Sitemap
Kurnia Widya

Kurnia Widya

You have to swim in this complicated life.

Bukan Akhir Murakami

4 min readAug 30, 2026
Press enter or click to view image in full size

2017 pertama kali tahu ada penulis bernama Haruki Murakami, dan pertama kali membaca buku Jepang, aku belum mengerti apa yang membuatku susah menyelesaikan Norwegian Wood. Rasanya cara dia bercerita enak-enak aja dibaca. Pada dasarnya memang aku suka narasi deskriptif. Tapi mungkin itu juga yang membuatku lama-lama bosan. Atau lebih tepatnya aku tidak mampu menemukan yang mana konfliknya, tidak mampu menangkap matters-nya. Tidak pernah ada gambaran seperti apa kehidupan normal di Jepang, apa yang normal dan yang tidak, apa saja batas-batas privasinya. Kesunyian Watanabe — si tokoh utama — juga tidak relevan bagiku di tahun itu. Aku di tahun itu adalah manusia 20-an awal yang energik dan lebih memilih bergaul ke sana-sini, bukan seperti si Watanabe 20 tahun yang lebih pasrah dan minim ambisi.

Awal 2026 setelah membaca memoarnya soal berlari, ingatanku makin kuat tentang bagaimana perasaanku di 2017 itu. Ternyata aku memang dan masih menyukai cara Murakami bercerita. Sederhana, runut, alirannya tidak terasa tersendat. Tulisannya seperti hasil dari menulis seharian penuh tanpa jeda. Tulisan yang dituangkan saja sesuai apa yang dipikirkan saat itu. Tulisan yang tidak tampak ada kehati-hatian. Dengan diriku yang sudah lain, dengan sedikit pemahaman tentang Jepang, membaca Murakami tahun ini jadi lebih mampu memberi maklum. Tapi tidak untuk semua hal. Ada juga hal lain yang nggak pas dengan ukuran akalku.

Aku menangkap kesamaan di antara memoarnya dan Norwegian Wood. Adalah lontaran-lontaran seksis dan identifikasi Murakami soal perempuan yang terlalu menyorot pada bentuk tubuh. Ia menggambarkan perempuan mulai dari rambutnya, jepitan rambutnya, keriputnya, pergelangan tangan, payudara, pinggul, pokoknya semua bagian tubuh. Di Norwegian Wood lebih vulgar dan liar lagi.

Aku cukup yakin mata para feminis memicing ke arahnya mengenai itu. Saat kutelusuri, ternyata Mieko Kawakami pernah menghujamnya beberapa waktu lalu. Kawakami bilang, perempuan bagi Murakami cuma sebatas objek seksual dan media demi pengembangan karakter tokoh utama (laki-laki). Murakami terlampau detail mengeksplor tubuh perempuan sampai terasa kurang ajar. Sementara nasib si tokoh perempuan berujung naas atau mengambang sama sekali.

Aku pernah membaca komentar seorang perempuan di Threads yang membenci Murakami. Dia mengomentari akun Threads laki-laki yang memuji Norwegian Wood. Beberapa rentetan tampak seperti diskusi. Lalu katanya, Murakami itu misoginis. ‘Oh, ya pantas aja. Kamu kan laki-laki (tidak merasa Murakami misoginis). Aku yang perempuan melihatnya misoginis banget,’ katanya menutup debat.

Feminis tidak selalu diisi perempuan. Dan perempuan tidak semuanya membenci Murakami. Ada, lho, teman perempuanku yang tidak terganggu dengan seksisme Murakami. Ya meski aku tidak tahu dia feminis atau bukan. Dia cenderung maklum dan menganggap semua itu soal perbedaan norma saja. Malah dia terhitung sebagai penggemar Murakami. Sama sepertiku, dia suka cara Murakami bercerita. Tapi mungkin karena dia seorang editor di penerbitan, kacamatanya sedikit berbeda dari sekadar pembaca biasa — atau sekadar pembaca perempuan biasa. Lalu apakah aku masuk sebagai penggemarnya atau pengkritiknya?

Get Kurnia Widya’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Betul kalau ada rasa tidak nyaman ketika membaca deskripsi soal perempuan yang melulu dari liuk tubuh dan bentuk payudara. Buku Norwegian Wood punyaku penuh coretan: aaarrrggghhh!!!! obrolan macam apa ini??!!! kok santai banget??? hahhhh???!! pada bagian yang bagiku sangat canggung. Ngomongin seks di segmentasi lain yang asing bagiku.

Tapi, ya, kalau mau adil, tidak ada nada cemooh di deskripsi Murakami soal perempuan. Tidak ada kalimat mengucilkan atau bahkan bullying. Tidak ada tendensi apapun selain menjelaskan detail tubuh seseorang sebagai ciri tokoh tersebut. Soal pantas atau tidak, mungkin tergantung standar norma mana yang mau dipakai untuk mengukurnya. Tergantung kacamata apa yang mau dipakai dan tentu saja memperhatikan konteks. Betul bahwa sesama penulis Jepang sendiri mengkritik ini. Tapi kenyataan lain banyak juga penggemarnya di Jepang sendiri. Ini bukan membela. Ini poin lain dari pengamatanku lewat dua buku Murakami yang kubaca. Manatau nanti berubah pikiran setelah baca bukunya yang ketiga, keempat, atau kelima. Meski dua bukunya saja sudah cukup memberi kesan Murakami penulis yang seperti apa dan akan terbawa ketika baca buku-buku selanjutnya.

Sekarang aku akan berkomentar soal 3 tokoh utama buku ini.

  • Naoko. Tokoh yang paling sering kukeluhkan. Mental issue yang dialaminya asing buatku. Kalau aku jadi teman Naoko, mungkin aku bukanlah teman yang baik karena sepanjang buku nggak bisa memahami dia kenapa.
  • Reiko-san. Tadinya kupikir punya kisah paling masuk akal, ternyata ada sintingnya juga. Aku mendukungnya hanya sampai alasan dia masuk rehabilitasi.
  • Midori. Tokoh yang aku paling suka. Membaca Midori terasa familiar; yang ceplas-ceplos, pecicilan, dan serampangan. Rasanya aku pernah punya sisi seperti itu. Sejak awal aku dukung Midori, meski agak deg-degan juga kalau di akhir dia ikutan sinting dan nggak masuk akal (banyak juga sih tingkah dia yang hahehoh).
  • Watanabe. Saking nolepnya (dari no life, nggak punya kehidupan), satu-satunya dialog terpanjang dia adalah ketika ngobrol sama ayah Midori. Selebihnya cuma sekadar menanggapi ocehan lawan bicaranya tanpa energi yang imbang. Tentu saja dia juga sinting.

Dilema di antara dua perempuan, Naoko atau Midori, adalah ujian bagi Watanabe yang nolep, kesepian, kerennya cuma karena baca Great Gatsby dan buku klasik (selebihnya dia pria murung yang biasa aja). Nuansa Jepang tahun 60-an dengan piringan hitam dan surat-menyuratnya menjadikan kegundahan Watanabe lebih pekat, lebih intens. Selain identik dengan ketenangan, keindahan, dan tokoh yang kontemplatif, Jepang juga melekat dengan kemuraman dan keputus-asaan. Buku Murakami memang Jepang banget.

Jadi, aku termasuk penggemar atau pengkritik Murakami? Sepanjang hidupku, aku sadar kalau abu-abu adalah warna yang — secara nggak sadar — selalu kupilih. Aku di antara menggemari dan mengeluhkan Murakami. Barangkali ini namanya perasaan yang murni, yang tidak sekadar memuja tapi juga mengomentarinya secara terbuka. Selepas ini, aku akan skip baca buku Jepang beberapa waktu ke depan. Kesunyian dan nelangsanya Watanabe kali ini terserap cukup banyak, beda jauh daripada tahun 2017. Baca buku bernuansa Jepang dalam waktu berdekatan hanya akan merawat kenelangsaan itu. Tapi aku tahu ini bukan artinya kapok. Suatu hari aku akan membaca Murakami lagi.

--

--

Kurnia Widya
Kurnia Widya

Written by Kurnia Widya

You have to swim in this complicated life.