Ketika Harga Kopi Naik: Cerita tentang Konflik Global dan Cara Mahasiswa Bertahan
Beberapa waktu terakhir, ada hal kecil yang mulai terasa beda. Harga kopi langganan naik, ongkir makanan jadi lebih mahal, dan bensin rasanya lebih cepat habis. Awalnya kelihatan seperti kebetulan biasa, tapi lama-lama muncul pertanyaan: kenapa semuanya naik barengan?
Ternyata, jawabannya nggak sesederhana itu. Perubahan ini berkaitan dengan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita sehari-hari, yaitu konflik Iran–AS. Walaupun terdengar seperti isu global yang besar dan jauh, dampaknya ternyata sampai ke hal-hal kecil yang kita rasakan sebagai mahasiswa.
Dalam konteks ekonomi, konflik seperti ini bisa disebut sebagai global economic shock. Salah satu dampak utamanya adalah kenaikan harga minyak dunia (oil price). Ketika konflik terjadi di wilayah yang menjadi pusat produksi minyak, distribusi menjadi terganggu dan jumlah supply berkurang. Dalam konsep demand & supply, ketika supply turun sementara demand relatif tetap, harga akan naik. Dan karena minyak adalah komoditas penting, kenaikan ini tidak berhenti di sektor energi saja.
Harga minyak yang naik langsung memengaruhi berbagai sektor karena hampir semua aktivitas ekonomi bergantung pada energi dan distribusi. Di sinilah konsep cost structure mulai terasa. Cost structure adalah susunan biaya yang dimiliki oleh sebuah bisnis, dan ketika harga minyak naik, banyak komponen biaya ikut terdorong naik — mulai dari ongkos kirim, biaya produksi, hingga distribusi barang.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan biasanya dihadapkan pada dua pilihan: menahan harga dengan risiko keuntungan menurun, atau menaikkan harga dan membebankan biaya tersebut ke konsumen. Dalam praktiknya, banyak perusahaan memilih opsi kedua. Dampaknya mulai terasa dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa secara umum, atau yang kita kenal sebagai inflasi.
Masalahnya, sebagai mahasiswa, pendapatan kita cenderung tetap. Ketika harga naik tapi income tidak berubah, yang terjadi adalah penurunan purchasing power atau daya beli. Dengan jumlah uang yang sama, kita tidak bisa membeli sebanyak sebelumnya. Hal ini mungkin terlihat sederhana, tapi dampaknya cukup signifikan terhadap cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Perubahan daya beli ini kemudian memengaruhi consumer behavior, yaitu cara kita mengambil keputusan dalam membeli dan menggunakan barang atau jasa. Tanpa disadari, banyak dari kita mulai mengubah kebiasaan konsumsi. Misalnya dalam hal makanan, yang sebelumnya sering nongkrong di café atau membeli makanan yang lebih mahal, kini mulai beralih ke pilihan yang lebih terjangkau seperti warteg atau bahkan memasak sendiri. Ini adalah contoh dari substitution effect, di mana konsumen mengganti barang yang lebih mahal dengan alternatif yang lebih murah.
Get SALZA BELLA KEYZA AURORA’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Di saat yang sama, kita juga mengalami income effect. Karena daya beli menurun, kita secara keseluruhan mengurangi konsumsi atau lebih selektif dalam membelanjakan uang. Hal ini tidak hanya terjadi pada makanan, tetapi juga pada aspek lain seperti transportasi dan gaya hidup.
Dalam hal mobilitas, misalnya, kenaikan harga bahan bakar berdampak langsung pada tarif transportasi. Banyak mahasiswa mulai mengurangi penggunaan ojek online, lebih memilih transportasi umum, atau bahkan mencari cara untuk berbagi perjalanan dengan teman. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan tertentu cukup sensitif terhadap perubahan harga, atau dalam istilah ekonomi disebut memiliki price elasticity of demand yang tinggi.
Perubahan juga terlihat dalam gaya hidup. Aktivitas nongkrong yang sebelumnya menjadi rutinitas kini mulai dikurangi. Mahasiswa menjadi lebih selektif dalam memilih tempat dan frekuensi berkumpul. Nongkrong tidak lagi sekadar kebiasaan, tetapi menjadi sesuatu yang dipertimbangkan. Ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk gaya hidup termasuk dalam kategori non-esensial yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.
Menariknya, konsumsi digital seperti langganan streaming atau musik tidak mengalami penurunan drastis. Namun, tetap ada penyesuaian. Banyak mahasiswa mulai berbagi akun, memilih paket yang lebih murah, atau mengurangi jumlah layanan yang digunakan. Ini menunjukkan bahwa meskipun kebutuhan hiburan tetap ada, cara mengaksesnya menjadi lebih efisien.
Dari semua perubahan ini, terlihat bahwa mahasiswa sebenarnya sedang melakukan proses adaptasi. Keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari bukan hanya soal preferensi pribadi, tetapi juga respons terhadap perubahan kondisi ekonomi. Tanpa disadari, konsep-konsep seperti demand & supply, price elasticity, income effect, dan substitution effect benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa, terutama yang nantinya ingin terjun ke dunia bisnis, memahami perubahan ini menjadi sangat penting. Perubahan dalam perilaku konsumen sebenarnya membuka peluang baru. Ketika daya beli menurun, konsumen akan mencari produk yang lebih terjangkau namun tetap memberikan nilai. Ini berarti bisnis yang mampu menawarkan value for money dan efisiensi biaya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Selain itu, kondisi global yang tidak pasti (uncertainty) menuntut pelaku bisnis untuk lebih adaptif. Memahami bagaimana pasar bereaksi terhadap perubahan harga dan pendapatan menjadi kunci dalam mengambil keputusan yang tepat. Mahasiswa yang sudah terbiasa melihat fenomena ini dari sudut pandang ekonomi akan memiliki keunggulan tersendiri di masa depan.
Pada akhirnya, konflik Iran–AS mungkin terasa jauh dari kehidupan kita. Namun, dampaknya nyata dan bisa dirasakan dalam keputusan sehari-hari, mulai dari membeli makanan, memilih transportasi, hingga menentukan gaya hidup. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi bukan hanya teori di dalam kelas, tetapi sesuatu yang hidup dan terus bergerak di sekitar kita.
Dan mungkin, dari hal sesederhana mempertimbangkan untuk membeli kopi hari ini, kita sebenarnya sedang belajar menjadi lebih rasional dalam menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian.





