Sitemap
4 min readDec 18, 2024

--

Ex coworkers who reconnect — at Bopet Mini

Bopet Mini, somewhere in December 2024 at lunchtime

“Bedua aja dulu tapii”

Mungkin berdua dulu yang dimaksud Brian karena Brian baru ketemu Wendy malam itu.

Mungkin karena Wendy sudah berekspektasi percakapan mereka malam itu memang akan membawa ke pertemuan seperti ini.

Mungkin karena dua tahun tidak dibersamai sapaan pergantian segmen pagi yang terkadang diselingi roti kukus hangat dan secangkir kopi atau semata-mata saling menggoda pada rupa-rupa wasted habis berpesta di malam sebelumnya.

Tapi mungkin mereka pikir, ingin ketemu temen lama itu biasa aja.

“Iyadeh gue senin lunch di benhil.”

Maka hari ini sepiring nasi hangat berteman lauk tunjang dan sepiring lainnya dengan lauk rendang akhirnya tersaji bersisian seperti pemesannya yang duduk bersama di satu sudut meja rumah makan padang yang terkenal itu.

“Makin kecil kok makin banyak sih makan lo” ejek Brian sekembalinya mencuci tangan dengan mata bolak balik memandang pesanan mereka dan perempuan di sebelahnya yang lagi menguncir rambut bersiap makan.

“Ga ketemu dua tahun keahlian lo menghina sekarang?” bukan hanya balik bertanya, tatapan balik mata Wendy tajam kepada Brian yang duduknya jadi bergeser karena takut.

“Nanya Weenn elahh, ga ketemu dua tahun juga lo malah jadi makin galak gini”

“Call it character development”

That’s the banter of two long lost colleagues who happened to meet at an event one night, exchanging some talks before parting, and another long conversation just a few hours after.

as if they had never distanced themselves for the last two years, with no contact at all except being each other’s instagram stories constant viewer.

“Apa yang membuat kantor lo memutuskan pindah ke benhil yang udah kepenuhan manusia ini?”

tanya Wendy di tengah-tengah seruput es jeruk perasnya.

“Belum pernah aja ngantor di pusat”

“Bisa jangan ngasal dulu nggak Bri”

Brian cuma tertawa sambil menggeser kotak tissue ke dekat tangan Wendy yang lagi menggapai-gapai.

“Kelapa gading juga udah kepenuhan manusia Wen.. daripada ngungsi ke sunter mending ke daerah yang lebih ber peradaban”

“Jangan mengucilkan sunter gitu dong lo”

Lagi-lagi kekehan lelaki itu terdengar karena terhibur celetukan perempuan di sampingnya, yang mungkin kalau orang-orang di sekitar mereka dengar cukup membingungkan sebelah mana hiburannya.

“Serious answer only please Bri..”

“Ck.. gapapa Wen, kebetulan kontrak gedung di kelapa gading abis bulan depan.. terus gedung yang di benhil emang punya founder kantor gue”

“JIR SI PUNYA GEDUNG TUH DI BENHIL… yang mana sih gedungnya?”

Saut Wendy hirperbola,

“Itu lurusannya snapy, yang ada coffee truck di depannya namanya Getcha Coffee.. punya bos gue juga”

“Hmm… GET. insight.. Getcha Coffee… agak kurang kreatif ya bos lo”

“Kualat lo sama orang tua”

“Emang udah se aki-aki apa Bri?”

“Kaga aki-aki juga sih Wennn”

Get sahoyvomann’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Terus mereka tertawa begitu aja diselingi cerita nostalgia lain yang belum terbahas pada percakapan maya sebelumnya.

And it feels just like the old days.

Sebenarnya sejak mata Brian menangkap kehadiran Wendy di dalam rumah makan itu, rupa Wendy di kepalanya berganti-ganti setting seperti foto-foto pada kamera mainan anak kecil yang ditekan shutternya.

Wendy di depan parkiran kantor lamanya, Wendy di depan Circle K, Wendy di balik kaca pembatas ruang siaran, bahkan ada adegan Wendy di sebrang jalan keluar dari stasiun MRT.

Masih dalam euforia nostalgia, Wendy tiba-tiba sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Brian juga jadi sibuk membuka ponsel dan menyadari jam makan siangnya sudah lewat tiga puluh menit dengan sisa waktu yang sama menuju meeting dengan klien selanjutnya hari itu.

“Eh Wen gue udah harus cabut ke tebet nih, lo mau gue anter balik ddr ga?”

Belum mendegar Wendy menjawab, ujung matanya tertarik pada satu pop up notifikasi di ponsel Wendy yang terbuka di atas meja waktu perempuan itu masih sibuk dengan tasnya

Mike : Wens sorry ganggu cuti, need ur help

“Eh gausah gue MRT aja, mau jalan dikit bakar kalori nasi padang hehe”

Jawab Wendy akhirnya setelah ternyata tadi sibuk mencari e-money.

“Oh…” Brian merespon seadanya meski seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya.

Waktu akhirnya mereka keluar dari tempat makan, Brian masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang membuat dua puluh detik langkah kaki keluar itu terasa bermenit-menit.

Kalo wendy cuti ngapain dia repot-repot nyamperin gue kesini,

Wendy lagi cuti mau nyamperin gue kesini, gue malah telat, terus cuma berakhir makan gak sampe satu jam, terus anaknya sekarang cabut sendiri,

“Wen…”

“Kenapa Bri”

“Lo tuh.. hari ini cuti ya?”

Wendy yang lagi buka ponsel pun jadi menghadap Brian.

“Eh…”

“Sorry Wen, tadi kebaca notif whatsapp dari Mike”

Wendy cuma nyengir dan akhirnya menjelaskan,

“Hehe.. iya gue lagi cuti sebenernya Bri sampe besok”

“Sorry gue kira lo ke kantor makanya ngajakin ketemu sekarang…”

“No worries lah.. udah lama juga kan kita ga ketemu.. ini juga kan gatau ketemu lagi kapan meskipun kantornya deketan”

“Takut lo cuti ada kepentingan lain aja sih Wen…”

“Ah kan lo tau dari dulu gue kalo cuti jarang penting”

Dari dulu.

Brian baru sadar selama makan siang tadi mereka cuma cerita soal dulu. Brian sesungguhnya mau tau cerita selain dulu.

“Besok lo masih cuti kan Wen?”

“He’eh kenapa Bri?”

Brian mau dengar cerita dua tahun setelah dulu.

“Malem jalan lagi mau gak Wen?”

Press enter or click to view image in full size

--

--

sahoyvomann
sahoyvomann

Written by sahoyvomann

I mostly read something I can't really write about, and mostly write something I want to read