Sitemap
Silmy Nurvianty

Silmy Nurvianty

Juliana, Sedang Apa di sana?

4 min readNov 2, 2022

DAILYMOTION |

Press enter or click to view image in full size
Captured by me.

Kuarter terakhir di tahun ini mungkin akan menjadi hari-hari paling ramai dari sekian banyak hari yang pernah aku huni. Oktober tidak selalu hujan meski beberapa kali di kala langit mau, petir turut hadir dan aku semakin tak suka ke mana-mana.

Dua bulan lebih menjadi penghuni indekos aku mulai mengerti mengapa sebagian orang selalu mengeluh bahwa hidup sendiri memang memerlukan seni. Seni mengatur keuangan misalnya, atau seni memilih warteg mana yang paling serasi dengan dompet dan lidah, seni menahan rindu, atau seni menahan diri supaya tidak sedikit-sedikit checkout sh*pee … yang jelas seni mempertahankan isi dompet tetap menjadi yang maha sulit meski aku belajar dan setengah mati mencoba berdamai dengan studi Ekonomi.

Jujur saja, Jatinangor memiliki segalanya meski tak pernah bisa apa-apa ketika kepalaku mulai ramai. Banyak manusia mulai mengenalku dan aku selalu sulit mengingat nama mereka, fyuuh … my bad.

Aku belajar menjadi manusia sibuk akhir-akhir ini. Pagi mengikuti kelas, siang menjelang sore duduk memelototi layar laptop, mengerjakan tugas, virtual meeting sebentar, menyambung deadline, makan seblak, membuat esai, scroll gawai sebentar, merampungkan jurnal, kemudian mengeluh di Twitter, eksekusi resep, makan lagi, tak jarang ketiduran, repeat….

Tetapi syukur, ya. Dalam perjalanan bertumbuh kali ini, aku juga belajar supaya tidak menjadi gulma di hidup dan mimpi orang lain. Ada banyak pertimbangan yang aku lakukan sebelum merepotkan orang lain, kecuali pada Syahira. Manusia satu itu menjadi satu-satunya karibku yang mengikutiku di Twitter, kami setuju bahwa Twitter merupakan wadah paling muat untuk menampung muntahan isi kepala dan humor kami yang poek (read: dark).

Seperti pada cuitanku waktu itu:

“Ini aku gak ada tampang-tampang anak Eksyar apa, kok asprak aku skeptis?” (sent)

“Lu tampang-tampang sekuler, sih.” Syahira replied.

Dan kita tahu bahwa manusia kadang-kadang memang harus memiliki partner seperti ini supaya dalam menjalani hari, kita masih bisa menemukan alasan untuk mengumpat.

Meski demikian, bila Syahira tidak ada, aku akan lebih sulit menjadi manusia yang manusia. Hampir 80% keputusan yang aku tentukan dalam hidup, pasti melibatkan dirinya. Syahira itu mungkin kadang umpat-able dan datar sekali. Tetapi hanya dia yang menyepamku di WhatsApp dengan ribuan meme ketika suasana hatiku sedang mendung/bergemuruh/hujan badag disertai halilintar, dan sebangsanya.

Get Silmy Nurvianty’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Hiperbola, Pemirsa.

Tetapi yang jelas, itu hanya hal sederhana mengenai dirinya. Yang aku tahu, manusia satu itu tak pernah ke mana-mana di saat aku bahkan sedang tidak ingin menjadi diri sendiri.

Mata kuliah pagi ini membahas esensi dari Konsep Kebahagiaan. Bahagia itu sebenarnya apa, sih? Aku tidak perlu definisi dari internet sebetulnya, mereka tidak menyediakan definisi yang benar-benar filosofis. Aku pikir, tidak ada cara mutlak yang bisa kita jadikan tolok ukur untuk menarasikan esensi bahagia. Kebahagiaan itu hal kompleks yang sifatnya nisbi. Aku tidak bisa menyamakan bahagia versiku dengan orang lain karena jelas perspektif setiap orang terhadap standarisasi kebahagiaan tidaklah sama. Tetapi mungkin saja ada jawabannya. Dosenku berkata, “Kita bisa menemukan kebahagiaan dan ketenangan di dunia ini bila setiap hari kita berusaha dekat dengan Sang Pencipta. Dengan cara apa? Sederhana, Dzikrullah!"

Ketuk palu. Begitu saja.

Semenjak pertengahan bulan ini aku menjalani peran baru sebagai seorang intern di sebuah startup yang bergerak di bidang Edu-Tech. Entah ada dorongan hati dan suratan takdir dari mana, tetapi sejak mendaftar aku merasa yakin sekali. Padahal aku pikir manusia ini hanya bisa ngang-ngong tidak jelas, tetapi semoga saja seniorku tak merasa direpotkan meski kelihatannya memang iya. Mungkin pada awalnya aku sempat skeptis karena begitu awam mengenai semua ini, tetapi mungkin ini adalah saat-saat pembuktian. Mari kita lihat manusia ini bisa apa, Pemirsa.

Semenjak memasuki dunia kampus aku mati-matian membangun kepercayaan diri, menata potensi, dan sebangsanya. Aku pikir aku juga harus bisa menggali banyak hal yang eksistensinya belum pernah senyala ini di hidupku. Aku tertinggal jauh sekali selama satu tahun terakhir. “Hidup tuh bukan lomba lari, Sil. Just stay on your phase, don’t be so rush! Start dan finish orang-orang nggak sama, kan?” Ini isi kepalaku seandainya overthinking bukan hal nomor wahid yang selalu tak sengaja aku lakukan 24/7. Betul, hanya sekadar frasa.

Seperti kata Tsana, segala sesuatu tidak selalu berakhir sama seperti saat kita berangkat, don’t hope too much!

Aku tidak naif dengan sok berusaha memanipulasi hidup dengan cara berjalan menyimpang dari porosnya. Aku hanya menyadari bahwa setiap hal yang terjadi, meski terdengar rancu sekali, pasti datang dengan alasan. Entah mungkin ini adalah wujud doa yang pernah aku bubungkan pada langit saat sedang terseok-seok dahulu, pun jika iya, aku tahu Tuhan memang Maha Mendengar.

Satu-satunya hal yang tidak aku sukai adalah perihal keakuanku. Manusia ini kerap kali menginginkan validasi padahal sebenarnya untuk merasa dihargai, aku lebih suka berada pada ikatan yang apa adanya, di mana orang-orang berkenan berteman denganku bukan karena mereka ingin mengambil peruntungan karena aku ada gunanya, tetapi karena mereka sadar aku layak dibersamai. Muluk sekali, ya? Aku selalu suka menjadi baik tapi semesta selalu senang mencari gara-gara yang iya-iya. Menjadi baik kadang tidak selalu menyenangkan apalagi jika berhadapan dengan manusia yang senangnya merepotkan. Tetapi sayangnya hidup tidak selalu menuruti apa yang kita mau, maka telan saja.

Beberapa waktu lalu aku sedang memperjuangkan sesuatu, dan mungkin kamu tak perlu tahu. Aku menyimpan banyak sekali pengharapan untuk yang satu ini, tetapi biarlah. Aku terbiasa berada pada jalan yang tidak mudah dan seharusnya ini bukan apa-apa. Aku selalu menulis kalimat ini setiap kali membahas mengenai perjuangan,

“Kamu tak perlu meminta maaf untuk sebuah kegagalan dari sesuatu yang sudah kamu usahakan dengan keras.”

Ini selalu menjadi kalimat favoritku. Tetapi mungkin karena sudah terlalu sering gagal, esensi kalimat sebijak apa pun saat ini hanya berlalu di depan mata saja, tidak bisa apa-apa bahkan untuk sekadar memeluk yang sudah sering terluka. Dan benar sekali, mari telan saja.

Writing is so therapeutic apalagi jika aku sedang tidak ke mana-mana. It’s pouring outside, I’m in my mood to do all my thingy right now. Have a good day ahead, Peeps! Thank you for coming….

Dirampungkan di Jatinangor, 02 November 2022.

--

--