Kesuksesan Itu Bias
Waktu kecil, kita diajarkan bahwa sukses punya bentuk yang jelas. Nilai bagus. Kuliah bagus. Kerja mapan. Gaji besar. Rumah. Jabatan. Menikah. Punya pencapaian yang bisa dipamerkan saat reuni keluarga.
Semua terasa seperti checklist universal. Seolah kalau kita mengikuti jalurnya dengan benar, kita otomatis akan sampai di titik bernama “sukses”. Tapi semakin dewasa, aku mulai sadar kesuksesan ternyata bukan sesuatu yang netral. Ia bias.
Bias terhadap mereka yang lahir dengan akses lebih besar. Bias terhadap pekerjaan tertentu. Bias terhadap kepribadian tertentu. Bahkan bias terhadap cara hidup tertentu.
Kita memuji orang yang bekerja 14 jam sehari, tapi sering meremehkan orang yang memilih hidup lebih tenang. Kita mengagumi jabatan tinggi, tapi jarang menganggap pengasuh, seniman, atau orang yang bertahan hidup di tengah kesulitan sebagai sosok sukses.
Padahal tidak semua orang memulai hidup dari garis start yang sama.
Ada orang yang bisa fokus membangun karier karena hidupnya relatif stabil. Ada juga yang energinya habis hanya untuk bertahan dari masalah keluarga, kesehatan mental, tekanan ekonomi, atau kehilangan arah hidup. Tapi anehnya, masyarakat sering menilai keduanya dengan standar yang sama. Seolah semua orang diberi peta dan kendaraan yang identik.
Get Dina Herdianam’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Media sosial memperparah ilusi itu. Kita terus-menerus melihat versi paling mengilap dari hidup orang lain: promosi kerja, bisnis berkembang, pencapaian, liburan, pencitraan produktif. Jarang ada yang menunjukkan kecemasan, burnout, rasa hampa, atau ketakutan yang datang diam-diam setelah semua target tercapai.
Akhirnya banyak orang merasa tertinggal, padahal mereka hanya sedang menjalani hidup dengan ritme yang berbeda.
Ada fase dalam hidup ketika bangun pagi saja sudah sulit. Ada masa ketika bertahan agar tidak menyerah adalah kemenangan besar. Tapi karena itu tidak terlihat “mengagumkan”, kita menganggap diri sendiri gagal. Mungkin itu masalahnya. Kita terlalu lama memakai definisi sukses milik orang lain.
Padahal bagi sebagian orang, sukses adalah punya kebebasan waktu. Bagi yang lain, sukses adalah bisa hidup tanpa kecemasan terus-menerus. Ada yang merasa sukses ketika bisa membiayai keluarga. Ada yang merasa sukses ketika akhirnya mengenal dirinya sendiri setelah bertahun-tahun hidup mengikuti ekspektasi orang lain.
Dan semua itu valid.
Kesuksesan tidak pernah benar-benar objektif. Ia dibentuk oleh budaya, privilege, lingkungan, trauma, algoritma media sosial, bahkan ego kolektif tentang siapa yang “layak” dikagumi.
Mungkin karena itu, mengejar sukses tanpa pernah mempertanyakan definisinya bisa sangat melelahkan. Karena bagaimana kalau ternyata kita sedang berlari menuju kehidupan yang sebenarnya tidak kita inginkan?
Semakin bertambah umur, aku tidak lagi terlalu tertarik pada kesuksesan yang terlihat besar dari luar. Aku lebih tertarik pada hidup yang terasa utuh saat dijalani. Hidup yang masih menyisakan ruang untuk bernapas. Ruang untuk tenang. Ruang untuk menjadi manusia, bukan mesin pencapaian.
Dan mungkin, itu juga bentuk sukses.



