Sitemap
2 min readDec 8, 2024

--

Kemesraan-kemesraan nihil.

Agaknya menurut Ojan terlalu berlebihan kalau istilah itu jadi sebutan kegiatan yang melibatkan dua baris gundukan tanah subur, terik matahari jam 1 siang, dan sepasang tangan yang bergerak kikuk menanam potongan umbi kesukaan Bapak-bapak ronda tiap malam.

Setiap usapan peluh di pelipisnya meninggalkan jejak tanah kecil yang bikin mukanya cemong.

Rambut gadis itu dikepang dua. Pipinya merah kalau kepanasan. Udah ada masing-masing dua coretan di pelipis kanan kirinya dari jari-jarinya yang berbalut tanah.

Dan anehnya Ojan memandangi itu dari ujung lain gundukan tanah yang sedang ditanami ubi oleh si cantik. Kadang mata mereka bertemu pandang, yang cuma bisa direspon dengan cengiran lebar masing-masing si tokoh cerita.

Situasi jadi semakin kacau waktu titik tanam ubi mereka ketemu di tengah-tengah, yang Ojan sukarela berikan kepada Yasmin untuk diambil alih karena matanya penuh binar kaya bilang

Get sahoyvomann’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

“Gue aja pleeasee”

Lalu lamunan Ojan kembali kepada plafon kamarnya yang sudah menggelap. Dentingan di tiang listrik terdengar satu kali, ini sudah pagi untuk Ojan mikirin masa lalu kaya tadi.

Kalau pertanyaan Tommy soal kemajuan-kemajuan tadi ada jawabannya, Ojan juga nggak akan sekedar nyautin pake ketersinggungan.

Apa yang dia dan Yasmin punya itu umurnya cuma dua bulan kurang. Dua bulan kurang yang sehari-hari diisi matahari terbenam di tepi sawah, cilok tiga ribuan, dan lari pagi keliling desa sambil cari sarapan nasi kuning.

Dan dua bulan kurangnya sudah selesai. Meskipun rasa-rasa ingin bawa Yasmin nonton sunset di dataran tinggi kota Bandung sambil makan telur gulung malah semakin menjadi-jadi.

“Ah monyeeeetttt”

Press enter or click to view image in full size

--

--

sahoyvomann
sahoyvomann

Written by sahoyvomann

I mostly read something I can't really write about, and mostly write something I want to read