Ex Coworkers who reconnect - from the silent treatment
“Dah ya Kaak aku cabut dulu kalo beneran kamu gamau ikut. Log hari ini aku submit tar malem”
dan Wendy menenteng tasnya sambil berjalan melalui Sandra yang geleng-geleng.
Sandra membaca bubble pesan terakhir Wendy dengan helaan nafas yang cukup berat sampai Jo yang asyik dengan playlist langsung noleh.
“Kenapa lu mba”
“Mpok lo noh, kasmaran lagi”
“Sama siapa? Mickey mouse?”
“Sama bang toyib, dah ah lanjutin gue mau pulang”
Sandra berdiri dari tempat duduk untuk mengambil tas dan tumbler minumnya meninggalkan Jo yang mengedikkan bahu dan masang headphone lagi meski cuma di telinga kiri.
Wendy baru sampai di lobby Pacific Place waktu bubble notifikasi chat dari Brian muncul.
“Gue di Paul ya.”
Langkah Wendy menjadi pelan membacanya. Seolah perjalanannya menuju tempat mereka akan bertemu yang paling tidak memakan waktu 5 menit itu, menjadi jeda untuk kepalanya berpikir dan mengelola gerak gerik yang akan ditunjukannya kepada Brian. Meskipun ini kali ke sekian yang mereka lakukan sukarela sejak bertemu di acara malam itu.
Salah satu yang menahan laju kecepatan kaki Wendy melangkah adalah memori ketika dirinya menerima kabar Brian resign, HANYA empat hari sebelum perpisahan.
Dan yang membuat kabar itu terdengar lebih buruk, Brian bukanlah pembawa kabar yang Wendy harapkan.
D-4 Brian’s Farewell, 2021
“Kenapa resign, Yan?”
tanya Wendy waktu dirinya dan Brian menjadi satu-satunya yang tertinggal di studio selepas meeting para DJ di akhir hari menjelang malam.
Menjadi kali pertama bagi mereka berada di satu tempat dan waktu yang sama dalam durasi yang lama setelah berminggu-minggu tidak sempat bertegur sapa lebih dari 3 detik dalam ketidak sengajaan di parkiran atau di lobby.
“Oh… lo udah denger ya”
Get sahoyvomann’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Brian menjawab dengan nada rendah yang tidak familiar.
“Semua orang udah denger kecuali gue sih kayanya”
Brian kembali duduk di kursinya ketika Wendy mulai menatap dengan mata yang nggak mau Brian artikan apa-apa saking lekatnya.
“New experience lah Wen, good offer won’t come twice”
“What triggers the urge to have new experience, Yan?”
“Good offer, Wen.. the tangible part can’t be declined”
“Gaada yg lain? Pure good money?”
Gaada yang mau lo ceritain ke gue kah Yan? Yang notice lo udah submit bulan lalu? Yang company lo besok adalah konsultan? Apa yang bikin radio gak menarik lagi buat lo? Kenapa tiba-tiba deket sama Ginan?
Batin Wendy penasaran.
“Pure good money”
jawab Brian tanpa menoleh sedikitpun ke arah Wendy.
Yang membuat semua pertanyaan tertahan Wendy nggak jadi dikeluarkan.
Terus kalo pure good money aja tapi gue juga gak diceritain selama ini gue tuh apa sih Yan, gak lo anggap temen kah?
Lagi-lagi pertanyaan Wendy tertahan di tenggorokannya.
Wendy nggak mau diam terlalu lama di ruangan itu. Daripada air matanya turun tak terbendung lebih baik dia segera pergi.
“Cool, good luck with the new job then..”
Belum sempat Wendy mendengar apapun jawaban Brian, pintu ruangan ditutupnya dengan siluet Brian yang beranjak dari kursi dari ujung matanya. Entah apa yang mau Brian kejar.
Wendy udah gak mau peduli lagi.








