Sitemap
6 min readOct 1, 2026

--

She Was Never Crazy

Press enter or click to view image in full size
She was only trying to feel safe in a world she was still learning to understand.

Ada seorang perempuan yang belajar tentang rasa takut jauh lebih cepat dari yang seharusnya.

Sejak kecil, ia sudah mengenal kehilangan.

Ia kehilangan seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang, bahkan sebelum ia benar-benar mengerti apa arti kehilangan itu sendiri.

Lalu ia tumbuh.

Dan ternyata, kehilangan itu bukan satu-satunya hal yang harus ia pelajari.

Ada rumah yang tidak selalu terasa seperti rumah.

Ada perlakuan yang membuatnya belajar berhati-hati.

Ada kata-kata yang tinggal lebih lama daripada seharusnya.

Ada batas-batas yang pernah dilanggar.

Ada pengalaman ketika ia masih terlalu kecil untuk benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.

Dan ketika ia semakin dewasa, hidup kembali mempertemukannya dengan hal-hal yang membuat rasa aman itu semakin sulit ditemukan.

Ada hubungan yang membuatnya percaya, lalu kepercayaan itu dikhianati.

Ada pengalaman yang kembali membuat tubuhnya merasa tidak aman.

Ada hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan secara lengkap kepada siapa pun.

Bukan karena ia ingin menyembunyikan hidupnya.

Tapi karena tidak semua luka harus diceritakan sampai detail agar seseorang percaya bahwa luka itu pernah ada.

Dari luar, ia mungkin terlihat seperti perempuan biasa.

Ia bisa tertawa.

Bisa bercanda.

Bisa pergi bersama teman-temannya.

Bisa bekerja.

Bisa membuat rencana untuk masa depan.

Sometimes, she looked completely fine.

Tapi ada bagian dalam dirinya yang selalu berjaga-jaga.

Kadang tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.

Jantungnya tiba-tiba berdebar.

Napasnya terasa berbeda.

Pikirannya penuh.

Sesuatu yang bagi orang lain mungkin terlihat sederhana bisa membuatnya merasa sangat takut.

Dan terkadang ia bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Ia hanya tahu.

Aku takut.

Ia takut sesuatu akan terjadi lagi.

Takut kehilangan.

Takut ditinggalkan.

Takut disakiti.

Takut mendengar perkataan buruk dari orang lain.

Takut salah mengambil keputusan.

Takut bahwa hidupnya tidak akan menjadi seperti yang ia bayangkan.

Dan mungkin yang paling melelahkan adalah ketakutan bahwa suatu hari ia akan kembali berada di tempat yang membuatnya merasa tidak aman.

Pernah ada masa ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri.

“Kenapa aku begini?”

“Kenapa aku gampang panik?”

“Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain?”

Dan karena beberapa orang pernah melihatnya sebagai seseorang yang terlalu takut, terlalu sensitif, terlalu banyak berpikir, ia mulai takut terhadap satu hal lagi.

Takut dianggap gila.

Bahkan sebelum ia benar-benar mencari pertolongan, ia sudah takut bahwa pergi ke psikiater berarti mengakui bahwa dirinya memang gila.

Jadi untuk sementara, ia mencoba menghadapi semuanya sendiri.

Malam-malam yang sulit.

Pikiran yang tidak berhenti.

Tubuh yang lelah tetapi sulit tenang.

Ia bahkan pernah mencoba mencari cara sendiri agar bisa tidur, termasuk menggunakan obat yang sebenarnya tidak diberikan sesuai arahan dokter.

Bukan karena ia ingin menyakiti dirinya.

Bukan karena ia merasa itu hal yang benar.

Ia hanya sedang sangat takut dan ingin semuanya berhenti sebentar.

Ia ingin tidur.

Ingin tenang.

Ingin punya beberapa jam tanpa rasa takut yang terus mengejarnya.

Dan mungkin, saat itu, ia belum tahu bahwa yang sebenarnya ia butuhkan bukan sekedar tidur.

Ia membutuhkan seseorang yang bisa membantunya memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Akhirnya, meskipun takut, ia pergi mencari bantuan.

Bukan karena rasa takutnya tiba-tiba hilang.

Bukan karena ia mendadak menjadi berani.

Justru karena ia masih takut.

Tapi ia mulai berpikir.

“Mungkin aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”

Dan perlahan ia belajar bahwa pergi ke psikiater bukan berarti ia gila.

Meminta bantuan bukan berarti ia lemah.

Mencari seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya bukan sesuatu yang memalukan.

It was simply a human being asking for help.

Dan mungkin, itu adalah salah satu bentuk keberanian yang paling besar yang pernah ia lakukan.

Ada banyak hal yang tidak ia pilih.

Ia tidak memilih kehilangan yang datang terlalu dini.

Ia tidak memilih bagaimana sebuah rumah membuatnya merasa.

Ia tidak memilih pengalaman-pengalaman yang membuat batas dirinya terasa tidak aman.

Ia tidak memilih dikhianati oleh seseorang yang pernah ia percaya.

Ia tidak memilih pengalaman-pengalaman lain yang datang kemudian dan membuat luka lama terasa seperti terbuka kembali.

Dan ia juga tidak memilih PTSD.

Tidak ada seorang perempuan yang bangun pada suatu pagi lalu berkata.

“Hari ini aku ingin takut.”

Tidak ada yang memilih untuk panik.

Tidak ada yang memilih untuk menangis ketika tubuhnya merasa terancam.

Tidak ada yang memilih untuk mengingat sesuatu yang ingin dilupakan.

Fear was never the choice.

Yang bisa ia pilih adalah bagaimana ia perlahan belajar hidup bersamanya.

Kadang, ketika panik datang, ia menangis sampai sedikit lega.

Setelah itu ia mencoba berbicara kepada dirinya sendiri.

“Anak baik, gapapa.”

“Kamu aman.”

“Kamu di sini.”

“Ini akan lewat.”

Dan ketika semuanya mulai tenang, ia mencoba menjalani harinya lagi.

Pelan-pelan.

Satu langkah kecil.

Satu keputusan kecil.

Satu keberanian kecil.

Get macaaa’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Karena ia akhirnya mengerti bahwa berani bukan berarti tidak takut.

Berani adalah ketika seseorang takut, tetapi tetap mencoba.

Berani adalah ketika ia mengatakan apa yang ia rasakan meskipun takut ditentang.

Berani adalah ketika ia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

Berani adalah ketika ia pergi dari sesuatu yang sudah terlalu melelahkan.

Berani adalah ketika ia berkata.

“Aku belum tahu hasilnya akan seperti apa, tapi setidaknya aku sudah mencoba.”

Dan mungkin, di dalam dirinya masih ada seorang anak perempuan kecil.

Anak yang pernah kehilangan terlalu cepat.

Anak yang pernah berada di situasi yang belum bisa ia pahami.

Anak yang mungkin hanya ingin seseorang berkata.

“Kamu aman.”

Sekarang, perempuan dewasa itu sedang belajar menjadi orang yang mengatakan kalimat itu kepadanya.

Bukan untuk menghapus masa lalu.

Bukan untuk berpura-pura bahwa semuanya tidak pernah terjadi.

Tetapi untuk mengatakan.

“Aku tahu kamu takut.”

“Aku tahu kamu tidak memilih semua ini.”

“Dan kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.”

“Aku di sini sekarang.”

Healing doesn’t always mean forgetting.

Kadang healing berarti belajar bahwa sesuatu memang pernah terjadi, tetapi sesuatu itu tidak harus memiliki seluruh masa depan kita.

Belajar bahwa ia bisa memiliki trauma dan tetap mempunyai kehidupan yang indah.

Bisa sensitif dan tetap kuat.

Bisa menangis dan tetap berani.

Bisa takut dan tetap berjalan.

Bisa meminta bantuan dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Dan yang paling penting.

Ia tetap pantas dicintai.

Pantas diterima.

Pantas didengarkan.

Pantas dipercaya.

Pantas merasa nyaman.

Pantas merasa aman.

Mungkin orang lain hanya melihat reaksinya.

Mereka melihat ketika ia panik.

Melihat ketika ia menangis.

Melihat ketika ia takut.

Dan mungkin, pada suatu waktu, ada yang menyebutnya gila.

Tapi mereka tidak melihat keseluruhan perjalanan yang membawanya sampai ke sana.

They saw the reaction.

They didn’t see the years behind it.

Jadi untuk perempuan yang pernah dianggap terlalu sensitif, terlalu takut, terlalu banyak, atau bahkan dianggap gila.

You were never crazy.

Kamu hanya pernah mengalami hal-hal yang membuatmu belajar takut.

Dan itu bukan pilihanmu.

Kamu tidak harus membuka seluruh luka untuk membuktikan bahwa rasa sakitmu nyata.

Kamu tidak harus menceritakan setiap kejadian kepada semua orang.

Beberapa bagian hidup boleh tetap menjadi milikmu.

Yang penting, kamu tahu.

Apa yang terjadi kepadamu tidak mengurangi nilai dirimu.

Kamu berhak berada di tempat yang membuatmu aman.

Berhak punya orang-orang yang mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Berhak berkata tidak.

Berhak pergi ketika sesuatu membuatmu tidak nyaman.

Berhak mendapatkan pertolongan.

Berhak dicintai tanpa harus menjadi sempurna.

Berhak memiliki kehidupan yang tidak terus-menerus diatur oleh rasa takut.

Dan kalau suatu hari ketakutan itu kembali datang, kamu tidak perlu membenci dirimu sendiri.

Tarik napas.

Menangislah kalau memang perlu.

Cari seseorang yang kamu percaya.

Minta bantuan kalau kamu membutuhkannya.

Lalu ketika sudah sedikit lebih tenang, katakan kepada dirimu.

“Aku memang takut.”

“Tapi aku akan mencoba.”

“Aku belum tahu apa yang akan terjadi.”

“Tapi aku percaya aku bisa melewatinya.”

Hidup mungkin tidak akan selalu cerah.

Kadang ada mendung.

Kadang gerimis.

Kadang hujan datang tiba-tiba.

Kadang hujan begitu deras sampai kita bertanya-tanya kapan semuanya akan berhenti.

Tapi cuaca selalu berubah.

Dan mungkin, begitu juga hidup.

Tidak semua hari harus cerah untuk menjadi kehidupan yang baik.

Masih ada orang-orang baik.

Masih ada doa yang datang dari tempat yang tidak kita tahu.

Masih ada tangan yang mau membantu.

Masih ada tawa.

Masih ada pagi.

Masih ada hal-hal kecil yang layak disyukuri.

Dan masih ada masa depan yang belum kita kenal.

Jadi mungkin, perempuan itu tidak perlu menjadi seseorang yang tidak pernah takut.

Ia hanya perlu belajar bahwa rasa takut tidak berhak menentukan seluruh hidupnya.

Ia bisa membawa masa lalunya tanpa harus tinggal di dalamnya.

Ia bisa mengingat tanpa harus kembali ke sana.

Ia bisa terluka dan tetap dicintai.

Ia bisa takut dan tetap aman.

Ia bisa menjadi perempuan yang pernah mengalami banyak hal, tetapi tetap memilih untuk percaya bahwa dunia masih menyimpan kebaikan.

Dan kepada anak perempuan kecil yang pernah ada di dalam dirinya, mungkin sekarang ia akhirnya bisa berkata.

“Maaf kalau dulu kamu harus takut sendirian.”

“Terima kasih karena kamu tetap bertahan.”

“Sekarang kita sudah di sini.”

“Aku akan menjagamu.”

“Kita tidak harus berhenti hidup hanya karena pernah terluka.”

She was never crazy.

She was a girl who was hurt, a woman who is healing, and a human being who still deserves to feel safe, loved, accepted, and at peace.

--

--

macaaa
macaaa

Written by macaaa

just a girl collecting little stories, soft thoughts, and pieces of life along the way.