Tentang Bakat yang Tidak Tumbuh Sendirian
Episode #2 Oleh Mata, Olah Rasa
“Ability or talent is itself the product of an investment of time and cultural capital.” — Pierre Bourdieu, The Forms of Capital (1983)”
Menari bukan hal asing bagiku.
Sejak kecil, aku sudah mengenal dunia tari melalui berbagai bentuknya. Mulai dari tari balet, tradisional, hingga modern. Kegiatan ini menemani perjalanan aku di pendidikan dari sekolah dasar sampai menengah atas. Ada sesuatu dari menari yang selalu menarik perhatianku. Setiap kali kulihat orang menari, tubuh ini rasanya terdorong untuk ikut bergerak. Mendengar irama musik, mengamati gestur, lalu membayangkan diriku bisa melakukan hal yang sama.
Namun, jika ditanya apa yang pertama kali membuatku tertarik menari, aku tidak punya jawaban pastinya. Aku tidak ingat kapan tepatnya ketertarikan itu muncul atau apa yang mendorongku memutuskan untuk menekuninya. Yang kuingat pasti justru perasaan yang membuatku bertahan hingga hari ini, yaitu keinginan untuk selalu menari.
Kesadaran ini muncul ketika aku meneliti komunitas Ratoh Jaroe Brawijaya untuk skripsiku. Komunitas yang mana aku sendiri tergabung sebagai anggota, bernaung sebagai penari. Penelitian ini membawaku melihat kembali dunia yang selama ini kujalani dari sudut pandang yang berbeda. Aku tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menguasai gerakan atau menyelaraskan tubuh dengan irama. Aku mulai mempertanyakan apa yang membuat seseorang mau terus menari? Mengapa mereka memilih bertahan? Bagaimana ketertarikan yang mulanya bersifat personal dapat berkembang menjadi keterlibatan dalam sebuah komunitas?
Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika aku mengingat bagaimana kami menjalani latihan.
Selama tiga hingga empat jam setiap malam selepas agenda kuliah, kami menyisihkan waktu untuk berlatih. Gerakan demi gerakan diulang untuk menyempurnakan tarian yang dapat berlangsung sekitar 17 menit tanpa jeda. Kami duduk berbaris dengan kaki terlipat ke belakang. Telapak tangan berulang kali menepuk tangan sendiri, paha, dan lantai mengikuti pola gerakan yang harus dilakukan secara serempak. Setiap perubahan gerak dan formasi menuntut ketepatan sekaligus ketahanan fisik.
Luka dan lebam di tangan maupun kaki menjadi pemandangan umum bagi kami. Tubuh harus terus beradaptasi dengan gerakan yang sama, bahkan ketika rasa lelah mulai terasa. Di tengah tuntutan itu, kurasa pilihan untuk menari bukan lagi sebatas persoalan menyukai sebuah tarian. Ada pengorbanan akan waktu, tenaga, kedisiplinan, dan biaya yang perlu dicurahkan untuk mempertahankan keterampilan tersebut. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah
Apa yang membuat seseorang bersedia menjalani semua itu?
Dalam penelitianku, pertanyaan ini membawaku menelusuri pengalaman para penari sejak mereka pertama kali mengenal seni tari hingga akhirnya bergabung ke Ratoh Jaroe Brawijaya. Aku eksplorasi bagaimana alasan mereka terhadap menari terbentuk, berkembang, dan bertahan di tengah perjalanan hidup mereka.
Untuk memahaminya, aku menggunakan sumbangan pemikiran dari Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis yang menjelaskan praktik sosial melalui hubungan antara habitus, kapital, dan arena. Ketiga konsep ini membantuku melihat bahwa ketertarikan seseorang tidak tumbuh dalam ruang kosong. Lingkungan sosial tempat kita tumbuh menyimpan susunan pengalaman yang bantu membingkai cara kita melihat dunia. Sepanjang prosesnya, kita bisa menemukan hal-hal yang menarik minat kita, lalu memutuskan untuk menekuninya berdasarkan bagaimana kita memandang kemampuan dan kemungkinan diri untuk terus berkembang.
Mereka sebut itu bakat
Ketika mengingat kembali masa sekolah para penari yang kuteliti, aku menemukan bahwa ketertarikan mereka terhadap seni tari bermula melalui jalan yang beragam. Ada yang tertarik setelah melihat kegiatan ekstrakurikuler, ada yang diajak oleh teman sebaya, dan ada pula yang dipilih oleh guru untuk mengikuti pertunjukan sekolah. Dukungan keluarga juga mengambil peran penting. Orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sanggar atau les tari telah membuka kesempatan bagi mereka untuk mengenal dan mengembangkan keterampilan tersebut.
Mulanya, menari bukan menjadi kegiatan yang mereka niatkan untuk ditekuni secara serius. Tari merupakan salah satu pilihan di antara berbagai kegiatan non-akademis selama bersekolah. Namun, kesempatan untuk terus berlatih membuat mereka semakin akrab dengan gerakan, teknik, dan aturan yang berlaku dalam praktik menari.
Pengalaman berulang ini perlahan membentuk sebuah kebiasaan. Apa yang awalnya terasa asing menjadi familiar. Gerakan yang semula butuh perhatian penuh lambat laun dapat dilakukan dengan refleks. Dari sana, tumbuh pemahaman akan kemampuan tubuh sendiri beserta keyakinan bahwa menari adalah sesuatu yang bisa mereka lakukan dengan baik.
Dalam pemikiran Bourdieu, proses ini berkaitan dengan habitus. Suatu kecenderungan yang terbentuk melalui pengalaman sosial dan kemudian memengaruhi cara seseorang mempersepsikan suatu konteks dan bertindak dalam kehidupan. Habitus bukan sesuatu yang muncul begitu saja sejak lahir. Ia berkembang melalui proses pembiasaan yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Disinilah aku mulai mempertanyakan anggapan bahwa bakat sepenuhnya merupakan sesuatu yang alamiah. Kita memang dapat memiliki ketertarikan tertentu, namun kesempatan untuk mengenal juga mempelajari suatu keterampilan ikut menentukan apakah ketertarikan itu berkembang. Anak yang diberi kesempatan mengikuti latihan tari memiliki pengalaman yang berbeda dari anak yang tidak pernah mendapat akses serupa. Keduanya bisa jadi memiliki ketertarikan yang sama, tetapi lingkungan dapat membuka atau membatasi kemungkinan yang mereka miliki.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa kemampuan yang hari ini terlihat seperti bakat alami sebenarnya menyimpan proses pembelajaran panjang yang tidak lagi kita sadari.
Menari sendiri dapat dipahami sebagai bentuk kapital budaya yang melekat pada tubuh atau embodied cultural capital. Kapital budaya merupakan sumber daya berupa pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang dapat memberikan nilai bagi seseorang dalam kehidupan sosial. Dalam bentuknya yang terwujud melalui tubuh, keterampilan menari tidak diperoleh secara instan, melainkan berlangsung dari pengulangan yang membutuhkan dedikasi waktu dan keterlibatan aktif dari orang yang mempelajarinya.
Pengalaman itu menetap dalam tubuh. Ingatan yang menghubungkan tubuh dengan gerakan tari kemudian mengajarkan kita cara mengendalikan tenaga, menjaga ketepatan, membaca irama, dan menyesuaikan diri dengan penari lain. Konsep abstrak yang tersimpan dalam pengetahuan di kepala berkembang menjadi terwujud dalam cara tubuh bergerak dan merespons situasi.
Perlahan, keterampilan menari memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia mulai mengenali kemampuan yang dimiliki dan memahami jenis preferensi tarian untuk membuat keputusan terhadap bentuk keterlibatan yang ingin dijalani. Namun, sebagai produk dari pengalaman sosial, tentu saja pilihan seseorang dalam menari turut mendapat pengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Dalam penelitianku, beberapa penari berpendapat bahwa keputusan memilih tari Ratoh Jaroe disebabkan oleh unsur-unsur simbolik Islam yang diyakini sesuai dengan nilai yang mereka anut.
Salah satu penari menceritakan bahwa ia harus mencari bentuk tari lain setelah pengalaman sebelumnya menuntutnya melepas atribut keagamaannya, yaitu hijab. Kondisi ini bertentangan dengan keinginan orangtuanya.
“Soalnya pas aku nari sebelumnya (tari tradisi) itu kan memang aku lepas hijab kan, sedangkan itu bertentangan banget sama orangtuaku. Jadi aku yaudah mau gamau harus nyari yang sesuai passionku, tapi nggak bertentangan juga dengan orangtuaku.” — X (nama disamarkan)
Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana ketertarikan personal dapat bernegosiasi dengan nilai yang hidup dalam keluarga. Keinginan untuk menari tetap ada, tetapi bentuknya perlu disesuaikan dengan nilai sosial yang menyertainya. Tari Ratoh Jaroe kemudian menjadi ruang yang memungkinkan penari mempertahankan minat serta bakat menari tanpa harus mengabaikan nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya.
Menemukan tempat untuk mempertahankan suka
Pengalaman masa kecil dan masa sekolah menjadi bekal utama yang dibawa penari ketika beranjak ke perguruan tinggi. Sebagian dari mereka merasa ‘sayang’ jika keterampilan yang telah dipelajari bertahun-tahun dibiarkan begitu saja tidak diasah.
“Sayang kalau nggak dilanjutin.”
“Aku punya kemampuan di sini, kenapa nggak aku asah aja?”
Get fayya’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Sederhana nampaknya, akan tetapi pernyataan ini memperlihatkan adanya keseadaran bahwa keterampilan yang telah dimiliki layak untuk terus dikembangkan. Menari mengalami pergeseran fungsi dari yang semula kegiatan untuk mengisi kekosongan semasa sekolah menjadi pengalaman yang ingin mereka pertahankan di kuliah.
Namun, mempertahankan minat tidak semudah meniatkannya. Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi menuntut perubahan lingkungan dan adaptasi serta tanggung jawab yang serba baru. Di tengah tuntutan tersebut, kehadiran komunitas menjadi wadah yang menampung dan memungkinkan mereka melanjutkan keterampilan yang telah dibangun sebelumnya.
Bergabung dengan Ratoh Jaroe Brawijaya memberi kesempatan untuk kembali menari bersamaan dengan terbukanya akses terhadap pengalaman dan hubungan sosial yang sebelumnya tidak dimiliki. Jika keterampilan menjadi modal awal untuk bergabung, relasi yang terbentuk di dalam komunitas justru menjadi salah satu alasan penari untuk bertahan.
Dalam penelitianku, kapital sosial muncul sebagai sumber daya yang sangat berarti bagi keberlanjutan partisipasi para penari. Melalui interaksi yang berlangsung selama latihan, tereskalasi sampai pementasan, mereka membangun hubungan erat antar penari. Hubungan yang pada awalnya terbentuk karena kepentingan pementasan perlahan berkembang menjadi pertemanan yang terasa lebih personal. Ragam motivasi yang sebelumnya mendasari keikutsertaan penari pada kegiatan komunitas seperti keinginan melanjutkan minat bakat tidak lagi dianggap relevan untuk mempertahankan partisipasi. Sebab pengalaman akan kebersamaan yang dicari dan dinantikan.
Hal ini terlihat dari pernyataan beberapa penari yang mengaku merasa tertinggal apabila tidak hadir mengikuti latihan maupun pementasan karena yang mereka khawatirkan bukan semata-mata tertinggal dalam penguasaan gerakan atau kesempatan untuk tampil. Mereka tidak ingin melewatkan pengalaman bersama teman-temannya. Momen seperti bertemu saat latihan, mengobrol saat istirahat, dan nongkrong selesai latihan, membangun kenangan yang tidak selamanya bisa didapat dari luar komunitas.
Sama seperti mereka yang aku wawancarai, aku pun merasakan perasaan yang sama. Alasan aku bertahan dalam komunitas yang mengharuskan aku untuk terus menari bukan karena aku menanti kegiatan apa yang mempertemukan aku dengan kesempatan tampil, melainkan pada hubungan yang tumbuh, berkembang, dan terawat melalui kegiatan tersebut.
Kami memang berkumpul untuk menari, tetapi pengalaman yang membuat kami ingin kembali sesungguhnya tidak berkaitan dengan tarian itu sendiri.
Relasi sosial yang terbangun dalam komunitas kemudian menjadi sumber daya kolektif, yang memungkinkan penari untuk saling mengandalkan ketika komunitas membutuhkan orang untuk memenuhi kebutuhan pementasan. Pada akhirnya, terbangun hubungan sirkular antara komunitas dan penari. Di satu sisi, komunitas memungkinkan penari membangun relasi personal. Di lain sisi, relasi tersebut secara sukarela menopang keberlangsungan praktik menari. Sehingga, hubungan ini memungkinkan komunitas terus aktif menjalankan kegiatannya.
Bayaran dan Panggung Bukan Tujuan Kami
Selain memperoleh pengalaman dan hubungan sosial, keterlibatan dalam komunitas juga membuka kemungkinan mendapatkan sumber daya lain. Seperti imbalan ekonomi misalnya sekaligus pengakuan atas kemampuan yang dimiliki penari.
Dalam kerangka Bourdieu, sumber daya tersebut dapat dipahami melalui kapital ekonomi dan kapital simbolik. Kapital ekonomi berkaitan dengan sumber daya finansial, sedangkan kapital simbolik berhubungan dengan pengakuan, kehormatan, atau nilai yang dilekatkan orang lain pada seseorang.
Meski demikian, temuan penelitianku menunjukkan bahwa kedua hal tersebut bukan menjadi alasan utama yang membuat penari bersedia berpartisipasi dalam pementasan. Imbalan finansial dianggap sebagai ‘bonus’ dari hasil kerja keras mereka.
Kesempatan untuk tampil menampilkan kemampuan sendiri dan merasakan pencapaian setelah menjalani proses latihan yang panjang menciptakan arti tersendiri bagi penari. Hal ini karena untuk bisa tampil merupakan kepuasan yang sulit dipisahkan dari proses menari itu sendiri. Ada kebanggaan ketika gerakan yang berulang kali dilatih pada akhirnya dapat ditampilkan bersama dengan penari lain. Pengalaman ini semacam menegaskan pengakuan atas usaha yang telah mereka investasikan.
Oleh karena itu, porsi kapital ekonomi dan simbolik lebih tepat dilihat sebagai sumber daya pendukung motivasi mereka. Keduanya berperan memperkuat pengalaman menari tanpa menggeser peran utama pertemanan, rasa suka pada kegiatan menari, maupun kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.
Dengan dinamika motivasi serta alasan kebertahanan yang dimiliki penari, tidak dipungkiri pengalaman menari mereka juga diwarnai oleh beberapa persoalan, terutama dengan aktor-aktor di luar komunitas.
Sebab Ratoh Jaroe Brawijaya sebagai komunitas utuh juga memiliki jejaring dengan aktor lain, aku menemukan bahwa adanya perbedaan pandangan terkait sejumlah aturan dan praktik yang berlaku dalam pelaksanaannya. Batas antara otonomi Ratoh Jaroe Brawijaya dengan aktor bersangkutan menjadi kabur, membuat sebagian besar penari merasa ada hal yang kurang adil dalam pembagian tanggung jawab.
Meski demikian, penari tidak menjadikan perasaan tersebut sebagai penghalang maupun alasan untuk berhenti. Motivasi personal yang telah terbentuk melalui kesukaan terhadap tari, juga hubungan dengan teman-teman dalam komunitas dapat membuat mereka terlibat meskipun tidak sepenuhnya sepakat berada dengan keadaan yang ada.
Minat, kepentingan, sumber daya, dan posisi hidup dalam komunitas. Saling berhadapan. Saling berdampingan. Tentu, dinamika ini hanya sebagian kecil dari kompleksitas hubungan antara komunitas Ratoh Jaroe Brawijaya dengan aktor yang bersangkutan, sehingga aku tidak ingin menarik kesimpulan terlalu jauh mengenai keseluruhan yang terjadi di dalamnya. Namun, pengalaman ini cukup menunjukkan bahwa bertahan dalam komunitas bisa terjadi walau dengan kondisi tidak sepenuhnya setuju dengan segala sesuatu yang berlangsung di dalamnya.
Menyadari Apa Yang Membuatku Bertahan
Setelah meneliti komunitas Ratoh Jaroe Brawijaya yang selama 2 tahun kebelakang telah menjadi bagian dari hidupku, memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidupku, aku semakin memahami bahwa bakat menari adalah produk sosial yang lahir dari interkoneksi unsur kebudayaan dalam masyarakat.
Kemampuan menari tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam lingkungan yang memungkinkan keterampilan itu berkembang, melalui pembiasaan yang diajarkan oleh orang di sekeliling kita. Ada kesempatan yang diberikan oleh keluarga. Ada guru dan teman yang memperkenalkan dunia tari. Ada waktu yang disisihkan untuk berlatih. Ada tubuh yang harus terus belajar. Ada aturan yang mengikat keputusan kita. Serta, ada pula orang-orang yang membuat perjalanan menari terasa layak untuk dilanjutkan bahkan ketika kesibukan dan persoalan membuatnya tidak selalu mudah.
Kesadaran ini membuatku memandang bakat sebagai sesuatu yang istimewa, sebab ada banyak hal yang memungkinkan kemampuan tersebut tumbuh dan bertahan. Terutama karena tidak semua orang memperoleh kesempatan, dukungan, maupun ruang yang sama untuk mengembangkan apa yang mereka sukai.
Dalam konteks masyarakat yang sering menempatkan seni di bawah pencapaian akademis atau pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan, mempertahankan minat terhadap tari bukanlah perkara sederhana. Kami perlu mengorbankan waktu dan tenaga, ditambah menegosiasikan prioritas yang kerap diseimbangkan. Pertimbangan tersebut pada akhirnya memunculkan keyakinan untuk mempertahankan menari agar sesuatu yang kita sukai tidak perlahan hilang di tengah tuntutan kehidupan.
Oleh karenanya, bagiku, untuk bisa terus menari adalah sebuah privilese. Bukan berarti perjalanannya selalu mudah atau bahwa setiap orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penari profesional. Namun, karena aku sadar kesempatan untuk mengenali diriku sendiri, berjuang untuk mengembangkan kemampuan, dan mempertahankannya sampai usia sekarang adalah sesuatu yang patut disyukuri.
—
Penelitian skripsiku membawa aku melihat kembali alasan-alasan yang selama ini kuanggap sederhana. Aku mungkin tidak ingat bagaimana ketertarikanku terhadap tari pertama kali tumbuh, namun kini aku lebih memahami bahwa keinginanku untuk bertahan dalam dunia ini tidak terbentuk sendirian. Ada pengalaman panjang yang membawaku sampai ke titik ini beserta orang-orang yang mendukungku, juga ruang yang terbuka bagiku memberi kesempatan untuk belajar.
Bagiku sendiri, menari telah lama menjadi salah satu cara untuk mengenali diriku sendiri. Menari menjadi sarana untuk memahami cara kerja dunia di sekelilingku. Aku belajar bahwa perkara mencintai terlalu remeh apabila definisinya hanya tentang apa yang mampu kita lakukan. Justru, mengejar kesempatan dan menikmati pengalamannya bantu kita membangun hubungan lebih dekat dengan kapasitas diri kita sendiri.
Mungkin aku tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya bermula. Namun, setelah perjalanan panjang ini aku tahu mengapa aku ingin terus bertahan.
Tidak ada yang tahu apakah kegiatan menari kini menjadi akhir bagi perjalanan bakatku? Atau mungkin ini menjadi awal dari kisah yang lebih hebat?
Apapun itu jawabannya, tetap, menari adalah bagian dari diriku. Dan sejauh apapun hidup membawaku, aku ingin selalu punya ruang untuk kembali kepadanya.
Referensi:
Bourdieu, P. (1986). THE FORMS OF CAPITAL.
dan hasil karya skripsiku “DINAMIKA ARENA BUDAYA RATOH JAROE DI MALANG: MOTIVASI PENARI RATOH JAROE BRAWIJAYA MENGAKUMULASI KAPITAL”







