Lama tidak bersua, Nona
Berpijak pada bibir pantai
Seorang diri? Nona tidak sendiri
Diri Nona, pikiran, dan hati Nona
Sebentar, Nona
Apa yang Nona lakukan?
Mengapa mata bulat itu terpejam?
Sampur merah itu
Apakah tidak sesak?
Hamba rasa
Itu menyakitkan dan menyesakkan
Membalut setiap luka
Menyisih dari pedihnya debu di mata
Janganlah pejamkan matamu Nona
Lepas sampur buruk itu!
Apakah nona tidak ingin melihatnya?
Hamparan birunya lautan yang sangat luas itu
Tidakkah Nona berpikir seberapa dalam itu?
Bagaimana ribuan makhluk cantik dan manis hidup di dalamnya
Kagum dengan Sang Maha Esa yang mencetuskan ide karya seindah ini
Sembari hembusan angin laut yang khas menerpa setiap helai rambut panjang hitam legam kepunyaan Nona
Oh! Apakah Nona mendengar sesuatu?
Terdengar seperti gemuruh
Gemuruh yang candu namun terkadang menakutkan
Gulungan ombak yang Nona pandang nan jauh disana
Menjadi terpaan kecil arus air membasahi kaki
Birunya selimut angkasa dan busa-busanya
Perlahan bergradasi beralih warna Lantana camara
Pameran lukisan secara cuma-cuma
Masihkah mata bulatmu itu terpejam, Nona?
Masihkah sampur merah itu terikat?
Sekalipun mata Nona ingin menutup
Lalu apakah hati juga ingin membuta?
Juga pikiran nona apa tidak ingin berkelana?
Campakkan sampur merah itu
Bulir bening itu lepaskanlah
Biarkan ia jatuh dan berkelana bersama kawannya
Berlari serta surutnya air laut
Get anindya keysha’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
-K-
July, 2023





