Sitemap
storywinda

storywinda

i love coffee

===

1 min readSep 13, 2025

Selalu memulai langkah untuk membuka tirai, semangat, ego dan putus asa sedang memancar di depan sana.

Tidak kah aku seperti sekumpulan manusia munafik di luar sana? memasang topeng dalam banyak muka, setelah nya berbaring dalam gelapnya malam yang terasa tak pernah lekang.

Waktu terus berjalan, jarak yang terus menjauh jika tidak di kejar dan umur yang semakin di pangkas. Lalu bagaimana aku yang selalu terjebak dalam gelapnya malam? bintang bintang di langit terus pamit undur diri, hanya tersisa aku yang menyendiri.

Adakah yang menganggap kecewa sebagai hiburan semata? lelucon hidup yang selalu saja mengganggu.

Get storywinda’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Tidak ada arti dalam tulisanku saat ini, rasanya aku ingin terus menulis sampai waktu memakanku yang sedang menunggu sembuh. Tinta tinta panjang dalam ayunan tangan terus bergerak tanpa arah, menuangkan ide yang buruk bahkan berpikir sampai ini terbujur kaku.

Aku tak paham mengapa dunia seringkali menitipkan kecewa. Adakalanya aku mengerti namun di lain waktu aku tak bisa membendung benci.

Katakan padaku kenapa aku harus berjuang lagi untuk kesekian kalinya.

Bicaralah padaku dan katakan sesuatu untuk menenangkanku. Waktu tak bisa menghapus ini semua, karena aku tak mau.

Datanglah padaku, ucapkan kalimat untukku dan peluklah aku.

– Inspired by Our Unwritten Seoul

--

--