Bersahabat dengan Hujan dan Banjir
Sedikit gambaran tentang Jakarta ketika hujan
Jakarta kota panas yang kerap membuat penghuninya berkeluh akan hawa panas seakan membakar tubuh, berubah menjadi kota yang mendung. Tak ada matahari yang menyengat dilapisan kulit, langit cerah tertutup oleh awan mendung bercampur dengan polusi menciptakan awan kehitaman.
Hujan memang tidak selalu datang tergantung musimnya seperti tamu tak diundang ia datang pergi sesuka hati tidak mengenal waktu pagi, siang, sore, malam bahkan 24 jam nonstop.
Macet sudah pasti terjadi disini dan bukan hal baru lagi, bahkan orang yang tidak pernah mampir ke kota ini pun tahu akan hal itu. Sama seperti hujan macet di Jakarta tak kenal waktu, karena memang penghuninya juga beraktivitas diwaktu bersamaan. Para pengendara berusaha sampai tujuan dengan cepat, tapi karena banyaknya orang yang beraktivitas diwaktu yang sama membuat mereka mengantri sepanjang jalanan yang mereka lalui terutama di titik yang selalu macet.
Ketika hujan kemacetan makin menjadi, pengendara mesti bertempur dengan air hujan yang menguyur tubuh dan air yang memenuhi jalanan yang mereka tempuh. Ketika hujan, hiruk pikuk di sini cukup berbeda, barisan kendaraan beroda dua yang terjebak macet menjadi berwarna-warni karena mereka mengenakan jas hujan yang menutup tubuh agar tidak terkena air hujan.
Biasanya ketika hujan tingkat kemalasan seseorang untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya meningkat, seperti berangkat kerja atau sekolah. Bangun pagi disambut hujan dan rasa dingin mengundang rasa kantuk yang menjadi-jadi, ingin rasanya kembali menyelimuti diri dengan selimut dan mulai melanjutkan mimpi yang terhenti karena bunyi alarm.
Get Maria Ceria’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Hujan disertai angin menusuk ketubuh membuat semua orang kedinginan, jaket yang biasanya dikenakan untuk terhindar dari matahari kita dikenakan untuk menghangatkan badan. Hujan di pagi hari membuat orang malas melakukan aktivitas, terutama bagi karyawan yang harus bekerja.
Mempertimbangkan untuk tidak bekerja tentu saja ada niat, tapi sering kali keputusan itu pupus ketika notifikasi pesan dari atasan muncul yang berbunyi “Hari ini masuk semua, ada meeting penting”. Keputusan itu berubah menjadi angan, tidak ada pilihan lain selain masuk kerja menerjang hujan dan banjir. Sepertinya atasan paham dengan psikologis karyawannya ketika hujan melanda Jakarta, atau mungkin dia mengalami hal yang sama dengan karyawan-karyawannya.
Transjakarta adalah pilihan bagus dalam kondisi seperti ini selain karena harganya murah dan nyaman, tinggal duduk santai tanpa terkena hujan biarkan pengemudi yang berjuang melawan banjir. Seringnya Transjakarta memang padat karena banyak yang memilihnya untuk urusan mobilisasi, tidak mendapat tempat duduk adalah suatu hal yang pasti terutama kaum muda.
Tidak hanya pengendara roda dua, dampak hujan juga berlaku bagi mereka yang menggunakan transportasi umum seperti transjakarta. Ketika sampai di halte tujuan mereka berteduh sebentar menunggu hujan reda sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Dalam kondisi hujan, transjakarta berubah menjadi mesin pendingin seperti kulkas, ac mobil yang dingin ditambah dengan suhu dingin dari luar karena hujan bergabung jadi satu menciptakan sensasi dingin yang begitu menusuk, sangat dianjurkan untuk mengenakan jaket atau sweeter.
Saat hujan jakarta sangat memungkinkan untuk menjadi kota yang dipenuhi air alias banjir, orang yang rumahnya berada dalam gang tentulah harus melewati genangan air tersebut yang dipenuhi banyak sampah mengambang ketika ingin beraktivitas diluar rumah. Air hujan yang bersih berubah menjadi warna kecoklatan bahkan gelap karena sudah bercampur dengan limbah rumah tangga yang menumpuk di selokan.
Buruknya sistem pengolahan sampah menjadi masalah besar di kota ini yang menyebabkan terjadinya banjir, sampah-sampah banyak menumpuk di selokan, badan jalan, di laut bahkan sekitar rumah warga. Kebiasaan membuang sampah sembarangan adalah salah satu pemicunya, cukup banyak masyarakat yang tidak memahami pentingnya membuang sampah ditempatnya. Banjir mungkin akan sedikit berkurang ketika pemerintah dan masyarakat sama-sama sadar tentang pentingnya pengolahan sampah yang baik. Perubahan tercipta jika ada aksi kolektif antara pemerintah dan masyarakat.
Ketika hujan banyak kejadian terjadi di Jakarta, tapi tulisan ini hanya berisikan sedikit apa yang saya lihat dan amati ketika hujan mengguyur kota ini. Jakarta, kota yang sibuk orang-orang berusaha memperjuangkan hidup hari demi hari. Mungkin teman-teman merasakan hal lain ketika hujan?
Boleh share di kolom respons, atau
Bagaimana hujan di kotamu?







