p><p>Reviu berikutnya menarik karena mengajak kita membayangkan sesuatu yang menyenangkan. <a href="https://medium.com/u/1452436d640f">Melinda Sintawati</a> membagikan pengalamannya membaca<a href="https://medium.com/booknotations/tongkrongan-perempuan-gila-dalam-sihir-perempuan-6b4a2c655756"> <em>Sihir Perempuan</em> karya Intan Paramadhita </a>dengan cara yang segar: ia mengulas kumpulan cerpen itu sambil mengajak para tokohnya nongkrong. Isinya diceritakan dengan baik, dan bayangan tentang tokoh-tokoh itu yang berkumpul terasa hidup. Ia akan memesankan segelas darah untuk Saras dalam cerpen “Vampir” dan mengajak Mak Imah membawa bunga agar suasana lebih wangi.</p><p>Menariknya, buku ini bercerita tentang perempuan-perempuan yang dianggap gila karena tidak patuh pada patriarki dan standar kecantikan yang menindas mereka. Banyak hal yang diceritakan Melinda secara apik. Ia bahkan memakai lagu Nadin Amizah, “Perempuan Gila”, untuk menggambarkan betapa gilanya perempuan-perempuan dalam buku itu. Saya membayangkan tongkrongan ini begitu mengerikan: duduk semeja dengan tokoh-tokoh yang tega memotong jari suaminya membuat bulu kuduk saya meremang. Mereka tampak manis, tetapi saya tidak yakin bisa tenang berada di dekat mereka.</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/tongkrongan-perempuan-gila-dalam-sihir-perempuan-6b4a2c655756">Tongkrongan Perempuan Gila dalam Sihir Perempuan</a></p><p>Setiap orang punya cara untuk menceritakan kesan dalam membaca, ada Melinda yang mengajak nongkrong tokoh dalam kumpulan cerpennya, ada juga <a href="https://medium.com/u/e12fa6dbf01d">Angsa Hitam</a> membagikan kesannya menikmati perjalanan Samiam dari tiga buku karya Zaky Yamani. Saya takjub sekali saat membacanya. Angsa Hitam mengulas<a href="https://medium.com/booknotations/perjalanan-kehilangan-dan-pembebasan-memaknai-akhir-kisah-samiam-44e8d738b18c"> <em>Perjalanan Mustahil Samiam</em></a> secara runtut menjelaskan buku kesatu sampai ketiga. Setiap buku dia mengulas sesuai dengan kesannya saat membaca. Seperti buku kedua yang baginya menjadi buku paling bagus dan bahkan bisa dibaca ulang saat dia ingin membaca kembali perjalanan Samiam.</p><p>Apalagi di akhir tulisan Angsa Hitam menjelaskan lebih gamblang dan kesan-kesannya pada trilogi itu. Dia menyampaikan bahwa ada perubahan pandangan dari yang penasaran dan penuh harap. Namun, setelah itu dia menyadari bahwa akhir yang membahagiakan tidak selalu mendapatkan kembali segala sesuatu yang hilang. Terkadang perjalanan justru mengubah cara pandang seseorang saat memahami bahagia. Kesan ini menjadi menarik karena dia mampu untuk berdamai dengan akhir dari kisah Samiam dan mengambil hikmah dari buku itu.</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/perjalanan-kehilangan-dan-pembebasan-memaknai-akhir-kisah-samiam-44e8d738b18c">Perjalanan, Kehilangan, dan Pembebasan: Memaknai Akhir Kisah Samiam</a></p><p>Saya sangat senang sekali menemukan tulisan-tulisan tadi. Bagi saya tulisan-tulisan bagus adalah harapan bahwa manusia masih sanggup menulis walaupun di tengah tren kecerdasan buatan yang dengan mudah membuat tulisan secara instan. Apalagi menemukan perspektif dari buku-buku yang mereka baca. Tentu tulisan-tulisan lain juga bagus namun <em>Editors’pick </em>harus memilih tiga tulisan yang bagus.</p><p>Percayalah setiap tulisan memiliki pembacanya masing-masing. Tidak perlu khawatir tulisan tidak diambil di sini. Selama tulisan itu ditulis sendiri bukan hasil <em>generate </em>kecerdasan buatan harusnya ada rasa bangga karena sudah menulis dengan kemampuan sendiri. Selama tulisan-tulisan berkaitan dengan buku dan membahas buku. Serta bukan hasil <em>generate</em> kecerdasan buatan, tulisanmu adalah bagian penting untuk Booknotations. Silakan kirimkan saja ke kami dan jadi bagian dari publikasi kami. Terakhir jangan lupa menulis dan membaca.</p><blockquote>Oh ya, catatan penting. Bagi yang terpilih menjadi penulis dengan tulisan terbaik bulan ini, hubungi kami via email untuk claim hadiah buku. Email kami: booknotations@gmail.com</blockquote><h3>Berikut beberapa buku yang bisa dipilih:</h3><p>1. Postcapitalism<br>(bahasa: Inggris; penulis: Paul Mason)</p><p>2. Economist on the Wall Street<br>(bahasa: Inggris; penulis: Peter L. Bernstein)</p><p>3. Change!<br>(bahasa: Indonesia; penulis: Rhenald Kasali)</p><p>4. Standar Akuntansi Keuangan Syariah Efektif 1 Januari 2017<br>(bahasa: Indonesia; penulis: Ikatan Akuntan Indonesia)</p><p>5. The Intelligent Investor<br>(bahasa: Inggris, penulis: Benjamin Graham)</p><p>6. Built on Value<br>(bahasa: Inggris, penulis: Weiwei)</p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=4a7087770a10" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/bibliopick-oktober-booknotations-4a7087770a10">Bibliopick Oktober Booknotations</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Makhluk Bumi: Saat Tuntuan Normal Dipertanyakan]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/makhluk-bumi-saat-tuntuan-normal-dipertanyakan-eeaa7c445b21?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/eeaa7c445b21</guid>
            <category><![CDATA[book-review]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[novel]]></category>
            <category><![CDATA[october]]></category>
            <category><![CDATA[fiksi]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Maulana M. Ibrahim]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 31 Oct 2026 04:47:16 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-10-31T04:47:14.884Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kehidupan, berlaku berbagai norma dan aturan. Orang yang tidak mematuhinya bisa diasingkan, bahkan dianggap tidak normal. Lalu, bagaimana jika ada manusia yang tidak mengakui dirinya sebagai makhluk bumi dan menolak mengikuti aturan serta pandangan umum?</p><p>Itulah yang dikisahkan dalam novel <em>Makhluk Bumi</em> karya Sayaka Murata. Lewat novel ini, Murata mengkritik sistem yang berlaku dan menunjukkan bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan sistem, apalagi jika sampai menekan dan merenggut kebebasan memilih hidup yang ingin dijalani.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*7pwNTNb5MXWBJIfIhZErWw.jpeg" /><figcaption>Dokumen Pribadi</figcaption></figure><p>Meski ceritanya aneh dan tidak lazim, novel ini sebenarnya menyampaikan sebuah gagasan lewat kisah Natsuki. Sejak kecil, ia dituntut menjadi cerdas, berprestasi, kalem, baik, dan penurut. Baginya, semua tuntutan itu adalah sistem yang mengekang dan membuatnya tidak benar-benar hidup. Dalam bayangannya, ia adalah penyihir dari Pohapipinpobopia yang melindungi bumi dari penyihir jahat, ditemani Pyut, boneka landaknya, yang memberinya kekuatan.</p><p>Setiap perayaan Obon, Natsuki datang ke rumah neneknya dan bertemu sepupunya, Yuu, yang menganggap dirinya alien yang kehilangan pesawat untuk pulang ke planet asalnya. Bersama Yuu, Natsuki bisa melepaskan identitasnya sebagai makhluk Bumi. Hubungan mereka istimewa karena sama-sama merasa bukan bagian dari sistem. Mereka selalu bersama, bahkan menjadi pasangan.</p><p>Namun, sebuah peristiwa buruk di masa kecil memisahkan mereka.</p><p>Natsuki kecil belum sepenuhnya memahami tuntutan orang dewasa, sementara hidupnya penuh tekanan. Ia mengalami pelecehan dari guru lesnya, tetapi ibunya mengabaikan hal itu sehingga Natsuki hidup dengan trauma mendalam. Ia kemudian melakukan perbuatan yang baginya adalah pertarungan melawan penyihir jahat, padahal kenyataannya tidak demikian.</p><p>Banyak bagian sulit dipahami karena pesannya disampaikan lewat perumpamaan. Kisahnya aneh, absurd, dan belum tentu disukai semua orang. Buku ini tidak cocok untuk semua pembaca, meskipun gagasannya menarik untuk diikuti.</p><p>Aku sendiri kurang cocok dengan cara penceritaannya yang membuat mual dan terkadang terlalu bebas. Aku juga kurang menyukai bagian kehidupan Natsuki setelah ia lepas dan menjadi “pabrik”. Istilah untuk manusia yang menjalani kehidupan normal: bekerja, berkeluarga, dan melahirkan.</p><p>Menurutku, hidup tidak harus terus-menerus dijalani dengan tuntutan yang kadang tak masuk akal. Namun, manusia juga tidak boleh sepenuhnya bebas tanpa batas, sehingga keduanya perlu diseimbangkan. Kehidupan Natsuki yang terlalu ingin lepas bukanlah panduan hidup bagi kita. Lebih baik tetap mengikuti kata hati tanpa keluar dari norma yang wajar. Selama memungkinkan, kita bisa menjalani hidup secara normal sesuai dengan diri sendiri.</p><p>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=eeaa7c445b21" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/makhluk-bumi-saat-tuntuan-normal-dipertanyakan-eeaa7c445b21">Makhluk Bumi: Saat Tuntuan Normal Dipertanyakan</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[[REVIU] Animal Farm | George Orwell]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/reviu-animal-farm-george-orwell-27191d89ef05?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/27191d89ef05</guid>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[october]]></category>
            <category><![CDATA[fiksi]]></category>
            <category><![CDATA[book-review]]></category>
            <category><![CDATA[politics]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[c]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 31 Oct 2026 04:41:43 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-10-31T04:49:42.119Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>“Aku tidak ingin mengambil kehidupan, bahkan hidup manusia.” — Boxer, hlm. 43</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*Q-kgk3MKL6Z8Z9uMbm85RA.jpeg" /><figcaption>Dok. pribadi</figcaption></figure><p><strong>RATE: 🌟4.7/5!</strong></p><blockquote><em>Judul: Animal Farm</em></blockquote><blockquote><em>Penulis: George Orwell</em></blockquote><blockquote><em>Penerbit: Bentang Pustaka</em></blockquote><blockquote><em>Jumlah halaman: 140</em></blockquote><blockquote><em>Tahun Terbit: 2015</em></blockquote><h3><strong>BLURB:</strong></h3><p>Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.</p><p>Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan… walau harus dengan kekerasan.</p><h3><strong>REVIU:</strong></h3><blockquote>“Kenapa kita merepotkan apa yang terjadi sesudah kita mati?”</blockquote><blockquote>“Kalau toh Pemberontakan itu terjadi, apa bedanya kita mengusahakannya atau tidak?”</blockquote><blockquote>— Kamerad, hlm. 16</blockquote><p>Demi apa pun mau nangis banget karena <em>finally </em>bisa baca buku ini! Aku yakin 100% kalau dari kalian semua pasti udah tahu dong buku fenomenal dan legendaris ini?</p><p>Yap! <em>Animal Farm</em>, novel satir politik tipis yang mampu membuat pembacanya ngerasa kayak lagi diceritain tentang problem yang sedang dialami negaranya sendiri wkwkwk.</p><p>Sebetulnya, aku tuh udah punya buku ini sejak tahun lalu. Tapi karena berbagai alasan ini itu jadilah baru bisa menikmatinya sekarang ini.</p><p>Butuh waktu tiga hari buat aku menyelesaikan bacaan ini. Dan selama baca, selalu dibikin geram <em>pol </em>sama kelakuan Napoleon dan antek-anteknya itu! Sebel banget sumpah! <em>Kek,</em> ada ya, orang yang jahatnya kebangetan kayak gitu….</p><p>Gak bohong. Meskipun halamannya cuma sedikit, tapi pembahasan di dalam buku ini beneran semantep itu. Jadi gak heran lagi kenapa orang-orang masih pada suka banget ngebahas buku <em>Animal Farm</em>. Soalnya emang ngedaging dan berbobot banget! Bahkan ya, sangat amat <em>relatable </em>sama pemerintahan saat ini (upss).</p><blockquote><strong>“Keberanian tidak cukup,”</strong></blockquote><blockquote><strong>“Loyalitas dan kepatuhan lebih penting.”</strong></blockquote><blockquote><strong>— <em>Squealer, hlm. 57</em></strong></blockquote><p><em>Honestly</em>, ini pertama kalinya aku baca tulisan George Orwell. Dan tentu aja sesuai banget sama ekspektasiku. Terlebih karena bukunya ini tipis wkwk, jadi gak butuh banyak waktu buat menyelesaikannya. Sebenernya sih, bisa aja aku selesaikan dalam sekali duduk, tapi karena aku pengin menyerap dengan baik (sok banget tuh) apa aja pesan yang ingin disampaikan di dalamnya. Jadinya aku baca dengan pelan-pelan, biar paham sama keseluruhan isinya.</p><p>Mulai dari topik yang diangkat, <em>cover </em>buku sampai narasi di dalamnya, semua aku suka banget. <em>Time stamp</em>-nya jelas pun alur kejadiannya juga diceritain dengan runut dan ringkas, jadi gak bingung sama alur ceritanya. <em>Layout</em>-nya rapi, gak ada <em>typo </em>(?) atau mungkin ada tapi akunya aja yang gak sadar? Ukuran <em>font</em>-nya juga pas banget, bikin nyaman selama baca.</p><p>Walaupun pembahasan yang diangkat ini sebenarnya cukup krusial dan sensitif, tapi bahasa yang dipake tuh enak pake banget karena diceritakan menggunakan gaya fabel. Jadi lebih memudahkan pembaca untuk memahami inti dari ceritanya. <em>I think</em>, orang awam juga bakal paham sama apa yang lagi dibicarakan di dalamnya. Yap, tentang penyalahgunaan kekuasaan, pemimpin yang diktator, pengkhianatan, korupsi, manipulasi, dan teman-temannya.</p><blockquote><strong>“Bahkan, ketika masih muda, aku tidak bisa membaca apa yang sudah tertulis di sana. Tetapi, tampaknya dinding itu berbeda. Apakah Tujuh Perintah itu masih sama seperti dulu, Benjamin?”</strong></blockquote><blockquote><strong>— <em>Clover, hlm. 133</em></strong></blockquote><p>Jujur, miris banget setiap kali baca bagian para binatang yang mati-matian kerja keras selama bertahun-tahun, tapi kehidupan mereka gak lantas lebih baik dari sebelum adanya pemberontakan.</p><p>Selalu dibungkam dan gak dikasih <em>space </em>untuk mengutarakan protes atau pendapat, ransum yang selalu dikurangi untuk alasan “penyesuaian”, jam kerja dan kesenjangan hidup antara binatang lain dengan para babi dan anjing; susu, buah-buahan, sampai jatah bir per hari.</p><p>Pun banyaknya hewan gak bersalah, yang mati mengenaskan — entah itu karena dieksekusi ataupun perang melawan manusia, keduanya merupakan sama-sama akibat dari kebengisan dan keserakahan dari Napoleon.</p><p><em>Part </em>paling menyayat hati buatku pribadi tuh, pas kincir angin yang udah mati-matian dibuat akhirnya hancur beberapa kali. Sama, waktu Boxer dibawa pergi sama dokter gadungan. Yang harusnya dia mendapatkan pengobatan, ternyata malah dia disembelih. Dan pada akhirnya gak ada satu pun dari binatang lain yang bisa menyelamatkan dia. Karena gak ada yang bisa baca dan kemakan sama hasutan Squealer.</p><blockquote><strong>SEMUA BINATANG SETARA</strong></blockquote><blockquote><strong>TETAPI BEBERAPA BINATANG LEBIH SETARA DARIPADA YANG LAINNYA</strong></blockquote><blockquote><strong><em>— hlm. 134</em></strong></blockquote><p>Sumpah, aku muak dan mau marah banget setiap kali Squealer <em>yapping</em>. Kek, gak jelas banget sumpah. Semua kalimat yang dia keluarin isinya cuma dusta buat mengelabui para binatang lain supaya tunduk dan percaya sama kepemimpinan Napoleon. Padahal awalnya gak ada tuh yang nunjuk dia sebagai pemimpin wkwk alias NPD <em>final boss</em>!</p><p>Terus yang paling ngeselin tuh, waktu Squealer mengubah bunyi dari prinsip Binatangisme. Di mana dia selalu nambahin kata di setiap masing-masing bunyi Perintah yang sudah ada. Puncaknya, pas Tujuh Perintah sebelumnya diganti dengan Perintah tunggal. <em>LIKE</em>, <em>what the actually hell dude?!</em> Gak bisa komentar apa pun selain bilang jahat banget bangettt!</p><p>Bahkan yah, aku ada banyak coret-coret buku ini karena saking gemes sama kelakuan Napoleon yang di luar nalar itu. Aku juga kasihan banget sama Snowball yang selalu dijadikan kambing hitam sama dia setiap kali ada masalah yang muncul. Padahal kan dia udah pergi gak tahu ke mana, tapi kenapa selalu dibawa-bawa deh… aneh banget sumpat.</p><blockquote><strong>“Jangan bawa saudaramu sendiri pada kematiannya!”</strong></blockquote><blockquote><strong>— <em>Kemerad, hlm. 122</em></strong></blockquote><p>Terlepas dari semua kejadian janggal dan bikin naik darah itu, aku masih bisa ketawa lepas sama humor sarkastik yang di selipin di dalam buku ini.</p><p>Terutama bagian Mollie dan semua agenda feminisnya itu. Gemes banget sumpah! Ya, walaupun pada akhirnya dia juga pergi dari peternakan itu, <em>at least</em> dia jadi gak ikut ngerasain kejamnya ada di bawah kepemimpinan Napoleon.</p><p>Ada satu lagi kejadian yang menurut aku lucu banget sekaligus memprihatinkan. Yakni pas Boxer diangkut ke dalam truk buat dibawa pergi. Ada banyak hewan pada ngasih ucapan selamat jalan ke Boxer, tanpa pernah tahu dan paham dengan adanya tulisan di mobil itu. Terus Benjamin, salah satu dari binatang yang bisa membaca di peternakan, akhirnya mencak-mencak dan ngata-ngatain semua hewan yang udah ngucapin selamat.</p><p><em>Here’s my favorite</em> kalimat humoris yang ada di dalam novel satir ini:</p><blockquote>“Pita yang sangat kamu puja itu adalah tanda perbudakan. Tidak bisakah kamu paham bahwa kemerdekaan jauh lebih berharga daripada pitamu itu?” — <em>Snowball, hlm. 16</em></blockquote><blockquote>“Tolol! Apa kau tidak lihat apa yang tertulis pada sisi mobil itu?”</blockquote><blockquote>“Alfred Simmonds, Penyembelih Kuda dan Pembuat Lem, Willingdon. Pedagang Kulit Hewan dan Makanan Tulang. Pemasok Rumah Anjing.’ Kau tahu apa artinya itu? Mereka akan membawa Boxer ke tempat penyembelihan!”</blockquote><blockquote>— <em>Benjamin, hlm. 121</em></blockquote><p><em>Overall</em>, aku sangat menikmati bacaan ringan yang gak sepenuhnya ringan ini. Selain terhibur, aku juga kembali disadarkan untuk lebih mengkritisi segala hal yang menyangkut politik, negara, dan pemerintahan. Karena sejatinya kita sebagai masyarakat gak akan pernah bisa terlepas dari hal-hal tersebut.</p><p>Isinya daging semua. Pesan moralnya pun tersampaikan dengan sangat baik. Intinya sih, minimal sekali seumur hidup kalian wajib baca <em>Animal Farm.</em></p><p>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=27191d89ef05" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/reviu-animal-farm-george-orwell-27191d89ef05">[REVIU] Animal Farm | George Orwell</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Dari Setiap Langkah, Ada Makna yang Tumbuh]]></title>
            <link>https://medium.com/booknotations/dari-setiap-langkah-ada-makna-yang-tumbuh-c6a7b76bfdf1?source=rss----944c651f4db8---4</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/c6a7b76bfdf1</guid>
            <category><![CDATA[fiksi]]></category>
            <category><![CDATA[booknotations]]></category>
            <category><![CDATA[novel]]></category>
            <category><![CDATA[october]]></category>
            <category><![CDATA[berlari]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Khoiru Abdan]]></dc:creator>
            <pubDate>Fri, 30 Oct 2026 13:18:55 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2026-10-30T13:18:53.427Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Tentang berlari, menulis, dan memahami kehidupan</h4><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*skm05Po56UqHRrahNZm8Yg.jpeg" /><figcaption>Foto Pribadi</figcaption></figure><blockquote>“Mengalahkan orang lain tidak memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Saya jauh lebih tertarik pada apakah saya berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk diri sendiri, oleh sebab itu, long-distance running sangat cocok dengan pola pikir seperti ini.” — Haruki Murakami</blockquote><p>Salah satu tulisan dalam buku memoar Haruki Murakami berjudul <em>When I Talk About When I Talk About Running.</em></p><p>Buku ini mengisahkan tentang Haruki Murakami dalam menghadapi gejolak batin dari proses ia berkarier sebagai penulis hingga menemukan arti hidup yang baru dengan berlari.</p><p>Siapa sangka, lari yang menguras banyak tenaga, membuat badan lelah, sampai bisa membuat badan cedera bisa memberikan makna yang berbeda dalam menjalani kehidupan.</p><p>Bayangkan saja, latihan setiap pagi tanpa disuruh ketika tubuh sedang nyaman memeluk guling. Dibilang tidak asyik karena menolak banyak ajakan nongkrong untuk memprioritaskan istirahat pada malam hari. Hingga, menjaga asupan yang dikonsumsi agar tubuh mampu bertahan ketika berlari jarak jauh.</p><p>Begitulah proses yang dijalani oleh Maruki Murakami. Dalam perjalanan yang ia lakukan, ia selalu menemukan makna, entah itu baik maupun buruk. Mulai dari ia kehilangan motivasi untuk berlari pada pagi hari, hingga mengusahakan yang terbaik dari setiap langkah yang ia lakukan saat berlari walau keadaan tubuh tidak baik-baik saja.</p><p>Sebagai seseorang yang juga menggeluti olahraga lari, aku menemukan banyak pengalaman yang terasa akrab ketika membaca buku ini. Saat lari, itu tidak selalu tentang keberhasilan menyelesaikan jarak, tetapi juga tentang cerita yang tak pernah diceritakan sebelum mentari pagi menyapa ketika tubuh enggan bergerak dan pikiran mempertanyakan alasan untuk terus berlari.</p><p>Makna yang didapatkan saat berlari, menguatkannya sebagai penulis. Ia mengibaratkan berlari itu sama layaknya menulis, pada setiap sesi latihan, tidak akan pernah mencapai tahap akhir, akan selalu ada langkah yang bergerak maju terus-menerus.</p><p>Begitu pula dengan menulis. Tidak ada satu tulisan pun yang benar-benar menjadi akhir dari perjalanan seorang penulis. Selalu ada gagasan baru yang menunggu untuk dituangkan. Selalu ada cerita untuk dibagikan.</p><p>Pola pikir seperti ini yang ia bawa untuk melangkah lebih jauh lagi. Hingga ia sadar bahwa menulis merupakan proses panjang yang harus dilewati setiap hari, melihat halaman kosong, menceritakan pengalaman dengan analogi yang baru, dan selalu akan ada ide baru yang bisa disampaikan. Begitu juga berlari, kita dihadapkan dengan mood yang kosong, hamparan aspal yang baru dijejaki, dan pikiran yang masih belum terisi pada pagi hari.</p><p>Selain dalam membangun pola pikir, dalam kesehatan, Murakami pun sadar bahwa bekerja sebagai penulis adalah kegiatan paling tidak menyehatkan karena harus duduk berjam-jam sambil menghadap layar kosong. Oleh sebab itu, lari sebagai penyeimbang dirinya dalam berkarier sebagai penulis agar tetap bugar jasmani untuk bisa menghasilkan karya-karya selanjutnya.</p><p>Dari menjaga kesehatan, ia bisa berkelana jauh, bepergian ke berbagai negara sambil mengikuti ajang lari bergengsi di dunia, seperti The New York City Marathon, The Boston Marathon yang menjadi perlombaan<em> </em>terbaik menurutnya, hingga mengikuti ajang olahraga triathlon sebagai cerita memoar penutup buku.</p><p>Bagi pembaca yang tidak terlalu akrab dengan dunia lari, beberapa bagian dalam buku ini mungkin akan terasa sulit dihapami karena perjalanan yang dihadapi cukup ekstrem, mulai dari latihan berpuluh-puluh kilometer hingga mengikuti triathlon.</p><p>Meski pepngalamannya terbilang ekstrem, buku ini tetap memberikan penggambaran yang baik jika ingin menekuni olahraga lari secara serius serta mengambil makna konsisten dari jerih-payah proses yang dilalui setiap hari untuk bisa diaplikasikan dalam bidang lain di hidup.</p><p>Sebagai penutup, kita yang sedang memulai hidup sehat dengan berlari. Berlari memang tidak selalu membawa kita menuju tempat yang baru. Terkadang, kita justru kembali ke tempat semula, melewati jalan yang sama, dan menempuh jarak yang tidak jauh berbeda. Namun, dari setiap langkah itulah, kita perlahan mengenali diri sendiri dan mulai perlahan memupuk hidup sehat dengan cara yang sebelumnya tidak pernah terpikiran.</p><p><strong>Di hadapan langit Pontianak yang kembali membiru, 30 Oktober 2026<br>Khoiru Abdan</strong></p><p>Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!</p><p><a href="https://medium.com/booknotations/submission-guideline-booknotations-d90244b86340">Submission Guideline —  Booknotations</a></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=c6a7b76bfdf1" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/booknotations/dari-setiap-langkah-ada-makna-yang-tumbuh-c6a7b76bfdf1">Dari Setiap Langkah, Ada Makna yang Tumbuh</a> was originally published in <a href="https://medium.com/booknotations">Booknotations</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>