Sitemap
Komunitas Blogger M

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Mencari Arah Literasi Indonesia di Medium

3 min readDec 13, 2025

--

Press enter or click to view image in full size
Photo by Ya' Wahyu on Unsplash

Setelah Mas Bagus Ramadhan dan disusul Pak Stepanus BP menuliskan esainya mengenai literasi Indonesia di kancah Medium, saya mau–tidak mau harus menuliskan pula beberapa hal. Karena komentar saya di kedua tulisan tersebut sepertinya bukan sekadar komentar, hahaha…

Satu hal yang tampaknya kurang dari literasi Indonesia — setidaknya di Medium — adalah budaya diskusi.

Hal ini terlihat di tulisan berbahasa Indonesia dan ruang Telegram KBM. Interaksi penulis-pembaca hampir tidak terjadi. Kedekatan lebih sering muncul karena faktor usia atau frekuensi hadir, bukan karena pertukaran gagasan.

Mayoritas tulisan Medium berbahasa Indonesia memang refleksi personal atau tema sosial-humaniora. Ketika ada perbedaan pandangan, elaborasinya tidak lebih dari perbedaan rasa. Akibatnya, diskusi cepat mentok.

Kontras sekali dengan pengalaman saya ketika sepenuhnya menulis dalam bahasa Inggris dengan tema astronomi dan fisika — bidang yang bahkan di luar akademik saya. Interaksinya justru masif. Saya bisa berbalas diskusi panjang dengan orang asing tentang komet interstellar, flare bintang, atau neutrino, bahkan hingga ucapan selamat kelahiran anak saya di sela obrolan tentang 3I/Atlas. Diskusi objektif yang tadinya dingin dan sains-oriented justru membuka kehangatan antarmanusia.

Dan jujur saja, pola interaksi semacam itu belum saya temukan di komunitas penulis Medium Indonesia. Jarang ada dialog yang membuka wawasan, apalagi diskusi pengetahuan yang berkembang dua arah. Tulisan reflektif mendominasi, mungkin karena kebutuhan warga Indonesia untuk didengarkan — kita terlalu lelah di dunia nyata, sehingga datang ke Medium untuk pelepasan penat, demikian menurut analisis bu DyPa Dinara.

Saya tidak anti-reflektif — saya sendiri praktisi sosial-humaniora — tapi saya menyayangkan ketika ruang untuk memperluas cakrawala menjadi sempit. Padahal Medium secara desain mendukung itu: bukan hanya claps, tapi membaca tuntas dan berdiskusi dalam kolom komentar.

Soal insentif?
Itu hanya efek samping; bukan alasan tetap menulis. Dan tentu bukan solusi untuk ekosistem literasi Indonesia. Jika motivasi hanya uang, kita mengikuti pasar Medium saja. Jika motivasi membangun literasi Indonesia, ya… diperlukan kesabaran yang kadang tampak tak berbatas.

Sepertinya pasar tulisan sains atau STEM di Indonesia memang kecil. Sudah beberapa kali saya merasa mentok. Bukan karena royalti tidak bergerak, tapi pasarnya tidak ketemu. Walaupun, saya tetap percaya literasi bukan hanya mengikuti pasar — tetapi juga ikut membentuknya. Salah satu caranya dengan menyediakan alternatif: sains yang ditransliterasikan, disederhanakan, diberikan cuma-cuma.

Di titik ini, saya memahami sepenuhnya gagasan Bu Dinara tentang kelelahan pembaca dan kesan elitis Medium. Tapi apakah itu berarti budaya literasi Indonesia akan selamanya berhenti pada reflektif personal?

Get Rudi Widiyanto’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Semoga tidak. Meskipun, ya… saya pun mulai irit menulis dalam bahasa Indonesia dua bulan terakhir. Hahaha. Makanya saya menuliskan komentar kagum di tulisan Pak Ivan Lanin yang masih berusaha membumikan rubrik sains-lingua.

Pak Stepanus BP menawarkan konsep indah: silaturahmi digital dan tongkonan literasi. Sesuatu yang sebenarnya sederhana: saling berkunjung, membaca, dan meninggalkan jejak kecil. Tapi justru di titik inilah masalah kita dimulai — komentar.

Secara kognitif, sebelum berkomentar, kita harus membaca secara utuh, memahami makna penulis, kemudian menentukan sikap: sepakat atau tidak. Dua tahap pertama tidak terlalu sulit.

Press enter or click to view image in full size
Photo by Ismail Hasan on Unsplash

Tahap ketiga mulai timpang. Pola pendidikan Indonesia tidak membiasakan berpikir kritis, skeptis, atau terbuka. Bahkan ketika setuju pun kita tak selalu tahu apa yang disetujui. Itu sering kali hanya konformitas.

Dan konformitas, bagaimana pun, tumbuh dari kultur budaya kolektivitas. Kalau berbeda, dianggap aneh. Maka, “saya ikut setuju saja deh…”

Pada akhirnya, kita — sesama penulis — perlu menyajikan niche yang beragam, agar pembaca punya pilihan dan ekosistem literasi tumbuh lebih sehat.

Dalam bahasa John Nash: keseimbangan tercapai ketika masing-masing memberi yang terbaik untuk dirinya dan kelompoknya. Mungkin Medium Indonesia butuh ruang seperti itu.

Tapi mungkin dari sinilah kita mulai: Dengan bertanya, bukan hanya bercerita. Dengan duduk bersama, bukan hanya tampil sendiri. Dengan membuka ruang diskusi, bukan sekadar menunggu interaksi.

Mungkin, kalau semuanya bergerak setapak demi setapak, literasi Indonesia bisa tumbuh di Medium — pelan, organik, dan tetap menyisakan rasa ingin tahu.

Barangkali memang begitu cara kita merawatnya. Atau, siapa tahu, masa depan literasi Indonesia justru hadir dari arah yang sama sekali berbeda?

Jabat erat,

RWD

--

--

Rudi Widiyanto
Rudi Widiyanto

Written by Rudi Widiyanto

Psychology-trained Assessment Specialist by day. Captain of Starship Discovery II by night. Where traffic lights meet starlight and curiosity points skyward.

Komunitas Blogger M
Komunitas Blogger M

Published in Komunitas Blogger M

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia