Orang-orang Yang Diam Di Perpustakaan
Aku suka perpustakaan, terutama suasananya ketika semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang membaca buku dengan serius, mengetik di laptop, atau sesekali berhenti untuk memikirkan sesuatu. Sesekali terdengar suara halaman yang dibalik, langkah kaki, atau kursi yang bergeser pelan. Selebihnya, ruangan itu dipenuhi kesunyian.
Aku sering bertanya-tanya, apa yang sedang dipikirkan orang-orang di sana. Mungkin seseorang sedang mempersiapkan masa depan. Mungkin yang lain sedang mencoba memahami sesuatu yang sudah lama membuatnya penasaran. Bisa juga ada yang datang tanpa tujuan khusus, hanya ingin menghabiskan beberapa jam di tempat yang memungkinkan pikirannya bekerja tanpa banyak gangguan.
Tentu saja, aku tidak akan pernah tahu.
Get Dina Herdianam’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Yang menarik, aku tidak merasa perlu mengetahuinya. Ada kenyamanan tersendiri dalam berada di antara orang-orang yang tidak kukenal, tanpa harus mencari tahu siapa mereka atau apa yang membawa mereka ke tempat itu. Kami duduk berdekatan, tetapi masing-masing berada di dalam pikirannya sendiri.
Aku membayangkan betapa beragamnya dunia yang sedang berlangsung di ruangan itu. Tubuh kami berada di tempat yang sama, sementara pikiran kami mungkin sedang menjelajahi tempat-tempat yang sama sekali berbeda.
Seseorang bisa berada dihalaman tentang galaksi, sementara orang disebelahnya sedang memikirkan persoalan yang harus diselesaikan besok pagi. Aku sendiri mungkin sedang membaca beberapa halaman, lalu berhenti karena justru memikirkan sesuatu di luar buku yang kubuka.
Tidak ada yang benar-benar bisa dilihat dari luar. Mungkin itu sebabnya aku menyukai tempat ini. Ada semacam kebebasan dalam kesunyian yang tidak menuntut kita untuk menjelaskan diri sendiri.
Kita boleh datang, duduk, berpikir, lalu pergi. Tidak harus meninggalkan kesan, tidak harus menjadi siapa-siapa bagi orang lain. Setelah dipikir-pikir, perpustakaan adalah tempat yang menarik untuk mengamati manusia. Bukan dari cara mereka berbicara atau memperkenalkan diri, melainkan dari kesediaan mereka untuk duduk diam bersama pikirannya sendiri.
Dan di tengah semua itu, aku bisa melakukan hal yang sama. Membuka buku, membaca beberapa halaman, sesekali melamun, lalu kembali membaca. Tidak selalu ada sesuatu yang perlu ditemukan dari sebuah kunjungan. Kadang-kadang, berada di suatu tempat dan menikmati keberadaan kita di sana sudah cukup menjadi alasan untuk datang kembali.



