Sampai Kapan? Aku Rindu.
Pulang. Satu kata, hanya deretan huruf yang mengisyaratkan untuk berhenti sejenak. Berhenti sejenak setelah berkutat dengan pahit manis kehidupan yang sejati, dari perjalanan panjang mencari jati diri, sementara menepi dari kebisingan duniawi.
Sejenak ingin melepas rindu pada tempat dimana kumenapakkan kakiku untuk pertama kalinya. Bertemu emak, bapak, dan si manusia usil yang lahir pada rahim yang sama denganku, juga bertegur sapa dengan manusia-manusia lain yang menjadi bagian dalam rajutan setiap jengkal kehidupanku dulu.
Tapi sekarang, apakah bisa aku pulang?
Apabila aku egois, bisa-bisa aku membawakan buah tangan berupa oleh-oleh yang sangat tidak spesial itu yang sebelumnya belum pernah kuberikan untuk mereka. Ah tidak, aku tak ingin hal itu terjadi. Bodoh sekali dasar manusia egois.
Tapi aku rindu merasakan hangat dekapan mereka, rasanya lidahku gatal merayu untuk segera mencicipi hasil tangan dan cinta karya koki terhebat sepanjang sejarah hidupku. Ingin rasanya melihat susunan batu bata yang menjadi saksi bisu betapa nakalnya aku dulu. Melihat manusia-manusia lugu yang sering tersipu malu ketika disapa, memutar balik kaset memori ceritera masa lalu, bersenda gurau hingga lupa waktu.
Get anindya keysha’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Setidaknya hanya sebentar, sebelum kembali lagi pada kerasnya kehidupan.
Aku rindu itu semua.
Tapi jarak yang memisahkan, sialnya keterbatasan ini, memandang mereka yang nyata melalui dunia semu yang menyebalkan. Ya, setidaknya aku masih bisa melihat senyum mereka, namun sampai kapan?
Sampai kapan bisa seperti dulu lagi?
Aku sudah sangat rindu, rindu melihat keadaan pulih kembali seperti sediakala, dan juga rindu ingin bertemu mereka yang sudah menungguku dari ratusan kilometer jaraknya.
-K-
June, 2020 — Ditulis di masa pandemi COVID 19





