Menemukan Makukuhan dalam Tulisan CW Wormser 1920–1940
Alkisah, di suatu sore yang dingin, usai mengantar pesanan buku ke kantor pos, saya ditelpon untuk ikut menyusun sebuah karya tulis, buku tepatnya. Temanya tentang Ki Ageng Kedhu. Jawaban pertama saya tentu saja menolak, karena saya tidak tahu sedikitpun tentang nama itu. Lalu orang yang mengajak saya, mas Amir namanya, menjelaskan bahwa Ki Ageng Kedhu adalah Makukuhan. Sosok yang beberapa bulan terakhir (September-Oktober 2025) sedang saya cari tahu perihal nyata atau tidaknya. Ngomong-ngomong saya memang berniat melanjutkan penulisan buku bergenre sejarah tentang era 1600–1900-an dan sedang menarget wilayah Kedu Raya (Wonosobo, Temanggung, Magelang, dan beberapa daerah sekitar). Entah memang mas Amir tahu bahwa saya sedang meneliti itu atau kebetulan saja. Mengingat katanya ada tawaran pekerjaan dari temannya yang seorang anggota DPRD Provinsi, lalu buku saya sedang dibacanya membuatnya teringat tentang kegemaran saya ngulik sejarah.
Tapi menulis untuk proyek pemerintah, dari pengalaman saya, adalah barang yang lumayan pelik. Seperti yang sudah saya bayangkan, ke-pelik-an itu nyata. Waktu menulis kurang dari 2 bulan, untuk target buku setebal 200 halaman lebih, spesifik tentang nama itu. Saya nyaris menolaknya lagi, tapi mas Amir setengah memaksa, karena mungkin memang tidak banyak pilihan orang lain untuk diajak mengerjakan proyek mustahil itu. Ternyata itu di bawah Dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Jawa Tengah dan sudah saya tebak, “imbalannya” juga tidak menggembirakan.
Singkat cerita, proses penulisan sudah berjalan dan saya masih berkutat pada sebuah hipotesis. Makukuhan adalah tokoh fiksi. Sekali lagi FIKSI.
Ini pastinya akan melukai banyak orang, terutama para pengagumnya (termasuk mas Amir, hehe) dan orang-orang yang diyakini keturunannya. Sebagai catatan, saya percaya bahwa di suatu masa, di tahun 1600–1800-an mungkin, ada orang dengan deskripsi tertentu, namun ia bukan Makukuhan sebagai entitas seorang manusia. Saya lebih percaya Makukuhan adalah branding, tepatnya posisi di pemerintahan, mungkin di keraton atau pemerintah Hindia Belanda.
Di tahap akhir penulisan, dua pekan sebelum seminar draft buku, saya mendapatkan referensi baru dari 1920-an. Sebuah novel berjudul “Het Graf op den Soembing” atau Makam di Puncak Sumbing karya orang belanda, CW Wormser. Tak dikira tak dinyana, saya dapat banyak sekali “insight” makukuhan di akhir 1800 hingga awal 1900-an. Intinya, literatur tertulis yang mungkin dari perspektif non serat, babad, dan budaya tutur, bahkan dalam bentuk novel. Begitu saya gali lagi, pak Wormser ini menuliskan tentang Makukuhan di beberapa karyanya yang lain seperti Bergenweelde, In de bergen, Drie en dertig jaren op Java, serta buku kumpulan cerpennya Het Hooge Heiligdom dan De heilige gong (1943).
Yang saya garisbawahi dari beberapa karya Wormser adalah kritikannya pada kepercayaan orang jawa di masa itu pada kekuatan Makukuhan. Yang pada intinya kerap mengecewakan mereka atas takdir yang dijalani. Seakan-akan, mereka telah memberi penghormaatan, bahkan mengirim sesaji dan dupa, juga menyebut Makukuhan dalam tiap doa di awal panen. Tapi para petani Jawa itu, umumnya petani tembakau, seakan ditipu oleh cukong-tengkulak Tionghoa yang pada akhirnya menyita harta benda mereka, hingga anak dan istrinya. Tanpa berpanjang lebar, inilah ringkasan saya tentang pemikiran Wormser yang tertuang dalam karya-karyanya. Saya sertakan sedikit biografi serta ulasan novelnya.
Tulisan ini adalah bagian sub-bab dari Bab V yang saya tulis untuk buku berjudul “Ki Ageng Kedhu: Penyemai Benih Peradaban Kedu” yang disusun bersama Amirudin dan Achmad Aristyan, diperkirakan terbit akhir Desember 2025, oleh Disdikbud Prov jateng.
Carel Wilhelm Wormser lahir di Amsterdam pada 1876 (w. 1946). Carel adalah penerbit dan direktur surat kabar harian anti-revolusioner De Standaard. Ia menjabat di dewan kota Amsterdam mewakili Partai Anti-Revolusioner. Di kalangan kelas menengah, ia dikenal sebagai salah satu pemilik toko buku dan penerbit Höveker & Wormser di Kalverstraat. Ia belajar hukum di Vrije Universiteit ketika baru dibuka. Selama masa studinya, bakat menulis yang mengalir dalam keluarganya sangat menonjol dan Charles muda gemar menulis artikel untuk majalah.
Setelah meraih gelar doktor pada tahun 1904, ia memantapkan dirinya sebagai pengacara di Amsterdam. Setahun sebelumnya, ia menikah dengan Alida Hendrika Hillen, dan dikaruniai dua putra, Jan dan Joop. Charles adalah sosok yang atletis dan sangat menyukai pendakian gunung, bahkan sejak kecil, telah menjelajahi pegunungan tinggi Eropa. Maka ketika ia bekerja di Hindia Belanda, karya monumentalnya berkisah tentang gunung-gunung di Java. Meliputi penggambaran fisiknya, keanekaragaman hayati tumbuhannya, struktur dalamnya, hingga kisah mistis dan mitos yang meliputinya.
Ia terinspirasi karya Franz Wilhelm Junghuhn (1809–1864) dan kemudian ia menjelajah pulau Jawa ditemani oleh pemandu dan kuli angkut yang membawa peralatannya, mendaki semua gunung berapi, baik yang sudah “mati” maupun yang belum. Ia berkiprah selama beberapa waktu sebagai tokoh kunci dalam pers harian Hindia Belanda pada tahun 1920-an dan 1930-an. Kariernya moncer sebagai “raja surat kabar” yang berpengaruh dalam sejarah pers Hindia Belanda dan merekam era 1920-an lewat beberapa karyanya.
Beberapa karya Wormser baik fiksi dan non-fiksi Dari 1920 hingga 1946 banyak menceritakan tentang gunung Sumbing dan Makukuhan. Beberapa diantaranya ada di Drie en dertig jaren op Java, Bergenweelde, Het Graf op den Soembing, Uit de desa, In de bergen, dan cerpen Het heilige graf op den Soembing. Bahkan sindiran Wormser soal kondisi sengsara petani tembakau di 1920-an nyatanya masih relevan dengan kondisi 100 tahun kemudian, yakni nasib petani yang tidak kunjung membaik.
“Temanggung menyumbang tembakau berkualitas ke pasar; tembakau tersebut dihargai tinggi; orang Jawa adalah pemilik tanah tempat tembakau tersebut ditanam secara turun-temurun; orang Jawa menggarap tanah tersebut bersama putra-putranya, yang tidak menerima upah, dan bersama teman-temannya, yang tinggal di gubuk-gubuk mereka di lahannya secara cuma-cuma dan menerima sebagian hasil panen sebagai upah atas kerja keras mereka; oleh karena itu, orang Jawa yang menanam tembakau memiliki sedikit biaya operasional. Sekarang, tariklah kesimpulan Anda sendiri — orang Jawa adalah orang yang makmur. Salah. Orang Jawa miskin, melarat, kurang gizi, berpakaian buruk, dan bertempat tinggal buruk. Pemilik tanah tersebut adalah seorang budak di lahannya sendiri.” (Kutipan dari tulisan C. W. Wormser, di Uit de desa. 2023:15.)
RINGKASAN KISAH DALAM NOVEL HET GRAF OP DEN SOEMBING (1920)
Di makam Makukuan (ejaan sesuai novel), diperkenalkan lakon bernama Rono yang tengah dilanda cemas. Seorang petani buta huruf yang rajin bekerja di sawah dan tegalan tempat ia menanam tembakau. Ia telah meminjam uang dari bank di Temanggung, yang tidak ia hamburkan untuk selamatan, juga tidak ia hamburkan untuk candu, tidak ia hamburkan untuk Lengger (gadis penari), atau ia hamburkan untuk dadu (berjudi). Bahkan ia menggunakan uang pinjaman itu untuk membeli benih dan kerbau.
Namun, kemalangan terus mengikutinya sejak saat itu: selain kerbaunya, dua anaknya telah meninggal dunia. Pemakaman mereka hampir tak mampu ia biayai. Lalu tanpa berpikir panjang, Rono menjual hasil panen tembakau terakhirnya kepada seorang pembeli Tionghoa dengan harga jauh di bawah harga pasaran. Walhasil, ia tidak mampu membayar utangnya. dan bank mengajukan tuntutan terhadapnya di hadapan Landraad (Dewan Distrik), yang memberitahunya bahwa pihak bank akan menyita harta bendanya. Di bawah ancaman ini, Rono naik bersama tetua desa untuk memohon bantuan kepada Makukuan.
“Rumah, harta benda, dan barang-barang merupakan bagian dari hidupnya, yang tak terpisahkan bagi keberadaannya. Jika Allah telah menetapkannya demikian, ia akan menerima hal yang tak terelakkan, tetapi ia pasti tidak akan selamat dari kehancuran, melainkan mati dengan hancurnya harta keluarga.”
Dalam keadaan kalut, ia terlanjur mengikuti nasihat yang buruk. Rono meminjam sejumlah besar uang dengan menggunakan panen tembakau yang akan datang sebagai jaminan dari rentenir Cina yang licik bernama Sam Sing. tanpa memahami isi dari surat yang disodorkan, ia menandatangani perjanjian notaris dengan cap jempol dan tanda salib.
Dengan uang itu, ia melunasi utangnya kepada bank. Kini, merasa bebas dari kekhawatiran dan yakin bahwa ini adalah berkah dari Makukuan, ia berniat berziarah dan berterima kasih kepada orang suci itu.
Tak lama kemudian dua orang Eropa muncul di desa, berniat mendaki Gunung Sumbing: “Yang satu mengenakan setelan khaki dengan rompi dan topi tentara. Ia adalah juru tulis yang sebelumnya telah menyita properti Rono. Yang satunya lagi, mengenakan jaket berburu berwarna gelap, celana berkuda, kaus kaki olahraga, sepatu berpaku, mengenakan topi helm. Ia adalah ketua dewan distrik.
Dalam hatinya, Ini adalah kesempatan bagi Rono untuk menawarkan diri sebagai kuli angkut — “Upah satu gulden sehari dan tiga hari makanan gratis, itu tidak mudah didapatkan,” pikirnya.
Rono membawa persembahan (sajen) kemenyan dan beras ke makam. Lalu tak lama kemudian, ia turun bersama rombongan: “Dengan semangat yang membara, nazar terpenuhi,” ia bersenandung saat turun. Beban yang dipikulnya terasa ringan.”
Get Erwin Abdillah’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Namun, kenyataan pahit kemudian menghantamnya: Sam Sing menuntut pengembalian uang darinya, dengan alasan bahwa hasil panen tembakau yang sebelumnya diberikan kepadanya tidak semahal yang ia kira. Lalu Rono menawarkan untuk memberikan putrinya yang berusia empat belas tahun, Aminah, sebagai ganti utangnya. Rono merasa tertipu oleh pria Tionghoa itu, yang telah menggunakan perjanjian notaris sebagai bukti, menuduhnya di hadapan Landraad, melalui juru tulis, tidak punya pilihan selain menyita kembali harta Rono. Sang juru tulis berdialog dengannya di Landraad:
“Berapa total tembakau yang Anda kirim ke orang Cina?”
“Saya tidak ingat,” jawab Rono.
“Tapi Anda sangat ceroboh karena tidak mengingat dengan tepat jumlah kiriman Anda,” tegur petugas itu.
“Ini salah saya, Pak,” Rono dengan pasrah mengakui kesalahannya.
“Dan berapa harga yang seharusnya Anda terima untuk satu pikul (62 kg)?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Tapi bukankah orang Cina itu memberi tahu Anda harga saat mereka menaksir tembakau Anda?”
“Tidak, Pak,” jawab Rono, semakin malu.
“Bagaimana Anda bisa sebodoh itu?” seru petugas itu dengan geram.
“Saya memang orang bodoh, Pak. Saya percaya pada orang Cina,” kata Rono, semakin putus asa.
“Pernahkah Anda mendengar praktik beberapa pembeli Cina?” tanya petugas itu dengan heran. “Saya tidak pernah berurusan dengan orang Tionghoa, Pak.”
“Tapi tentu saja orang-orang desa anda juga begitu, kan?”
“Saya hanya petani yang sangat bodoh, Pak.”
Panitera lalu menyarankannya untuk berkonsultasi dengan ketua Landraad, yang mungkin tahu solusinya dan pasti akan membantunya. Namun Rono tidak ingin terlibat masalah lebih lanjut, dan menganggap orang-orang terhormat itu sebagai orang bodoh. Lagi pula, ia tahu ia tidak melakukan kesalahan apa pun dan karena itu yakin tidak akan terjadi apa-apa padanya. Lagipula, bukankah Kiai Makukuan melindunginya?
Kemudian ia menerima kabar bahwa rumah, properti, dan tanahnya akan dijual di depan umum. Putus asa, ia mengambil tindakan hukum sendiri dan bersama seorang warga desa yang juga membenci babah Sam Sing. Karena istrinya telah menjadi nyai (selir) dari pria Tionghoa itu atas suatu transaksi pula. Mereka membunuh Sam Sing di malam hari; mayatnya dibuang. Nahas, kejahatannya terungkap dan Rono ditangkap. Ia muncul di hadapan Landraad, yang akan menjatuhkan hukuman mati dengan cara digantung, meskipun hakim ketua, seperti yang diduga, akan menggunakan kekuasaannya, dengan segala hal yang ia ketahui tentang apa yang mendahului pembunuhan tersebut, untuk menyelamatkan nyawa Rono.
Dengan bantuan teman-temannya, Rono berhasil melarikan diri. Ia menolak tawaran mereka agar mereka melarikan diri bersama ke Deli (Sumatera Utara) dan direkrut di sana sebagai kuli perkebunan, karena merasa terlalu terikat dengan tanah kelahiran dan keluarganya. Ia kembali ke desanya, tetapi diperingatkan oleh putrinya bahwa polisi sedang menunggunya di sana. Melihat tidak ada jalan keluar dan merasa dikhianati oleh Makukuan, ia mendaki gunung untuk ketiga kalinya, dalam keadaan gelap mata (amarah membabi buta), di mana ia sekarat di tumpukan batu yang menutupi makamnya.
“Bulan muncul dari balik awan dan menerangi dasar kawah. Sinar pucat menyelimuti semuanya. Dan cahaya redup itu seperti kain kafan, pria yang terlentang tak berdaya di atas makam orang suci itu, terisak-isak, sekarat memohon belas kasihan. Kata-kata terakhirnya lenyap, menguap dalam kesunyian yang pekat, ketika ia mengerang, terengah-engah: ‘Pangapunten’ (berikanlah aku ampunan).
Ulasan dari MASALAH yang diangkat dalam Novel
“Het graf op den Soembing” adalah novel yang ditulis dengan baik, bahkan masih sangat layak baca bahkan lebih dari seratus tahun setelah diterbitkan. Kekuatan kisahnya berasal dari tema utama, yang beresonansi dengan realitas masa itu. Yakni pengaruh destruktif para rentenir Tionghoa terhadap kelangsungan ekonomi petani sederhana di Jawa, dalam novel itu di kawasan Temanggung. Berbagai observasi tentang kehidupan sehari-hari penduduk desa Jawa yang tercatat dalam novel ini juga tak lekang oleh waktu. Penulis memiliki pengindraan yang tajam dalam menelaah apa yang ia lihat dan dengar di desa-desa pegunungan. Penulis bahkan memotret satu sketsa peristiwa berupa pesta pernikahan yang dirayakan di Katjepit (hari ini Cepit) dengan pertunjukan tari lengger:
“Ia menari dengan sangat anggun. Ia terlihat menari dengan sangat rendah hati. Ia meletakkan kaki kirinya dengan lembut, jari-jari kaki menghadap ke bawah. Ia memutar pinggulnya. Ia menggoyangkan tangan kanannya di pergelangan tangannya, hampir tanpa menggerakkan lengannya. Kemudian ia menyanyikan sebuah melodi monoton dengan suara sengau yang melengking, yang diiringi oleh para penabuh gamelan tanpa ekspresi, menatap lurus ke depan. Orang-orang berkerumun di depan galeri menyaksikan dengan kagum.
Ya, tandak (gadis penari lengger) itu menari dengan baik. Korset berhiasnya memeluk pinggulnya yang bulat, kainnya terlipat indah menutupi kakinya yang mungil dan telanjang. Di lengannya yang telanjang ia mengenakan banyak cincin perak. Di jari-jarinya terdapat cincin perak dan tembaga dengan batu-batu (akik) besar yang berkilau. Rambut hitamnya terlihat berminyak, dipilin menjadi kondé, dihiasi bunga-bunga kertas. Gairah (muda) terpancar di mata para pemuda yang menontonnya. “
Wormser juga familiar dengan kisah-kisah lisan tentang Kiai Makukuhan, yang ia sebut sebagai utusan syiar (keimanan) dan perannya sebagai wali sang sahabat umat manusia. Dengan pengetahuan tersebut, ia membayangkan bagaimana sang wali, yang telah wafat di masa lampau, menemukan tempat peristirahatan terakhirnya di Sumbing. Ekspresi seorang penulis yang terpukau tentang gambaran peristiwa itu dapat ditemukan di bagian awal novel:
Tahun-tahun berlalu dalam keabadian, dan sang wali agung, yang suci, sang dermawan meninggal dunia. Kiai Makukuan dipersatukan dengan leluhurnya. Tak ada tanah kuburan baginya di pekuburan desa! Dan lihatlah, raga akan mengikuti jiwa menuju derajat yang tinggi. Penduduk desa mengambil jenazah dan membungkusnya dengan kain putih, dan mereka membawa tandu jenazah, yang ditutupi sarung dan dihiasi bunga, secara bergantian memanggulnya di pundak, mendaki lereng Sumbing.
Di depan, berjalan para lelaki bersenjata parang, menebang dan memotong, menebang dan menebas. Mereka mendaki dengan susah payah di sepanjang lereng gunung, di sepanjang punggung bukit yang, dengan jurang di kiri dan kanannya, semakin curam, menghubungkan lembah dengan puncak. Mereka meninggalkan desa ketika katak-katak mulai menguak, dan beristirahat di malam hari yang dinginnya seperti es. Mereka meringkuk di balik kain mereka, berjongkok di sekitar api, mengawasi para pengantar jenazah. Dan ketika burung belibis berkokok serak saat fajar, mereka masih memanggul beban berharga mereka di pundak dan memanjat, terus memanjat.
Ketika para pelayat mencapai puncak Sumbing, Wormser menggambarkan peristiwa sebagai berikut:
“Tetua adat (kaum) desa menunjukkan tempat abadi mereka di kediaman roh gunung. Cinta menuntun langkah mereka. Mereka mengangkat tandu. Mereka turun ke kawah yang masih aktif. Mereka membakar kaki mereka di tanah berpasir yang panas. Namun lega, mereka mencapai tujuan mereka. Di tempat yang dirasa aman, mereka menggali kuburan, tempat mereka membaringkan jenazah Kiai Makukuan. Mereka menimbun lubang itu. Dan mendirikan tumpukan batu besar. Menandai Makam suci di Sumbing.”
***
Referensi:
C. W. Wormser. Het graf op den Soembing (Novel), J. H. Kok Te Kampen. 1930
Gerard Termorshuizen Rechter en alpinist De Javaanse bergdesa in C.W. Wormsers literaire oeuvre. De Indische Navorscher Jaarboek 35. Indische Genealogische Vereniging’s-Gravenhage. 2024.







